LESINDO.COM – Gunung Prau tidak pernah menawarkan ketinggian yang pongah ketinggiannya 2.590 mpdl. Dengan tubuh yang relatif ramah bagi pendaki pemula, ia justru menghadirkan hadiah yang jauh lebih besar: panorama yang membuat siapa pun terdiam. Dari puncaknya, Jawa Tengah seolah dibuka perlahan, seperti lembaran peta alam yang disibakkan kabut subuh.
Prau berdiri di jantung Dataran Tinggi Dieng—posisi yang menjadikannya balkon terbaik untuk memandang gunung-gunung besar di sekitarnya. Ketika cuaca cerah dan matahari mulai merangkak naik, pemandangan dari sini terasa nyaris tak masuk akal: begitu banyak puncak, begitu dekat, begitu agung.
Sindoro dan Sumbing: Wajah Paling Dekat
Dari puncak Prau, pandangan pertama hampir selalu tertuju ke dua sosok raksasa di depan mata. Gunung Sindoro berdiri paling dekat, gagah dan tegas, seolah menjadi penjaga gerbang Dieng. Di belakangnya, Gunung Sumbing muncul sebagai bayang besar yang melengkapi komposisi. Keduanya sering dijuluki gunung kembar—bukan karena serupa, melainkan karena selalu hadir bersama, tak terpisahkan dalam satu bingkai.
Saat matahari terbit, cahaya keemasan menyapu lereng Sindoro lebih dulu, lalu merambat pelan ke tubuh Sumbing. Momen itu membuat banyak pendaki lupa menekan tombol kamera. Terlalu sibuk mengingat, terlalu takut merusak keheningan.
Timur yang Menyimpan Deretan Legenda
Menggeser pandangan ke arah timur, lanskap berubah menjadi barisan cerita. Gunung Merapi berdiri dengan aura yang tak pernah benar-benar jinak. Di dekatnya, Gunung Merbabu menampilkan lekuk yang lebih lembut, seolah menjadi penyeimbang.
Lebih ke samping, tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran—dua gunung yang sering luput disebut, tetapi justru memperkaya garis cakrawala. Dari Prau, mereka tidak saling berebut perhatian. Semua berdiri pada porsinya masing-masing, membentuk harmoni yang tenang.
Di saat-saat tertentu, asap tipis dari Merapi tampak seperti napas bumi yang perlahan. Tidak mengancam, hanya mengingatkan.
Barat dan Slamet yang Menyendiri
Jika tubuh berputar ke arah barat, satu nama mendominasi: Gunung Slamet. Ia berdiri sendiri, besar, dan terasa jauh, namun justru itulah yang membuatnya mencolok. Slamet tidak membutuhkan latar. Ia adalah latar itu sendiri.
Dari kejauhan, Slamet tampak seperti gunung yang memilih menyendiri. Tidak berkelompok, tidak berbagi panggung. Dari puncak Prau, ia terlihat tenang, seolah menunggu dilihat tanpa perlu disapa.
Dieng dalam Skala Manusia
Di antara gunung-gunung besar itu, kawasan Dieng hadir sebagai sela yang hangat. Gunung Bismo, Pakuwaja, dan Bukit Sikunir tampak seperti lipatan-lipatan kecil yang menyempurnakan lanskap. Dari ketinggian, bukit-bukit ini tidak tampak megah, tetapi justru memberi rasa dekat—seolah mengingatkan bahwa alam tidak selalu harus besar untuk bermakna.
Bukit Sikunir, yang terkenal dengan matahari terbitnya, terlihat seperti panggung kecil yang akrab. Dari Prau, kita menyadari: tempat-tempat yang ramai dikunjungi manusia ternyata hanya titik kecil dalam bentangan alam yang luas.
Waktu Terbaik dan Pelajaran yang Tersisa
Golden sunrise—sekitar pukul 05.30 WIB—adalah saat terbaik menikmati semua ini. Terutama di musim kemarau, ketika langit bersih dan kabut memilih menyingkir. Namun, tak ada jaminan. Prau mengajarkan satu hal penting: alam tidak bisa dipaksa.
Ada pagi ketika kabut menutup segalanya. Tak ada Sindoro, tak ada Slamet. Hanya putih dan dingin. Anehnya, banyak yang justru merasa pulang dengan hati penuh. Sebab di Prau, pemandangan bukan satu-satunya tujuan. Yang lebih penting adalah belajar menunggu, diam, dan menerima.
Dari puncak Gunung Prau, Jawa Tengah tidak sekadar terlihat. Ia terasa. Sebagai ruang yang luas, tua, dan sabar—tempat manusia akhirnya sadar betapa kecil dirinya, dan betapa indahnya menjadi kecil di hadapan alam. (Rai)

