spot_img
BerandaHumanioraDari Tuduhan ke Simpati: Jalan Sunyi Penjual Es yang Akhirnya Disambut Kepedulian

Dari Tuduhan ke Simpati: Jalan Sunyi Penjual Es yang Akhirnya Disambut Kepedulian

Perlakuan yang tidak mengenakkan itu kini perlahan digantikan simpati. Bukan karena Sudrajat meminta, tetapi karena nurani publik akhirnya tergerak. Hidup memang kerap menampar tanpa aba-aba, tetapi kadang, setelahnya, ia mengusap dengan cara yang tak terduga.

Di Antara Air Mata dan Deru Mesin Baru

LESINDO.COM – Pagi itu, rumah sederhana Sudrajat tak lebih ramai dari hari-hari biasanya. Dindingnya masih sama, lantainya tetap dingin, dan udara di sekitarnya masih membawa sisa-sisa luka yang belum sepenuhnya kering. Namun Selasa itu berbeda. Ada suara mesin motor baru yang memecah sunyi—bukan sekadar bunyi kendaraan, melainkan tanda bahwa hidup, betapapun pahitnya, kadang memberi jeda untuk bernapas.

Kapolres Depok, Kombes Abdul Waras, datang langsung ke kediaman Sudrajat. Ia tak mengutus ajudan, tak pula sekadar menitipkan bantuan. Ia hadir, menyapa, dan menyerahkan hadiah motor—sebuah alat kerja, sekaligus simbol pemulihan martabat bagi tukang es gabus yang sempat dilumat prasangka.

Sudrajat, lelaki yang sehari-hari mendorong harapan lewat gerobak es di Kemayoran, hanya menunduk. Senyumnya tipis, matanya basah. Ia bukan tak bahagia, tetapi barangkali belum sepenuhnya percaya bahwa hidup bisa secepat ini berbelok arah: dari tuduhan, trauma, dan rasa diperlakukan bukan sebagai manusia, menuju simpati yang mengalir deras tanpa ia minta.

Sebelumnya, bantuan juga datang dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi. Pemkab Bogor pun ikut menyambung kepedulian—sembako untuk hari ini, dan janji masa depan untuk anak-anak Sudrajat agar tetap bisa bersekolah. Di tengah luka yang belum lama tergores, negara seolah belajar kembali cara hadir: tidak dengan suara keras, tetapi dengan tangan yang mengulurkan.

Ada sedih yang tak bisa dihapus begitu saja. Trauma tidak pergi hanya karena motor baru atau paket sembako. Nama baik yang sempat runtuh tidak serta-merta pulih oleh sorotan kamera. Namun di sela semua itu, ada gembira kecil yang jujur: bahwa Sudrajat tak sepenuhnya sendiri.

“Apapun jalani saja,” begitu ia berujar pelan. Seolah ia telah berdamai dengan satu keyakinan: manusia tak pernah benar-benar tahu skenario Tuhan. Tugasnya hanya berjalan, dengan ketulusan, tanpa banyak protes dan keluh. Seperti air—mengalir, menerima bentuk, sabar menunggu muara.

Perlakuan yang tidak mengenakkan itu kini perlahan digantikan simpati. Bukan karena Sudrajat meminta, tetapi karena nurani publik akhirnya tergerak. Hidup memang kerap menampar tanpa aba-aba, tetapi kadang, setelahnya, ia mengusap dengan cara yang tak terduga.

Di rumah sederhana itu, sedih belum sepenuhnya pergi. Namun gembira telah mengetuk pintu. Dan Sudrajat, dengan segala kesahajaannya, kembali mendorong harapan—kali ini dengan mesin baru, dan keyakinan lama: bahwa sabar, pada waktunya, selalu menemukan jalannya sendiri.(mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments