LESINDO.COM – Setiap kali Tahun Baru Imlek tiba, kota-kota berubah wajah. Lampion merah bergelantungan di sepanjang jalan, pintu-pintu rumah dihiasi kertas beraksara keberuntungan, suara petasan memecah udara, dan senyum orang-orang seakan lebih terang dari hari biasa.
Namun, di balik gemerlap itu, tersembunyi sebuah kisah kuno yang lebih menyerupai cerita horor daripada pesta keluarga: legenda tentang monster bernama Nian.
Imlek, yang hari ini identik dengan kebahagiaan, sebenarnya lahir dari rasa takut. Dari malam panjang yang dipenuhi kecemasan. Dari masyarakat yang percaya bahwa setiap pergantian tahun adalah saat ketika kegelapan bisa turun ke bumi.
Malam Ketika Desa Menjadi Sunyi
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun di Tiongkok, Nian digambarkan sebagai makhluk buas yang keluar dari laut atau hutan setiap malam menjelang tahun baru. Tubuhnya besar, matanya menyala, dan suaranya menggetarkan tanah. Ia memangsa ternak, menghancurkan ladang, bahkan menyerang manusia.
Ketika matahari tenggelam di hari terakhir tahun, desa-desa berubah menjadi sunyi. Pintu-pintu ditutup rapat, jendela dikunci, dan keluarga bersembunyi dengan napas tertahan. Tak ada yang berani menyalakan lampu atau berbicara keras. Malam itu adalah malam ketakutan.
Namun, seperti semua legenda, harapan selalu menemukan jalannya.
Merah, Api, dan Dentuman: Senjata dari Rakyat Jelata
Suatu tahun, seorang tetua desa menemukan bahwa Nian memiliki kelemahan. Ia takut pada warna merah, suara keras, dan cahaya terang. Pengetahuan itu menyebar dari satu kampung ke kampung lain.
Malam berikutnya, penduduk tak lagi bersembunyi. Mereka menggantung kain merah di pintu, membakar bambu hingga meledak, dan menyalakan obor. Ketika Nian datang, ia lari ketakutan, dan tak pernah kembali.
Kemenangan itu disebut Guo Nian—melewati monster, melewati tahun, melewati rasa takut.
Sejak saat itu, merah tak lagi sekadar warna. Ia menjadi simbol perlawanan, keberanian, dan hidup yang menang atas gelap.
Merah sebagai Bahasa Harapan
Dalam budaya Tionghoa, merah bukan sekadar estetika. Ia dipercaya mewakili elemen api—energi, kehidupan, dan keberuntungan. Merah juga diyakini mampu mengusir roh jahat dan kesialan yang disebut sui.
Itulah sebabnya angpao berwarna merah. Lentera merah menggantung di langit malam. Bahkan pakaian baru pun sering didominasi warna yang sama. Semua adalah doa tanpa kata: agar hidup tetap menyala, agar keberuntungan terus mengalir.
Dari Sawah ke Kota: Imlek sebagai Perayaan Musim
Secara historis, Imlek berakar dari Festival Musim Semi. Para petani merayakan akhir musim dingin dan memulai siklus tanam baru. Kalender yang digunakan adalah lunisolar, sehingga tanggalnya selalu berubah—antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Di sanalah Imlek menemukan maknanya yang paling manusiawi: bukan sekadar perayaan waktu, melainkan perayaan hidup. Tentang memulai kembali. Tentang menutup luka lama. Tentang memberi ruang bagi harapan.
Merayakan Kemenangan atas Ketakutan
Hari ini, mungkin tak ada lagi yang benar-benar percaya pada monster Nian. Namun, setiap manusia tetap memiliki “Nian”-nya sendiri: ketakutan, kegagalan, luka, dan kenangan pahit yang datang diam-diam di penghujung tahun.
Dan seperti leluhur yang menggantung kain merah di pintu, kita pun menyalakan harapan dengan cara kita sendiri.
Imlek, pada akhirnya, bukan hanya tentang kalender yang berganti. Ia adalah kisah tentang keberanian kolektif. Tentang manusia yang memilih terang, meski lahir dari gelap.
Di balik merah yang menyala, tersimpan pesan abadi:
Tak ada malam yang terlalu gelap, selama kita berani menyalakan cahaya. (Mei)

