LESINDO.COM – Matahari baru saja menyingkap wajahnya dari balik perbukitan Lombok ketika tanah lapang itu mulai berdenyut. Udara pagi yang tadinya jinak berubah menjadi panas yang menggigit kulit. Di sekeliling arena, manusia berjejal—lelaki, perempuan, anak-anak—semua menunggu satu hal: dentuman rotan yang akan membuka ritual lama bernama Peresean.
Tetabuhan gending Prerancak pun bertalu. Kendang dipukul cepat, ritmenya mendesak, seperti mengingatkan bahwa hari ini bukan hari biasa. Ini hari ketika keberanian diuji, ketika tubuh manusia diserahkan pada adat, dan darah menjadi bahasa doa.
Di tengah lingkaran, dua lelaki berdiri berhadap-hadapan. Dada mereka terbuka, mengilap oleh keringat yang belum sempat jatuh. Mata mereka tajam, bukan karena amarah, melainkan kesiapan. Mereka disebut pepadu—bukan sekadar petarung, melainkan wakil dari kehormatan kampung, penjaga marwah lelaki Sasak.
Di tangan kanan mereka, tergenggam penjalin, rotan keras yang ujungnya dibalut aspal dan serpihan beling. Senjata yang tak mengenal kompromi. Di tangan kiri, sebuah ende—perisai kayu berlapis kulit sapi—menjadi satu-satunya tameng antara hidup dan luka.
Seorang pekembar, wasit adat yang suaranya lebih dihormati daripada teriakan penonton, mengangkat tangan. Isyarat diberikan. Arena mendadak sunyi—sejenak saja—sebelum suara pertama menghantam udara.
“Cetaaarr!”
Rotan beradu perisai. Suaranya kering, tajam, memantul ke segala arah. Kedua pepadu bergerak cepat, kaki mereka menari di atas tanah kering yang segera berubah menjadi kabut debu. Bukan tarian untuk keindahan, melainkan strategi. Setiap langkah adalah tipu daya, setiap loncatan adalah upaya membuka celah di balik perisai lawan.
Sesekali mereka saling mendekat, saling mengintimidasi dengan gerak tubuh. Ini bukan ejekan lisan, melainkan bahasa keberanian. Bahasa yang mengatakan: aku siap terluka, asal tidak mundur.
Bagi penonton, Peresean sering dibaca sebagai tontonan kejantanan—adu fisik yang keras, brutal, dan berdarah. Namun bagi masyarakat Sasak, maknanya jauh lebih dalam. Ini bukan sekadar adu nyali, melainkan dialog spiritual antara manusia dan alam.
Tanah yang diinjak para pepadu dipercaya sedang “mendengar”. Setiap tetes darah yang jatuh bukanlah kehinaan, melainkan persembahan. Darah adalah pancingan—umpan bagi langit agar berkenan menurunkan hujan. Semakin sengit pertarungan, semakin besar harapan awan akan berkumpul di atas sawah-sawah yang mulai retak oleh kemarau.
Rotan kembali menghantam. Kali ini mengenai bahu. Kulit terbelah, merah segera mengalir. Penonton bersorak—bukan karena benci, melainkan kagum. Pepadu yang terluka tak jatuh. Ia justru tersenyum, seolah luka itu hanya bagian kecil dari kesepakatan yang telah ia buat dengan adat.
Tak ada dendam di matanya. Yang ada hanya keteguhan: bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang bisa diterima, selama membawa makna bagi banyak orang.
Gending terus mengalun. Pekembar mengawasi dengan cermat. Saat pukulan mulai terlalu keras atau emosi nyaris meluap, ia akan melerai. Dalam Peresean, batas kekerasan dijaga ketat. Ini bukan perkelahian liar. Ini ritual yang punya aturan, etika, dan akhir yang sudah ditentukan.
Peluit panjang akhirnya terdengar. Pertarungan usai.
Dua pepadu itu berhenti. Napas mereka memburu. Tubuh mereka penuh debu dan luka. Namun di detik berikutnya, mereka saling mendekat—bukan untuk menyerang, melainkan berpelukan. Tangan yang tadi menggenggam penjalin kini menepuk punggung lawan. Batas antara musuh dan kawan lenyap seketika.
Di situlah Peresean menunjukkan wajah aslinya.
Bahwa keberanian tidak selalu tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang menaklukkan diri sendiri. Bahwa luka tidak selalu berarti kebencian. Dan bahwa adat mengajarkan: setelah keras, harus ada damai.
Langit Lombok masih biru hari itu. Awan belum datang. Namun masyarakat Sasak percaya, doa telah disampaikan. Tanah sudah diberi tanda. Tinggal menunggu waktu.
Di ujung penjalin yang berlumur debu dan darah, Peresean terus hidup—sebagai warisan, sebagai doa, dan sebagai pengingat bahwa di antara rasa sakit dan harapan, manusia selalu mencari berkah untuk tetap bertahan.(mac)

