LESINDO.COM – Pagi masih berembun ketika peluit panjang memecah sunyi.
Di halaman sebuah sekolah berbasis ketarunaan, barisan siswa berdiri tegak, nyaris tanpa gerak. Kepala mereka plontos, wajah-wajah muda itu memantulkan cahaya matahari yang baru naik dari balik gedung. Sepatu hitam mengilap, sabuk terpasang simetris, kancing terkunci hingga kerah. Tidak ada yang terlambat, tidak ada yang setengah-setengah.
Di tempat ini, disiplin bukan sekadar peraturan tertulis di papan pengumuman. Ia menjelma menjadi nadi yang mengatur ritme hidup: dari cara berdiri, berjalan, berbicara, hingga cara menatap guru.
Di luar gerbang itu, dunia lain berdenyut dengan irama yang jauh berbeda.
Gerbang yang Membelah Dua Dunia
Banyak orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah ketarunaan bukan semata karena ingin melihat mereka menjadi tentara atau polisi. Ada kegelisahan yang lebih dalam: ketakutan akan masa depan yang liar, tentang generasi yang semakin sulit diatur, tentang anak-anak yang tumbuh cerdas namun kehilangan arah.
“Di sini, anak-anak belajar menahan diri,” ujar seorang guru pembina. “Mereka diajarkan bahwa kebebasan selalu punya batas.”
Setiap pagi dimulai dengan inspeksi. Rambut, kuku, sepatu, hingga lipatan seragam diperiksa. Kesalahan sekecil apapun dicatat. Tidak ada teriakan, tetapi tatapan tegas sudah cukup menjadi peringatan. Di sekolah ini, disiplin bukan ancaman, melainkan kebiasaan.
Para siswa menyebutnya sebagai latihan hidup. Mereka tahu, dunia di luar kelak tidak akan memberi toleransi pada kelalaian.
Sekolah Umum: Ruang yang Terlalu Longgar

Beberapa kilometer dari sana, di sebuah sekolah umum, suasana pagi terasa lebih gaduh. Gerbang dibuka sambil lalu. Siswa datang dengan gaya masing-masing. Rambut dicat, kemeja dikeluarkan dari celana, sepatu lusuh tak terikat rapi.
Seorang guru kesiswaan menghela napas panjang.
“Sekarang, menegur soal rambut saja bisa jadi masalah besar. Orang tua datang marah-marah, merasa anaknya diperlakukan tidak adil.”
Aturan yang dulu dianggap biasa kini dipertanyakan. Seragam, yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan, justru berubah menjadi kanvas ekspresi tanpa batas. Di ruang kelas, guru sering kali harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian, apalagi rasa hormat.
Bukan karena siswa jahat. Banyak di antara mereka hanya tumbuh tanpa pagar yang jelas.
Bus yang Menjadi Saksi
Kontras itu paling terasa di jalanan.
Seorang sopir bus pariwisata bercerita, dengan nada getir, tentang pengalamannya mengangkut rombongan siswa.
“Kalau sekolah umum, kadang saya deg-degan. Di dalam bus ada yang merokok, teriak-teriak, bahkan ada yang mencoret kursi. Kami ditegur, mereka malah tertawa.”
Yang lebih menyakitkan adalah sikap pembiaran. Guru yang duduk di depan memilih diam, seolah lelah menghadapi arus yang terlalu deras.
Namun, suasana berubah ketika rombongan berasal dari sekolah ketarunaan.
Bus terasa seperti ruang resmi. Tidak ada sampah berserakan, tidak ada suara gaduh. Ketika kru memberi instruksi, para siswa menjawab serempak: “Siap.”
Bagi sopir itu, perbedaan ini bukan soal status sekolah, melainkan soal karakter yang dibentuk sejak dini.
Disiplin sebagai Warisan
Di sekolah ketarunaan, disiplin bukan berarti mematikan kreativitas. Ia justru menjadi kerangka yang memungkinkan karakter tumbuh kuat. Anak-anak belajar bahwa tanggung jawab datang lebih dulu sebelum hak.
Sementara itu, di banyak sekolah umum, kebebasan sering kali melampaui batas. Tanpa ketegasan, ruang pendidikan berubah menjadi tempat kompromi tanpa ujung.
Refleksi
Dua dunia ini berdiri bersebelahan, dipisahkan hanya oleh cara memaknai aturan.
Yang satu memandang disiplin sebagai fondasi hidup.
Yang lain masih mencari cara untuk menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab.
Mungkin, pertanyaan terpenting bukanlah sekolah mana yang lebih unggul, melainkan:
apakah kita masih percaya bahwa karakter harus ditempa, bukan dibiarkan tumbuh liar?
Karena di balik seragam yang disetrika rapi dan aturan yang tegas, tersimpan harapan sederhana: melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab. (Mad)

