LESINDO.COM – Dalam pakeliran wayang kulit, dunia tidak pernah tunggal. Ia selalu dibelah oleh dua kutub: Pandhawa dan Kurawa. Yang satu melambangkan laku kebajikan, kesabaran, dan pengendalian diri; yang lain mewakili ambisi, nafsu kuasa, serta kegelisahan batin yang tak pernah usai. Justru karena adanya dua kutub inilah cerita menjadi panjang, berlapis, dan hidup. Tanpa Kurawa, Pandhawa kehilangan ujian. Tanpa Pandhawa, Kurawa kehilangan cermin.
Wayang, dalam tradisi Jawa, bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Ia mengajarkan bahwa kehidupan memang tidak ditakdirkan steril dari pertentangan. Konflik bukan anomali, melainkan keniscayaan. Dan manusia—seperti para tokoh wayang—hadir dengan peran, watak, dan jalan hidupnya masing-masing.
Di dunia nyata hari ini, pakeliran itu seolah berpindah panggung. Bukan lagi di balik kelir dengan cahaya blencong, melainkan di layar gawai, ruang diskusi publik, hingga kolom komentar media sosial. Hitam dan putih saling berhadapan, masing-masing membawa argumen, sudut pandang, dan keyakinan bahwa dirinyalah yang paling benar. Perselisihan pun tak lagi selesai dalam satu babak; ia bisa berjilid-jilid, berulang, dan sering kali kehilangan ujung.
Yang menarik, semakin keras sebuah klaim kebenaran disuarakan, semakin sering pula kita menemukan kegaduhan. Kata-kata menjadi senjata. Nada bicara meninggi. Adab kerap tercecer di tengah debat yang riuh. Padahal, dalam kebijaksanaan Jawa, kebenaran sejati justru tidak gemar berteriak. Ia berjalan pelan, teduh, dan tahu diri.
Jika diperhatikan dengan saksama, orang yang baik—dan sering kali benar—tidak sulit dikenali. Bukan dari panjangnya argumen, melainkan dari caranya berbicara. Dari pilihan kata yang tidak melukai, dari kesediaan mendengar sebelum menjawab, serta dari sikap menghargai orang lain meski berbeda pandangan. Dalam dirinya, adab berdiri lebih tinggi daripada ego. Ia paham bahwa menang debat tidak selalu berarti menang dalam kemanusiaan.
Orang semacam ini tidak sibuk memamerkan kebaikan. Ia tidak tergesa mencari pengakuan, apalagi validasi. Kebaikan baginya bukan proyek pencitraan, melainkan laku hidup. Seperti air yang mengalir ke tempat rendah, kebaikan menemukan jalannya sendiri—tanpa perlu diumumkan.
Sebaliknya, mereka yang paling haus akan perhatian sering kali adalah mereka yang paling keras menuntut pengakuan kebenaran. Ada kegelisahan batin yang ingin ditenangkan dengan tepuk tangan, dengan sorak setuju, dengan angka-angka persetujuan. Kebenaran, bagi mereka, harus diakui, disahkan, dan dirayakan. Tanpa itu, mereka merasa hilang.
Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, godaan untuk menjadi Kurawa—dalam makna simboliknya—memang besar. Ambisi, gengsi, dan hasrat untuk unggul sering kali menyamar sebagai perjuangan kebenaran. Padahal, sebagaimana dalam kisah wayang, Kurawa bukan selalu jahat karena tidak tahu yang baik, melainkan karena enggan menundukkan diri.
Pandhawa pun bukan tanpa cela. Mereka juga manusia, juga pernah goyah. Namun yang membedakan adalah kesediaan untuk kembali pada laku utama: sabar, andhap asor, dan setia pada nilai, bukan sorak.
Mungkin, di zaman ini, kita tidak lagi membutuhkan jawaban siapa yang benar dan siapa yang salah secara mutlak. Yang lebih mendesak adalah pertanyaan: bagaimana kita bersikap di tengah perbedaan? Apakah kita memilih menjadi tokoh yang menenangkan lakon, atau justru memperpanjang keributan?
Seperti dalam wayang, dunia akan selalu ramai oleh pertentangan. Tetapi kualitas sebuah zaman—dan kualitas diri kita—ditentukan oleh peran apa yang kita pilih untuk dimainkan. Menjadi suara yang gaduh, atau menjadi keheningan yang meneduhkan.
Sebab pada akhirnya, kebaikan tidak menuntut panggung. Ia cukup hidup, bekerja, dan memberi makna—diam-diam, tetapi tahan lama. (Hib)

