Belajar Menjadi Pelaut dari Anjungan hingga Sekoci
LESINDO.COM – Pagi di Pelabuhan Kalianget belum sepenuhnya terbangun. Udara asin masih menggantung, ombak kecil memantul di lambung kapal, dan burung-burung laut melintas rendah seolah menjadi saksi bisu. Di antara deretan kapal yang bersandar, sebuah kapal latih berdiri gagah: Bung Tomo.
Di atas geladaknya, puluhan taruna kelas X SMK Pelayaran Kartasura melangkah dengan mata berbinar—campuran antara kagum dan cemas. Bagi mereka, inilah ruang belajar yang sesungguhnya. Bukan lagi bangku kelas, bukan lagi papan tulis, melainkan besi, kabel, mesin, dan laut yang tak pernah sepenuhnya bisa ditebak.
Anjungan: Tempat Keputusan Dilahirkan

Mereka menyebutnya jantung navigasi—anjungan (bridge). Di sinilah arah ditentukan, risiko dibaca, dan keselamatan dijaga.
Taruna berdiri mengelilingi instruktur, memperhatikan radar yang berpendar, AIS yang menampilkan siluet kapal lain, serta kompas dan gyro yang menunjuk haluan sejati. Di sudut lain, layar ECDIS menampilkan peta laut digital, berdampingan dengan peta kertas yang harus mereka pahami tanpa bantuan teknologi.
“Di sini, satu kesalahan kecil bisa berarti tabrakan, kandas, atau tersesat,” ujar Kiki Ismail Marjuki Chief Officer Kapal Latih Bung Tomo. Kalimat itu menggema lebih keras daripada suara mesin.
Kamar Mesin: Paru-Paru Kapal
Jika anjungan adalah otak, maka engine room adalah paru-parunya. Panas menyergap begitu pintu baja dibuka. Suara mesin menggeram seperti denyut nadi raksasa.
Taruna jurusan teknika menyusuri lorong sempit, mempelajari main engine sebagai penggerak utama, auxiliary engine sebagai sumber listrik, serta sistem perpipaan yang menyalurkan bahan bakar, minyak lumas, dan air pendingin.
Di ruang ini, mereka belajar bahwa kapal bukan sekadar alat angkut—ia adalah organisme hidup yang harus dirawat tanpa henti.
Darurat: Saat Laut Tak Lagi Bersahabat

Latihan paling hening sekaligus paling menegangkan adalah prosedur darurat. Taruna berdiri di dekat sekoci, mempraktikkan perintah abandon ship.
Mereka mempelajari mekanisme penurunan sekoci dengan davit, membuka liferaft, mengenakan life jacket dan immersion suit hanya dalam hitungan detik. Di sisi lain, mereka diajarkan membaca panel deteksi asap, menggunakan APAR, dan menghafal letak fire hydrant.
“Keselamatan tidak pernah bisa ditunda,” kata instruktur Deby Arsita Kapten KL. Bung Tomo. “Karena laut tidak menunggu.”
Geladak: Keringat dan Ketangkasan
Di dek luar, pelajaran berubah menjadi kerja fisik. Taruna mempelajari windlass, rantai jangkar, serta prosedur anchoring. Mereka juga berlatih mooring—menangani tali-tali besar, memahami snap-back zone, dan mengikat pada bollard dengan presisi.
Tangan mereka memerah, seragam basah oleh keringat, tetapi mata mereka menyala oleh kebanggaan kecil: mereka mulai menjadi bagian dari dunia maritim yang sesungguhnya.
Medan Mental: Disiplin dan Etika
Di atas kapal, tidak ada ruang untuk ego. Taruna belajar tentang hierarki kapal, tentang perintah yang harus dijalankan tanpa ragu, dan tentang MARPOL—bahwa laut bukan tempat membuang sisa.
Mereka diajarkan bahwa menjadi pelaut bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap manusia dan alam.
Pesan dari Geladak
Di Kapal Latih Bung Tomo, setiap baut, kabel, dan tuas memiliki arti. Setiap prosedur bukan sekadar teori, melainkan garis tipis antara selamat dan celaka. Di sinilah taruna kelas X SMK Pelayaran memahami bahwa laut bukan hanya ruang kerja, tetapi ruang pembentukan karakter.
Dan ketika matahari mulai naik di atas Pelabuhan Kalianget, mereka turun dari kapal dengan langkah berbeda—lebih berat oleh tanggung jawab, namun lebih ringan oleh keyakinan:
bahwa mereka sedang belajar bukan hanya mengemudikan kapal, tetapi juga mengemudikan masa depan. (mac)

