LESINDO.COM – Di tengah dunia yang riuh oleh kata-kata, ada sekelompok manusia yang memilih diam. Bukan karena tak mampu bicara, melainkan karena mereka tahu—tidak semua hal layak diucapkan. Di dalam diam itu, justru tersimpan kedekatan yang dalam dengan Yang Maha Mengetahui isi hati.
Lisan mereka terjaga. Tidak sibuk menguliti aib orang lain, tidak gemar membicarakan hal yang sia-sia. Kata-kata yang keluar dipilih dengan hati-hati, seperlunya, secukupnya. Selebihnya, lidah mereka basah oleh dzikir—sebuah percakapan sunyi antara hamba dan Tuhannya yang tak membutuhkan tepuk tangan manusia.
Mereka juga tidak sibuk membela diri. Bagi mereka, pengakuan manusia bukan tujuan. Salah atau benar di mata orang lain bukan perkara yang harus diperdebatkan panjang. Jika diperlakukan baik, mereka bersyukur. Jika disakiti, mereka memilih diam. Ada keyakinan yang kokoh: bahwa keadilan tidak selalu harus ditegakkan di hadapan manusia, sebab ada Tuhan yang menjadi sebaik-baik pembela.
Langkah mereka terlihat biasa saja—pelan, bahkan kadang tampak tertinggal. Namun di dalam hati, ada kewaspadaan yang terus menyala. Dunia tidak membuat mereka tergesa-gesa. Mereka bekerja, berusaha, menjalani kewajiban seperti orang lain, tetapi ada satu garis yang tidak pernah dilanggar: dunia tetap berada di bawah akhirat. Tubuh boleh sibuk, tetapi batin tetap pulang kepada Allah.
Ada ketakutan yang berbeda dalam diri mereka. Bukan takut kehilangan teman, jabatan, atau harta. Yang paling mereka khawatirkan adalah jika iman itu perlahan memudar. Karena itulah, tak jarang mereka tampak sendiri. Dijauhi, disalahpahami, bahkan dianggap aneh. Namun kesendirian itu bukan kehilangan, melainkan pilihan—demi menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dan diam mereka bukanlah kehampaan. Justru di sanalah kehidupan itu berdenyut paling dalam. Dzikir yang tak terdengar, rasa yang tak selalu bisa dijelaskan. Mulut mereka mungkin tenang, tetapi hati mereka hidup—menghayati setiap ingatan kepada Allah.
Pada akhirnya, ketenangan yang mereka rasakan bukan datang dari dunia yang ramah, melainkan dari kedekatan yang tak kasat mata. Sebuah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan, tidak goyah oleh penilaian manusia. Karena bagi mereka, cukup satu yang menjadi tujuan: berada dekat dengan Allah, meski harus berjalan dalam sunyi.(Sis)

