spot_img
BerandaJelajahDulu Diverifikasi, Kini Diviralkan

Dulu Diverifikasi, Kini Diviralkan

Di titik ini, publik seperti berada di pasar malam informasi: lampu terang, suara bising, semua berteriak paling benar. Kita berjalan dari satu kabar ke kabar lain dengan kepala pusing, tangan sibuk menggulir, hati mudah tersulut. Kebenaran tidak lagi dicari, ia hanya dipilih sesuai selera.

LESINDO.COM – Berbicara tentang jurnalistik, sejatinya kita sedang membicarakan disiplin ingatan: bagaimana peristiwa dicatat, dipilah, dan disampaikan agar publik tidak tersesat oleh gegap gempita zaman. Dari lembaran koran yang dulu berbau tinta hingga layar ponsel yang kini tak pernah tidur, jurnalistik selalu berjalan di antara kecepatan dan kehati-hatian—dua hal yang jarang akur.

Pernah ada masa ketika media cetak berdiri seperti bangunan kokoh: berat, mahal, tetapi dipercaya. Koran tidak sekadar menyampaikan kabar, ia menata ritme hari. Orang menunggu pagi bukan hanya untuk matahari, tetapi untuk berita. Media seperti Kompas bahkan mencetak jarak jauh—mendorong mesin hingga ke wilayah timur—agar pembaca tidak “ketinggalan hari”. Informasi tidak boleh terlambat, sebab keterlambatan adalah dosa besar dalam dunia yang masih percaya bahwa kebenaran butuh waktu, bukan kecepatan semata.

Di sisi lain, Jawa Pos memilih jalan berbeda. Ia membelah dirinya menjadi banyak wajah: Radar A, Radar B, Radar C—seolah mengatakan bahwa Indonesia terlalu luas untuk diberitakan dari satu meja redaksi saja. Tahun 1999, ketika reformasi masih hangat dan euforia kebebasan mengembang seperti balon pesta, media tumbuh bak jamur selepas hujan. Setiap kota ingin punya koran. Setiap daerah merasa layak bersuara. Jurnalisme kala itu bukan hanya industri, melainkan perayaan.

Namun sejarah selalu punya kebiasaan pahit: ia menggeser puncak menjadi jurang tanpa banyak aba-aba.

Hari ini, media cetak berdiri seperti monumen—masih dihormati, tetapi jarang disambangi. Oplah menyusut, iklan pindah rumah, dan mesin cetak lebih sering mengeluh daripada bekerja. Media daring datang dengan janji efisiensi: tanpa kertas, tanpa tinta, tanpa menunggu esok hari. Berita lahir, tumbuh, dan mati dalam hitungan menit. Kecepatan menjadi agama baru. Breaking news lebih penting daripada deep reporting. Klik lebih sakral daripada verifikasi.

Lalu datanglah fase yang lebih liar: media sosial. Di sinilah jurnalistik mengalami demokratisasi paling ekstrem—atau mungkin anarki paling rapi. Setiap orang dengan ponsel merasa layak menjadi wartawan. Satu foto buram, satu video goyah, satu narasi emosional—cukup untuk menyulut amarah publik. Tidak perlu cek fakta, tidak perlu konfirmasi. Etika jurnalistik dianggap barang antik, hanya cocok dipajang di museum redaksi yang mulai sepi.

Ironisnya, masyarakat sering lebih percaya pada pesan berantai ketimbang laporan investigasi. “Katanya”, “dari grup sebelah”, “teman saya bilang”—kalimat-kalimat itu kini punya kekuatan lebih besar daripada kerja berbulan-bulan seorang reporter. Dan ketika kecerdasan buatan ikut turun ke lapangan—menyusun teks, memoles gambar, memalsukan suara—kebenaran makin sulit dibedakan dari kepalsuan yang tampak meyakinkan.

Di titik ini, publik seperti berada di pasar malam informasi: lampu terang, suara bising, semua berteriak paling benar. Kita berjalan dari satu kabar ke kabar lain dengan kepala pusing, tangan sibuk menggulir, hati mudah tersulut. Kebenaran tidak lagi dicari, ia hanya dipilih sesuai selera.

Maka, di tengah hiruk-pikuk ini, menjadi pembaca justru menuntut kecerdasan lebih tinggi daripada menjadi penulis. Pembaca perlu rem tangan—tidak tergesa membagikan, tidak lekas mempercayai. Perlu richek dan richek, bukan sekali, tetapi berkali-kali. Perlu kesabaran untuk bertanya: siapa yang menulis, untuk siapa, dan dengan kepentingan apa.

Jurnalisme mungkin berubah bentuk, tetapi etosnya seharusnya tidak ikut runtuh. Jika dulu wartawan dituntut berimbang dan akurat, kini pembaca pun harus naik kelas: kritis, skeptis, dan tidak mudah terprovokasi. Sebab di zaman ketika semua orang bisa bicara, justru yang paling berharga adalah kemampuan untuk diam sejenak, memeriksa, lalu berpikir.

Jika tidak, kita akan hidup di dunia di mana kabar palsu lebih cepat dari kebenaran, dan kebenaran selalu datang terlambat—kehabisan napas, kalah viral, dan akhirnya dianggap tidak penting. (Nel)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments