spot_img
BerandaHumanioraDi Antara Sunyi dan Sorak: Ketika Kesepian Menjadi Rumah

Di Antara Sunyi dan Sorak: Ketika Kesepian Menjadi Rumah

Dalam sunyi, seseorang tidak perlu memainkan peran. Tidak perlu memilih kata agar disukai. Tidak perlu menyaring pendapat agar aman. Di sana, tidak ada sorak yang menekan, tidak ada penilaian yang memburu. Hanya ada suara hati yang pelan namun jernih—yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

LESIND0.COM – Di sebuah sudut kafe yang tidak pernah benar-benar sepi, seorang perempuan duduk memandangi cangkir kopinya yang mulai mendingin. Di sekelilingnya, suara tawa bersahutan, gelas berdenting, dan layar ponsel berpendar seperti kunang-kunang digital. Semua tampak hidup. Semua tampak ramai. Namun, di matanya, tidak ada yang benar-benar hadir.

Ia tidak merasa sendirian. Tetapi ia juga tidak merasa bersama.

Di zaman ketika kebersamaan bisa diukur dari notifikasi dan jumlah pertemuan, kesepian sering dianggap penyakit. Sesuatu yang harus segera disembuhkan. Orang takut disebut sendiri, takut tertinggal, takut tidak dianggap. Padahal, tidak semua kesepian lahir dari kehilangan. Ada sunyi yang justru menjadi ruang pulang—tempat manusia bertemu dengan dirinya yang paling jujur.

Dalam sunyi, seseorang tidak perlu memainkan peran. Tidak perlu memilih kata agar disukai. Tidak perlu menyaring pendapat agar aman. Di sana, tidak ada sorak yang menekan, tidak ada penilaian yang memburu. Hanya ada suara hati yang pelan namun jernih—yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

Sunyi memberi jarak yang sehat antara diri dan tuntutan. Ia menjadi ruang bernapas ketika hidup terasa terlalu padat oleh ekspektasi.

Namun, dunia hari ini mengajarkan sebaliknya. Bahwa ramai berarti bahagia. Bahwa dikelilingi banyak orang berarti tidak kesepian. Kita diajak untuk terus hadir di mana-mana, berbicara tentang segalanya, menyesuaikan diri agar tidak terlihat berbeda. Sedikit demi sedikit, tanpa disadari, kita mulai menukar prinsip dengan penerimaan.

Bukan karena kita tidak tahu apa yang benar, tetapi karena lelah untuk mempertahankannya.

Keramaian semacam itu tidak terasa sepi—tetapi hampa. Banyak tawa, tetapi tidak menyentuh. Banyak kebersamaan, tetapi miskin kejujuran. Seseorang bisa duduk di tengah puluhan orang, namun merasa asing pada dirinya sendiri. Ia hadir secara fisik, tetapi tercerabut secara batin.

Di sanalah bahaya itu bekerja dengan halus.

Identitas tidak hilang dalam satu malam. Ia luruh perlahan—saat kita tertawa pada hal yang sebenarnya kita tentang, saat kita diam pada sesuatu yang seharusnya kita bela, saat kita mengangguk pada nilai yang tidak kita yakini. Semua demi satu hal: agar tidak berbeda.

Padahal, menjadi berbeda bukanlah kegagalan. Justru sering kali, di sanalah keutuhan bertumbuh.

Kesepian yang jujur jauh lebih menyehatkan daripada kebersamaan yang memalsukan. Dalam sunyi, kita belajar mendengar. Dalam sunyi, kita mengenali batas. Dalam sunyi, kita menyusun kembali arah hidup yang sempat kabur oleh kebisingan. Sunyi bukan kekosongan—ia adalah ruang perenungan.

Sedangkan keramaian yang salah, meski tampak hangat, perlahan mengikis. Ia menggerus keyakinan, melemahkan keberanian, dan membuat seseorang lupa siapa dirinya sebelum dunia memberinya topeng.

Maka, jangan takut sendirian jika itu membuatmu utuh. Jangan tergesa mencari keramaian jika itu menuntutmu mengkhianati diri sendiri. Karena lebih baik berjalan sendiri dengan jujur, daripada beramai-ramai menuju arah yang tidak pernah kamu pilih.

Dan mungkin, pada akhirnya, kita semua sedang belajar satu hal yang sederhana namun sulit:
bahwa menjadi utuh jauh lebih penting daripada sekadar terlihat tidak sendiri. (Cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments