LESINDO.COM – Cinta kerap disambut sebagai karunia paling lembut dalam hidup manusia. Ia datang membawa rasa hangat, menumbuhkan harap, dan memberi makna pada hari-hari yang sebelumnya terasa datar. Namun cinta tidak pernah hadir hanya untuk membahagiakan. Di balik kelembutannya, ia menyimpan pelajaran paling sunyi: ujian tentang kebergantungan hati.
Allah menghadirkan cinta bukan sekadar agar manusia merasa dicintai, melainkan agar ia belajar mengenali batas dirinya. Bahwa sedalam apa pun rasa tumbuh, ada garis yang tak boleh dilampaui—garis tempat manusia tetap sadar bahwa hatinya tidak diciptakan untuk bersandar sepenuhnya pada sesama. Ketika cinta mulai menggeser pusat sandaran jiwa, di situlah cinta perlahan kehilangan kesuciannya.
Ada fase dalam cinta ketika hati mulai lelah. Lelah menunggu, lelah berharap, lelah menafsirkan diam. Bukan karena cinta berkurang, melainkan karena hati menanggung beban yang seharusnya tidak ia pikul sendiri. Cinta yang tidak dititipkan kepada Allah akan menuntut kepastian dari manusia—padahal manusia sendiri rapuh, berubah, dan terbatas.
Pada saat cinta mengguncang batin, sejatinya itulah panggilan paling jujur dari iman. Panggilan untuk berhenti sejenak, menunduk, dan menata ulang arah hati. Bukan untuk mencabut rasa, tetapi untuk membersihkannya. Agar cinta kembali menjadi jalan ibadah, bukan sumber kegelisahan. Agar mencintai tidak lagi berarti takut kehilangan, melainkan berani menyerahkan.
Dalam ketundukan itulah iman diuji dan didewasakan. Hati yang belajar bersandar kepada Allah tidak lagi menjadikan manusia sebagai tumpuan akhir. Ia mencintai dengan kesadaran, bukan dengan kecemasan. Ia menyayangi tanpa menuntut kepemilikan. Ia memberi tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Dari sandaran kepada Allah, lahir ketenangan yang tidak bergantung pada balasan. Cinta menjadi ruang yang lapang—tempat dua jiwa bertemu tanpa saling menelan. Tidak ada lagi luka yang lahir dari ekspektasi berlebih, karena hati telah lebih dahulu menemukan rumahnya.
Pada akhirnya, cinta yang dimurnikan oleh iman tidak membuat manusia hancur ketika diuji. Ia justru menguatkan. Mengajarkan bahwa mencintai adalah seni melepaskan dengan penuh percaya. Bahwa cinta sejati tidak menjauhkan manusia dari Tuhannya, melainkan mengantarkannya semakin dekat.
Di sanalah cinta menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan sunyi menuju kedewasaan jiwa dan keutuhan iman.(Mae)

