Oleh: Yai Kampung
LESINDO.COM – Pagi itu, kota tetap bergerak seperti biasa. Kendaraan merayap di lampu merah, klakson sesekali menyentak udara, dan warung-warung menahan wangi yang biasanya menggoda. Namun ada yang berbeda: sebagian orang memilih menepi dari kebiasaan. Mereka menahan makan dan minum, bukan karena tak mampu, melainkan karena ingin belajar kembali menjadi manusia.
Puasa selalu datang seperti jeda yang sengaja diselipkan di tengah riuh kehidupan. Ia bukan sekadar ritual tahunan yang diulang-ulang, melainkan perjalanan sunyi yang mengajak seseorang bercermin. Di balik lapar dan dahaga, tersimpan latihan panjang untuk meredam gejolak batin yang kerap dibiarkan liar—amarah yang mudah tersulut, keinginan yang ingin segera dipenuhi, dan ego yang merasa paling benar.
Tubuh memang menahan diri dari makanan dan minuman. Namun sesungguhnya yang lebih diuji adalah jiwa. Dalam tradisi Islam, puasa Ramadan bukan hanya kewajiban syariat, tetapi juga pendidikan batin. Seperti ditulis oleh ulama besar Al-Ghazali, hakikat puasa terletak pada kemampuan menjaga anggota tubuh dan hati dari hal-hal yang mengotori makna ibadah itu sendiri. Lapar hanyalah pintu masuk; yang utama adalah kesadaran.
Di tengah hari yang panjang, ketika tenaga mulai surut dan tenggorokan terasa kering, manusia dipertemukan dengan kerapuhannya. Ia sadar, betapa selama ini kenikmatan terasa begitu mudah diraih. Segelas air yang sederhana mendadak menjadi anugerah. Sepiring nasi yang biasa saja berubah menjadi hadiah yang ditunggu. Dari situ tumbuh pemahaman baru: kenikmatan bukan sekadar soal terpenuhi, melainkan tentang kemampuan menunda dan mengendalikan.
Puasa mengajarkan bahwa tidak semua yang diinginkan harus segera dimiliki. Dalam budaya serba cepat—di mana pesan terkirim dalam detik dan keinginan terpenuhi lewat satu sentuhan layar—latihan menunda menjadi sesuatu yang langka. Puasa menghadirkan ruang untuk berkata, “Tidak sekarang.” Dan dalam kalimat sederhana itu, tersimpan kekuatan besar.
Lebih jauh, puasa membuka pintu empati. Ketika perut kosong dan kepala terasa ringan, seseorang mulai mengingat mereka yang menjalani hari-hari serupa bukan karena pilihan, melainkan keadaan. Rasa lapar yang sementara menjadi jembatan untuk memahami penderitaan yang lebih panjang. Dari sana lahir kelembutan, kepedulian, dan keinginan untuk berbagi. Zakat, sedekah, dan hidangan berbuka bersama bukan sekadar tradisi, tetapi ekspresi dari hati yang disentuh pengalaman.
Dalam masyarakat yang kerap terjebak persaingan, puasa menggeser cara pandang. Sesama tak lagi dilihat sebagai lawan dalam perebutan rezeki, melainkan saudara seperjalanan menuju makna hidup. Lapar yang sama menyamakan derajat; dahaga yang sama menumbuhkan solidaritas.
Pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang apa yang ditahan, melainkan siapa diri kita setelah melaluinya. Apakah kita menjadi lebih sabar? Lebih jernih dalam menilai? Lebih lembut dalam bertutur? Jika tidak ada perubahan dalam sikap dan akhlak, mungkin yang berpuasa baru tubuh, belum sepenuhnya jiwa.
Di tengah dunia yang tak pernah benar-benar diam, puasa adalah undangan untuk berhenti sejenak. Untuk merapikan niat, membersihkan hati, dan menata kembali arah hidup. Sebab yang paling berharga dari perjalanan ini bukanlah senja saat berbuka, melainkan manusia baru yang pelan-pelan dilahirkan darinya.

