spot_img
BerandaHumanioraDua Penjual Es dan Luka yang Mengubah Cara Kita Memandang Hidup

Dua Penjual Es dan Luka yang Mengubah Cara Kita Memandang Hidup

Ironisnya, negeri ini sering lebih keras kepada orang jujur ketimbang kepada mereka yang pandai berkelit. Lebih cepat curiga pada pedagang kecil daripada pada kebohongan yang berdasi rapi.

LESINDO.COM – Di negeri yang gemar mengukur martabat dari seragam, suara, dan kuasa, dua penjual es justru diperlakukan seolah tak layak disebut manusia.

Pak Sunhaji, pedagang es teh, dihinakan di depan umum—seakan kejujuran dan keringatnya tak cukup menjadi alasan untuk dihormati. Lalu menyusul Pak Sudrajat, kakek penjual es gabus, yang difitnah hanya karena satu dosa klasik orang kecil: jujur mencari nafkah.

Mereka tidak mencuri. Tidak menipu. Tidak merampas hak siapa pun.
Kesalahan mereka barangkali hanya satu: terlalu lemah untuk melawan, terlalu bersih untuk mencurigakan, terlalu kecil untuk dianggap penting.

Di hadapan sebagian manusia, kehormatan bisa runtuh hanya oleh satu tudingan.
Namun anehnya, di hadapan Tuhan, justru dari hinaan itulah derajat mereka diangkat.

Saat fitnah dilemparkan, simpati datang dari segala arah.
Saat martabat diinjak, hormat tumbuh dari banyak hati.
Allah seolah hendak mengingatkan: manusia boleh merendahkan, tapi bukan penentu kemuliaan.

Di tengah gaduh tuduhan dan bisik sinis, dua penjual es ini berdiri dengan cara paling sunyi: diam dan sabar.
Tanpa klarifikasi bertele-tele. Tanpa panggung pembelaan.
Dan justru dari kesunyian itulah, suara kebenaran bergema paling keras.

Ironisnya, negeri ini sering lebih keras kepada orang jujur ketimbang kepada mereka yang pandai berkelit.
Lebih cepat curiga pada pedagang kecil daripada pada kebohongan yang berdasi rapi.

Pak Sunhaji dan Pak Sudrajat mengajarkan kita satu pelajaran yang sering dilupakan:
bahwa kehinaan sejati bukan pada mereka yang dihina,
melainkan pada mereka yang tega menghina orang yang sedang berjuang hidup.

Pesan itu sederhana, tapi menyesakkan:
Tetaplah baik meski dunia gemar memutarbalikkan kebaikan.
Sebab doa orang yang terzalimi tidak perlu mikrofon—ia langsung naik ke langit.

Semoga Pak Sunhaji dan Pak Sudrajat selalu diberi kesehatan, umur panjang, dan keberkahan.
Terima kasih telah mengingatkan kami bahwa kesabaran orang kecil sering kali lebih mulia daripada pidato panjang orang besar. (Joe)

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments