LESINDO.COM – Setiap pagi, orang-orang datang ke tempat kerja dengan wajah yang hampir seragam: rapi, sopan, dan penuh harapan. Mereka duduk di balik meja, menyalakan komputer, membuka agenda, lalu memulai hari dengan rutinitas yang tampak biasa. Namun di balik kerapian itu, ada kehidupan batin yang tak pernah tercatat dalam laporan bulanan.
Tempat kerja, pada hakikatnya, adalah ruang perjumpaan manusia dengan manusia lain—dengan latar belakang, ambisi, dan luka yang berbeda. Gesekan pun menjadi sesuatu yang nyaris tak terelakkan. Perbedaan pendapat, persaingan kinerja, hingga perebutan pengaruh adalah bagian dari dinamika yang, dalam kadar tertentu, bisa mematangkan.
Namun ada saat ketika gesekan itu tak lagi sederhana. Ia melampaui batas kewajaran, menyeberang dari profesionalisme menuju wilayah yang lebih gelap dan sunyi. Rebutan jabatan tak lagi hanya soal kemampuan, melainkan soal siapa yang lebih dekat, lebih kuat, atau lebih lihai memainkan keadaan. Bahkan, pada sebagian orang, ikhtiar itu ditempuh hingga ke ranah metafisik—sesuatu yang jarang dibicarakan, tetapi diam-diam dipercaya.
Di titik itu, tempat kerja perlahan kehilangan wajahnya sebagai ruang tumbuh. Ia berubah menjadi arena kewaspadaan. Senyum menjadi sikap yang dipelajari, bukan lagi ungkapan tulus. Kepercayaan digantikan kecurigaan. Dan kerja—yang seharusnya menjadi sarana mengabdi—menjelma medan bertahan hidup.
Yang paling menyedihkan bukanlah persaingannya, melainkan ketika manusia mulai tak mengenali dirinya sendiri. Ia bekerja bukan lagi sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai peran. Jabatan menjadi identitas, pengaruh menjadi ukuran harga diri. Dunia dipeluk terlalu erat, seolah tak ada kehidupan lain di luar tembok kantor.
Kebijaksanaan Jawa mengingatkan tentang pentingnya eling lan waspada—kesadaran untuk selalu ingat siapa diri kita dan kewaspadaan agar tidak terjebak oleh dunia. Dunia, betapapun gemerlapnya, hanyalah persinggahan. Jabatan, setinggi apa pun, tak pernah benar-benar abadi.
Namun nasihat semacam itu kerap terdengar lirih di tengah hiruk-pikuk ambisi. Dunia kerja menuntut hasil cepat, pencapaian yang terukur, dan keberhasilan yang bisa dipamerkan. Perlahan, manusia belajar menekan nurani demi target, menunda kejujuran demi posisi.
Di sela-sela itu, ada orang-orang yang memilih berjalan lebih pelan. Mereka tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi menolak kehilangan kemanusiaan. Mereka bersaing tanpa harus menyingkirkan. Mereka naik tanpa menjatuhkan. Mereka percaya bahwa rezeki tak pernah benar-benar tertukar, dan bahwa jalan hidup setiap orang punya waktunya sendiri.
Mungkin mereka tak selalu tampak menonjol. Nama mereka jarang disebut dalam rapat besar. Namun kehadiran mereka memberi rasa aman—seperti jeda sunyi di tengah kebisingan. Mereka menjadi pengingat bahwa bekerja bukan sekadar mengejar dunia, tetapi juga merawat diri agar tetap utuh.
Pada akhirnya, gesekan di dunia kerja akan selalu ada. Yang menentukan bukanlah seberapa keras kita bertarung, melainkan seberapa jauh kita mampu menjaga diri agar tidak kehilangan arah. Dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai menjadi tuan yang menguasai seluruh hidup.
Dan sungguh beruntung mereka yang masih bisa pulang ke dirinya sendiri—tetap eling, tetap waskita, dan tetap ingat bahwa menjadi manusia jauh lebih penting daripada sekadar menjadi siapa-siapa. (Mad)

