Oleh Tunggul Abyasa
LESINDO.COM- Politik kita hari ini lebih mirip pasar malam daripada ruang pendewasaan. Riuh, gaduh, penuh teriakan, tetapi miskin makna. Yang dijajakan bukan gagasan, melainkan cacian; bukan kerja nyata, melainkan saling membuka aib. Kekurangan dicari-cari, prestasi dikaburkan, dan jika tak menemukan kesalahan, maka nada suara dinaikkan—seolah volume bisa menggantikan isi.
Dalam panggung politik semacam ini, kedewasaan dianggap barang mewah. Terlalu mahal, terlalu lama, terlalu ribet. Maka yang dipilih adalah strategi paling murah meriah: mencaci, menghujat, memelintir fakta, dan menyulut emosi. Tak perlu riset, tak perlu program, apalagi keberanian untuk bekerja sunyi. Cukup satu potongan video, satu kalimat provokatif, satu isu separuh matang—lalu massa bergerak seperti kawanan semut mencium gula.
Politik instan adalah politik yang malas berpikir. Ia tidak sabar menunggu proses, tidak mau menanam sebelum memanen. Semua ingin cepat, ingin viral, ingin menang sekarang juga. Soal dampaknya lima atau sepuluh tahun ke depan, itu urusan nanti—atau lebih tepatnya, urusan orang lain. Yang penting hari ini terlihat unggul, meski besok negeri ini menanggung luka.
Maka jangan heran jika gerakan nyata jarang muncul. Membuat masyarakat simpati lewat kerja sungguh-sungguh memang butuh biaya besar dan waktu panjang. Membangun pendidikan politik, meningkatkan literasi, memperbaiki kesejahteraan—semua itu tidak bisa dipotret dalam satu unggahan media sosial. Tidak seksi. Tidak cepat. Tidak menghasilkan tepuk tangan instan. Lebih mudah menyerang lawan daripada membenahi sistem.
Di sinilah tragedi itu bermula: yang dikorbankan selalu mereka yang paling rapuh—masyarakat yang kurang informasi, kurang literasi, dan lelah oleh hidup itu sendiri. Mereka diseret ke arena pertengkaran elite, dijadikan amunisi, dipinjam suaranya, lalu ditinggalkan setelah pesta usai. Mereka diajak membenci tanpa sempat memahami, disuruh memilih tanpa pernah benar-benar diberi pilihan yang sehat.
Satirnya, semua pihak mengaku membela rakyat, tetapi tak satu pun mau bersusah payah mencerdaskan rakyat. Rakyat dipuji sebagai sumber kedaulatan, namun diperlakukan seperti kerumunan yang cukup diberi slogan. Dalam politik semacam ini, akal sehat dianggap ancaman, sementara emosi adalah komoditas paling laris.
Padahal sejarah—dan kearifan Jawa telah lama mengingatkan—bahwa yang serba instan jarang bertahan lama. Alon-alon waton kelakon bukan ajaran kemalasan, melainkan kesadaran bahwa proses adalah fondasi. Bangunan yang dibangun tergesa-gesa mungkin cepat berdiri, tetapi ia juga cepat runtuh. Sebaliknya, yang dibangun dengan kesabaran memang lambat terlihat, namun akarnya menghujam dalam.
Namun politik kita terlanjur alergi pada kata “proses”. Ia lebih suka jalan pintas, meski harus melewati ladang ranjau. Maka kita hidup di negeri yang mudah diadu, mudah tersinggung, mudah dibakar isu—tetapi sulit diajak berpikir panjang. Setiap musim politik datang, nalar dikalahkan oleh sorak-sorai, dan kebijaksanaan kalah oleh keberanian berteriak.
Barangkali masalahnya bukan semata pada elite, tetapi juga pada ekosistem yang kita rawat bersama. Selama kita masih menikmati tontonan saling hujat sebagai hiburan, selama kebencian terasa lebih mengasyikkan daripada diskusi, selama yang viral dianggap lebih benar daripada yang benar—selama itu pula politik kita akan terus kekanak-kanakan.
Dan pada akhirnya, kita hanya bisa bertanya dengan getir:
apakah politik yang tidak mendewasakan ini cermin dari elite yang kekanak-kanakan, atau justru bayangan dari masyarakat yang dibiarkan terus-menerus lapar akan pengetahuan, tetapi kenyang oleh emosi?
Cermin itu ada di depan kita. Masalahnya, beranikah kita membersihkannya—atau kita lebih nyaman terus melempar batu, sambil berpura-pura tak pernah bercermin?

