spot_img
BerandaJelajahjelajahDisiplin: Nafas dan Keselamatan di Tengah Samudra

Disiplin: Nafas dan Keselamatan di Tengah Samudra

Ujian paling sunyi adalah ketika sirene berbunyi panjang—simulasi “abandon ship”. Para taruna bergerak cepat menuju titik kumpul. Jaket pelampung dikenakan dalam hitungan detik. Sekoci diturunkan dengan koordinasi yang presisi. Di wajah-wajah muda itu tidak tampak heroisme yang berlebihan. Yang ada hanyalah konsentrasi.

LESINDO.COM – Di atas geladak Kapal Latih Bung Tomo, cakrawala tidak pernah benar-benar sunyi. Ia seperti garis tak berujung yang setiap hari mengajarkan satu hal: manusia hanyalah titik kecil di tengah bentang biru yang tak terperi. Angin asin menampar wajah para taruna, sementara deru mesin menjadi latar bunyi yang tak pernah berhenti—seperti detak jantung kapal itu sendiri.

Di sinilah para Taruna belajar bahwa disiplin bukan sekadar aturan tertulis di papan pengumuman. Ia adalah nafas.

Pukul empat pagi, ketika sebagian kota masih terlelap, kehidupan di atas kapal sudah bergerak. Sepatu lars berderap di lorong besi. Suara komando memecah udara yang masih dingin. Seorang taruna berdiri tegap di anjungan, matanya menatap radar dan horizon secara bergantian. Tidak ada ruang untuk lengah.

“Di laut, satu detik bisa berarti segalanya,” ujar Hermawan Ariyanto, S.ST., M.Pd., M.A.P., M.Mar.E., instruktur yang juga humas SMK Pelayaran Kartasura dengan suara datar namun tegas. Kalimat itu tidak terdengar dramatis. Ia terdengar seperti hukum alam.

Berbeda dengan kehidupan di darat yang menyediakan ruang untuk berkelit, kapal adalah dunia yang tertutup. Di depan, belakang, kanan, dan kiri hanya laut lepas. Tidak ada trotoar untuk berjalan santai ketika pikiran ingin melarikan diri. Tidak ada sudut sunyi untuk bersembunyi dari tanggung jawab. Setiap sudut kapal adalah ruang pengabdian.

Di ruang mesin, ketelitian menjadi nyawa. Baut yang tak terpasang sempurna bisa menjadi awal dari kegagalan sistem. Di anjungan, ketepatan membaca kompas dan peta navigasi menentukan arah hidup puluhan orang. Di geladak, kepatuhan pada prosedur keselamatan bukan formalitas, melainkan pagar pelindung dari kemungkinan terburuk.

Disiplin, bagi mereka, perlahan berubah makna. Ia bukan lagi kepatuhan karena takut hukuman. Ia tumbuh menjadi kesadaran eksistensial—bahwa keselamatan adalah hasil dari keteraturan yang dijaga bersama.

Geladak (deck) adalah “tubuh” dan “ototnya”. Bagi seorang pelaut, geladak bukan sekadar lantai besi; ia adalah medan tempur sehari-hari, tempat di mana keringat menguap bersama garam laut. (mc)

Ada momen-momen ketika laut berubah wajah. Langit yang semula bersahabat mendadak gelap. Ombak meninggi, menghantam lambung kapal tanpa ampun. Dalam situasi seperti itu, tidak ada ruang untuk panik. Yang bekerja hanyalah kebiasaan yang telah dilatih berulang-ulang: prosedur darurat, pembagian tugas, komunikasi yang ringkas dan jelas.

Ujian paling sunyi adalah ketika sirene berbunyi panjang—simulasi “abandon ship”. Para taruna bergerak cepat menuju titik kumpul. Jaket pelampung dikenakan dalam hitungan detik. Sekoci diturunkan dengan koordinasi yang presisi. Di wajah-wajah muda itu tidak tampak heroisme yang berlebihan. Yang ada hanyalah konsentrasi.

Paradoks pelayaran terletak di sana: kapal adalah rumah paling aman di tengah laut. Namun ketika ia tak lagi mampu melindungi, laut menjadi lawan yang dingin dan tak berbelas kasihan. Di atas sekoci, di tengah gelombang yang tak bersahabat, yang menyelamatkan bukan sekadar otot yang kuat, melainkan disiplin mental yang terpatri.

Seorang taruna pernah berkata lirih, “Kami tidak dilatih untuk menjadi berani. Kami dilatih untuk tetap tertib ketika takut.”

Kalimat itu sederhana, tetapi memuat inti dari pendidikan maritim: keberanian bukan ketiadaan rasa gentar, melainkan kemampuan menjaga keteraturan di tengah guncangan.

Pada akhirnya, yang dibentuk di atas Kapal Latih Bung Tomo bukan hanya pelaut yang cakap membaca peta dan mengoperasikan mesin. Yang ditempa adalah watak. Mereka belajar bahwa kebebasan di laut justru lahir dari disiplin yang ketat. Bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan menjalar pada rekan yang tertidur di dek bawah dan pada kapal yang menjadi satu-satunya rumah di tengah badai.

Di anjungan, saat matahari terbit perlahan dari ufuk timur, seorang taruna berdiri dalam diam. Laut kembali tenang. Namun ia tahu, ketenangan itu bukan jaminan. Ia adalah amanah.

Dan di antara deru angin serta denting logam yang bergetar, disiplin terus mengalir—setia, tak terlihat, namun menjaga kehidupan. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments