spot_img
BerandaHumanioraDi Antara Motor Tua dan Harapan yang Tak Kunjung Tiba

Di Antara Motor Tua dan Harapan yang Tak Kunjung Tiba

Di antara motor tua dan harapan yang tak kunjung tiba, ia tetap melaju. Pelan, tetapi pasti. Dan barangkali, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya: bukan pada apa yang akhirnya kita miliki, melainkan pada kesanggupan untuk terus berjalan, meski jalan itu tak selalu rata.

LESINDO.COM – Sudah lama kami tak bersua. Ketika akhirnya bertemu, ia langsung bercerita panjang—seolah waktu yang terpisah berbulan-bulan itu harus dibayar lunas dalam satu sore. Senyumnya mengembang, tetapi ada gurat tipis di wajahnya—semacam kecewa yang berusaha disamarkan. Ia menutupinya dengan kisah tentang motor yang kini ia tunggangi.

“Tahun 2000 masih pakai motor butut keluaran 1975,” katanya sambil tertawa kecil. Motor tua itu pernah menjadi “kendaraan tempur”-nya, menembus jarak 20 kilometer setiap hari demi sampai ke sekolah tempat ia mengajar. Satu-satunya alat transportasi, satu-satunya harapan agar tetap bisa mengabdi. Kini motornya sudah berganti keluaran 2010—meski tangan kedua. Baginya, itu sudah seperti lompatan zaman.

Ia adalah guru P3K paruh waktu. Status yang terdengar lebih pasti daripada honorer, tetapi belum sepenuhnya memberi kepastian. Ketika SK dengan NIP akhirnya terbit, harapan sempat tumbuh tinggi. Ia membayangkan SK itu bisa menjadi pintu akses pinjaman bank—digadaikan demi sedikit merenovasi rumah agar tampak lebih layak. Angan-angan itu disusunnya pelan-pelan, seperti ia menyusun soal ujian untuk murid-muridnya.

Namun kenyataan tak selalu sejalan dengan rencana. Gaji yang diterimanya tak seperti P3K pada umumnya. Angka-angka di slip itu seolah memupus mimpi yang sudah lebih dulu dirancang. Renovasi rumah kembali menjadi wacana, pinjaman bank urung dibicarakan.

“Ya sudah, dijalani saja,” ucapnya, setengah pasrah.

Sepulang mengajar, ia tak langsung pulang. Masih ada pekerjaan sambilan di tempat penyembelihan ayam potong. Upahnya sekitar enam ratus ribu rupiah per bulan. Tidak besar, tetapi cukup untuk menambal kekurangan. Waktu bersama keluarga pun menjadi barang mewah. Pagi untuk sekolah, sore hingga petang untuk sambilan. Malam hari baru ia benar-benar menjadi ayah dan suami—meski dalam tubuh yang lelah.

Saya mendengarnya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada getir. Di sisi lain, ada keteguhan yang tak semua orang miliki. Ia tidak berhenti bekerja. Tidak pula berhenti berharap.

“Bersyukur saja. Kita tidak pernah tahu nasib nanti seperti apa. Jalani dan lakukan yang terbaik,” kataku pelan, lebih seperti menguatkan diri sendiri.

Dalam hidup, sering kali kita terjebak pada apa yang belum dimiliki. Pekerjaan mentereng, gaji besar, rumah layak, pendidikan terbaik untuk anak—semua itu wajar diinginkan. Namun, apakah semuanya menjamin kebahagiaan? Belum tentu. Kadang, yang tampak sebagai kekurangan justru menjadi ruang belajar paling sunyi.

Kesehatan adalah nikmat. Pekerjaan—betapa pun sederhana—adalah anugerah yang banyak diimpikan mereka yang menganggur. Bahkan ujian pun adalah cara Tuhan mengukur daya tahan dan kedewasaan. Kekayaan adalah ujian. Rumah megah dan mobil bagus pun ujian. Hanya saja, kita lebih mudah melihat kekurangan sendiri ketimbang menyadari karunia yang sudah digenggam.

Ia mungkin belum memiliki rumah yang dibongkar dan dibangun ulang. Tetapi ia memiliki tenaga untuk bekerja. Ia belum menerima gaji seperti yang dibayangkan, tetapi ia masih diberi kesempatan mengajar—menyalakan pelita kecil di ruang kelas yang mungkin tak banyak disorot.

Di antara motor tua dan harapan yang tak kunjung tiba, ia tetap melaju. Pelan, tetapi pasti. Dan barangkali, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya: bukan pada apa yang akhirnya kita miliki, melainkan pada kesanggupan untuk terus berjalan, meski jalan itu tak selalu rata. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments