spot_img
BerandaJelajahDi Antara Cukup dan Cemas

Di Antara Cukup dan Cemas

Dari situlah rasa syukur mengambil peran yang sering diremehkan. Ia bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan cara pandang. Orang yang bersyukur tidak berhenti berusaha, tetapi ia berhenti merasa hidupnya selalu terancam. Ia tidak lagi berlari tanpa henti, karena ia tahu kapan harus berhenti dan mengakui: “Ini sudah cukup, untuk hari ini.”

LESINDO.COM – Ada satu jenis kegelisahan yang tidak berisik, tetapi menetap. Ia tidak selalu tampak di wajah, tidak selalu terucap dalam kata, namun diam-diam mengendap dalam dada—seperti seseorang yang berjalan perlahan di atas jembatan rapuh, menggantung di antara apa yang telah berlalu dan apa yang belum tiba.

Kita menyebutnya: takut akan esok hari.

Padahal, jika mau jujur sejenak, hari kemarin tidak pernah benar-benar mengkhianati kita. Selalu ada cara hidup mencukupkan diri—meski sering kali tidak sesuai rencana. Sepiring makanan datang di saat lapar, pertolongan hadir di saat genting, atau sekadar ketenangan yang muncul tiba-tiba di tengah kekacauan. Namun anehnya, semua itu seperti mudah terhapus begitu kalender berganti. Kita kembali cemas, seolah-olah hidup harus dimulai dari nol setiap pagi.

Di titik inilah manusia sering terjebak: merasa kekurangan bukan karena benar-benar kurang, melainkan karena lupa.

Ingatan kita, tampaknya, lebih setia menyimpan apa yang belum ada daripada apa yang sudah diterima. Kita lebih fasih menghitung kemungkinan buruk dibandingkan mengingat kebaikan yang telah terjadi. Masa depan, dengan segala ketidakpastiannya, diperlakukan seperti ancaman yang berdiri sendiri—tanpa hubungan apa pun dengan hari-hari yang telah berhasil kita lewati.

Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.

Ia bukan potongan-potongan waktu yang terpisah, melainkan satu tarikan napas panjang yang saling terhubung. Apa yang mencukupkan kemarin tidak tiba-tiba berhenti bekerja hari ini. Namun karena manusia memiliki hasrat kuat untuk merasa mengendalikan, ketidakpastian menjadi sesuatu yang menakutkan. Kita ingin memastikan segalanya—termasuk rezeki, termasuk masa depan.

Dan di situlah kecemasan mulai tumbuh.

Barangkali yang sering kita lupa adalah bahwa tidak semua yang kita miliki hari ini adalah hasil dari rencana kita sendiri. Ada begitu banyak peristiwa yang datang tanpa kita duga, tanpa kita rancang, bahkan tanpa kita bayangkan sebelumnya. Sebagian di antaranya justru menjadi penyelamat.

Namun logika manusia cenderung sempit. Kita mengira rezeki hanya berbentuk angka dan benda. Kita lupa bahwa sehat adalah kecukupan, waktu adalah kecukupan, bahkan kemampuan untuk bertahan satu hari lagi pun adalah bentuk pemberian yang tidak kecil.

Akibatnya, kita menuntut masa depan untuk hadir sesuai bayangan kita—bukan sesuai kebutuhan kita.

Di sisi lain, ada orang-orang yang hidup dengan cara berbeda. Mereka tetap bekerja, tetap merencanakan, tetapi tidak menjadikan masa depan sebagai sumber ketakutan. Mereka melihat esok sebagai ruang kemungkinan, bukan ancaman. Bukan karena mereka tahu apa yang akan terjadi, melainkan karena mereka percaya pada sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Kepercayaan itu sederhana: jika kemarin saja dicukupkan, maka esok tidak akan dibiarkan kosong.

Dari situlah rasa syukur mengambil peran yang sering diremehkan. Ia bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan cara pandang. Orang yang bersyukur tidak berhenti berusaha, tetapi ia berhenti merasa hidupnya selalu terancam. Ia tidak lagi berlari tanpa henti, karena ia tahu kapan harus berhenti dan mengakui: “Ini sudah cukup, untuk hari ini.”

Namun mempercayai hidup bukan perkara mudah. Kita terbiasa memikul beban yang bahkan belum diberikan. Kita cemas terhadap kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi, menghabiskan energi untuk masa depan yang masih berupa bayangan. Tanpa sadar, kita sedang menambah berat hidup kita sendiri.

Padahal ada kebijaksanaan sederhana yang sering terlewat: hadir sepenuhnya di hari ini.

Bukan berarti mengabaikan masa depan, melainkan tidak mendahuluinya dengan ketakutan. Karena sering kali, apa yang kita khawatirkan tidak pernah benar-benar terjadi. Dan jika pun terjadi, kita selalu menemukan cara untuk melewatinya—seperti yang sudah-sudah.

Pada akhirnya, hidup mungkin tidak pernah benar-benar memberi kepastian. Ia justru menawarkan sesuatu yang lebih sulit: ketidaktahuan. Dan di situlah manusia diuji—apakah ia akan terus melawan dengan kecemasan, atau mulai berdamai dengan kepercayaan.

Sebab ada perbedaan tipis namun mendalam antara berharap dan percaya. Berharap masih menyisakan ruang ragu. Sementara percaya melahirkan ketenangan, bahkan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Dan mungkin, di sanalah letak damai yang selama ini kita cari—bukan pada kepastian tentang masa depan, melainkan pada keyakinan bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.

Karena jika hari kemarin saja telah membuktikan bahwa hidup ini dijaga, barangkali yang perlu kita tanyakan bukan lagi: “Apa yang akan terjadi esok?”

Melainkan: mengapa kita masih ragu pada tangan yang sama yang telah berkali-kali mencukupkan kita? (Abi)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments