LESINDO.COM – Pagi belum benar-benar terbangun, tetapi jempol sudah lebih dulu bekerja.
Di warung kopi kecil di sudut kota, seorang lelaki setengah baya duduk sendiri. Kopinya mulai dingin, namun matanya tak lepas dari layar ponsel. Sesekali ia tersenyum, lalu mengernyit, lalu menghela napas—semua karena dunia kecil yang ia genggam di tangannya.
Ia bukan sedang membaca kabar penting. Bukan pula berdiskusi tentang masa depan. Ia sedang menggulir hiburan tanpa akhir: potongan video lucu, gosip selebritas, kutipan bijak yang tak pernah ia renungkan, serta berita yang ia bagikan tanpa sempat ia pahami.
Begitulah wajah baru masyarakat hari ini: hidup di tengah banjir informasi, tetapi semakin miskin perenungan.
Media sosial, yang dahulu hadir sebagai jembatan komunikasi, kini lebih sering berfungsi sebagai panggung hiburan massal. Di sana, segalanya harus cepat, ringan, dan menyenangkan. Pikiran dilatih untuk menyukai rangsangan singkat. Konsentrasi pun menyusut perlahan—seperti lilin yang meleleh tanpa disadari.
Ketika Fokus Menjadi Kemewahan
Guru-guru mengeluhkan murid yang sulit menyimak. Pekerja kantor mengaku tak lagi sanggup membaca laporan panjang tanpa tergoda membuka gawai. Bahkan percakapan tatap muka sering terpotong hanya karena sebuah notifikasi.
Pola ini bukan kebetulan. Pikiran yang terus diberi hiburan instan akan menolak kesunyian yang diperlukan untuk berpikir. Dalam jangka panjang, manusia kehilangan kesabaran untuk memahami sesuatu secara utuh.
Membaca yang Kian Ditinggalkan
Dulu, orang duduk berjam-jam membaca buku atau koran. Kini, banyak yang merasa cukup dengan judul dan potongan kalimat. Informasi instan terasa lebih menggoda daripada makna yang mendalam.
Akibatnya, kebiasaan merenung melemah. Padahal dari sanalah kebijaksanaan bertumbuh—dari keheningan, bukan dari keramaian.
Budaya Reaktif
Di media sosial, respons harus cepat. Marah harus segera. Setuju atau menolak harus instan. Tidak ada ruang untuk menimbang, apalagi meragukan diri sendiri.
Lambat laun, manusia terbiasa bereaksi, bukan merefleksikan. Emosi menjadi kompas utama. Rasio hanya menjadi penonton.
Antara Fakta dan Opini yang Kabur
Tak sedikit orang mempercayai sesuatu hanya karena banyak dibagikan. Di ruang maya, kebenaran sering kalah oleh sensasi. Yang ramai dianggap nyata. Yang sunyi dianggap salah.
Di sinilah batas antara fakta dan opini semakin kabur—dan pikiran, tanpa latihan kritis, mudah tersesat.
Hiburan yang Mengikis Kedalaman
Media sosial memberi kenikmatan cepat. Namun, di balik tawa singkat, ada kekosongan yang tak terisi. Pikiran yang terus dimanja akan kehilangan ketahanan untuk menghadapi proses belajar dan berpikir yang menantang.
Media sosial bukan musuh. Ia hanya alat.
Namun, tanpa kesadaran, ia dapat membentuk kebiasaan yang mengikis kedalaman nalar.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, mungkin yang paling kita butuhkan bukan jaringan lebih cepat, tetapi pikiran yang lebih jernih.
Karena tanpa itu, kita hanya akan menjadi warga negeri jempol—yang ramai bersuara, tetapi miskin makna. (Dil)

