Pengabdian Guru di Tengah Beban Sistem Pendidikan
LESINDO.COM – Setiap pagi, jutaan guru di Indonesia melangkah ke ruang kelas dengan beban yang tak selalu terlihat. Mereka membawa silabus, buku ajar, dan rencana pembelajaran—namun juga memikul tekanan ekonomi, tuntutan administrasi, serta ekspektasi sosial yang kian berat. Di balik pintu ruang kelas, pengabdian itu berlangsung dalam sunyi.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Indonesia memiliki lebih dari tiga juta guru yang tersebar dari kota besar hingga daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Namun jumlah yang besar itu tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan dan dukungan sistem yang memadai.
Senyum Profesional di Tengah Realitas Ekonomi
“Guru dituntut profesional, tetapi masih banyak yang hidup dalam kondisi ekonomi yang rapuh,” ujar Darmaningtyas, pengamat pendidikan. Ia menilai, problem klasik pendidikan Indonesia bukan hanya soal kualitas pembelajaran, melainkan juga soal bagaimana negara memposisikan guru dalam struktur sosial dan ekonomi.
Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar hidup layak. Dalam situasi seperti itu, ruang kelas menjadi tempat mereka menanggalkan keresahan pribadi. Senyum tetap harus terjaga, suara harus tetap bersemangat, seolah tidak ada tekanan di luar papan tulis.
“Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari masalah orang dewasa,” tutur seorang guru sekolah dasar di Jawa Tengah. Prinsip itulah yang membuat banyak guru memilih diam dan bertahan.
Beban Administrasi yang Menggerus Energi Mengajar
Selain persoalan kesejahteraan, guru juga dihadapkan pada beban administrasi yang kerap menyita waktu dan energi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), laporan asesmen, pengisian platform digital, hingga evaluasi berlapis sering kali menggeser fokus utama: mengajar dan mendidik.
Menurut Prof. Arief Rachman, pakar pendidikan dan mantan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, guru di Indonesia terlalu lama dijadikan “petugas administrasi pendidikan.”
“Jika guru lebih sibuk mengisi laporan daripada memahami muridnya, maka yang kita bangun bukan pendidikan, melainkan birokrasi,” ujarnya dalam sebuah diskusi pendidikan.
Akibatnya, banyak guru menyelesaikan pekerjaan di luar jam sekolah—di rumah, larut malam, bahkan di akhir pekan.
Menghadapi Murid dengan Beban Sosial Beragam
Di ruang kelas, guru tidak hanya berhadapan dengan soal akademik. Mereka menjadi saksi langsung problem sosial yang dibawa murid: kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, kecanduan gawai, hingga krisis kesehatan mental.
“Guru adalah garda terdepan yang pertama kali melihat perubahan perilaku anak,” jelas Najelaa Shihab, pendidik dan pendiri komunitas pendidikan. Namun ironisnya, peran sebesar itu jarang diiringi pelatihan psikososial yang memadai.
Dalam kondisi tersebut, kesabaran guru bukan bakat alam, melainkan keterampilan yang terus diasah—sering kali dengan mengorbankan kesehatan emosional mereka sendiri.
Ketegasan sebagai Tanggung Jawab Moral
Di tengah wacana pendidikan ramah anak, posisi guru kerap berada di persimpangan. Teguran mudah dipersepsikan sebagai kekerasan verbal, disiplin dianggap sebagai tekanan. Padahal, banyak guru melihat ketegasan sebagai bentuk tanggung jawab moral.
“Guru bukan sekadar fasilitator pengetahuan, tetapi penjaga nilai,” kata Prof. Fasli Jalal, mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak mungkin lahir tanpa keberanian guru untuk bersikap tegas dan konsisten.
Ketegasan itu sering berisiko: disalahpahami orang tua, dipersoalkan publik, bahkan berujung sanksi. Namun banyak guru tetap memilih berdiri di posisi sulit itu demi masa depan muridnya.
Kerja Sunyi yang Menopang Masa Depan Bangsa
Saat lonceng sekolah berbunyi, kerja guru belum selesai. Mereka membawa pulang cerita murid-muridnya, memikirkan satu nama yang tertinggal pelajaran, atau satu anak yang tampak kehilangan arah. Kerja ini nyaris tak tercatat dalam laporan resmi, namun dampaknya menjalar jauh ke masa depan.
“Negara boleh berganti kebijakan, kurikulum boleh berubah, tetapi jika guru kehilangan semangat, pendidikan akan runtuh dari dalam,” ujar Darmaningtyas.
Di balik pintu ruang kelas, pengabdian guru berlangsung tanpa sorotan. Mereka tidak selalu disebut dalam pidato, tidak selalu hadir dalam statistik keberhasilan. Namun dari ruang-ruang sederhana itulah fondasi bangsa dirawat setiap hari. (fai)

