Sugeng Ambal Warso Kota Solo
LESINDO.COM – Pagi di Solo selalu datang dengan cara yang berbeda. Kadang ia menyapa lewat embun di daun pisang, kadang melalui aroma nasi liwet yang mengepul dari sudut kampung, atau denting gamelan yang mengalun lirih dari balik tembok keraton. Di kota ini, waktu tidak berlari—ia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi warganya untuk mengingat siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Hari ini, 17 Februari 2026, Kota Surakarta genap berusia 281 tahun. Usia yang tidak lagi muda, namun justru kian matang dalam memeluk perubahan tanpa melepaskan akar.
Sejak perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala pada 1745, Solo tumbuh bukan sekadar sebagai kota administratif, melainkan sebagai ruang hidup kebudayaan. Ia menyebut dirinya “The Spirit of Java”, bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai pengakuan bahwa denyut jantungnya berdetak seirama dengan sejarah, tradisi, dan manusia-manusia yang setia menjaganya. Di balik lalu lintas yang kini kian padat dan bangunan modern yang menjulang, Solo tetap menyimpan napas lama: sopan, teduh, dan penuh rasa.
Di pendapa-pendapa tua, suara gamelan masih mengalun, mengikat masa lalu dengan hari ini. Di Laweyan dan Kauman, tangan-tangan perajin batik menari di atas kain, melukis motif yang tak sekadar indah, tetapi sarat makna. Kirab pusaka masih berjalan dalam hening sakral, mengingatkan bahwa budaya di Solo bukan benda mati yang dipajang di museum, melainkan cara hidup yang terus bergerak bersama warganya. Di sinilah makna berbudaya menemukan wujudnya: sebagai akar yang tak pernah lapuk, meski diterpa zaman.
Namun Solo tidak berhenti pada romantika masa silam. Kota ini belajar berdiri lebih tegak, menatap masa depan dengan keberanian. Pasar-pasar direvitalisasi, ruang kreatif tumbuh di sudut-sudut kota, anak-anak muda menjadikan tradisi sebagai inspirasi, bukan beban. Inilah wajah pradaya—produktif dan berdaya saing—yang lahir dari keberanian bertransformasi tanpa tercerabut dari nilai lokal.
Kesejahteraan di Solo tidak selalu tercermin dari gemerlap bangunan atau angka statistik. Ia hidup dalam senyum tetangga, dalam gotong royong yang masih terasa hangat, dalam filosofi nguwongke wong—memanusiakan manusia. Kota ini percaya bahwa sejahtera bukan sekadar tentang memiliki, melainkan tentang berbagi dan merasa cukup bersama. Di sini, setiap orang diajak berjalan beriringan, bukan saling meninggalkan.
Menjadi Wong Solo di usia kota yang ke-281 berarti menjadi pribadi yang lentur: mampu menyeruput kopi di kafe kekinian, namun tetap paham filosofi batik Parang; menikmati modernitas, tanpa lupa menunduk hormat pada tradisi. Solo mengajarkan bahwa identitas bukan beban masa lalu, melainkan cahaya yang menerangi langkah ke depan.
Di kota ini, waktu seolah melambat agar manusia sempat bersyukur, namun kreativitasnya bergerak cepat melampaui batas. Dan pada hari jadinya yang ke-281, Solo kembali membuktikan: ia bukan sekadar tempat tinggal, tetapi rumah yang selalu dirindukan.
Sugeng Ambal Warsa, Kota Surakarta.
Tetaplah bersinar, tetap andhap asor, dan teruslah menjadi ruang di mana tradisi dan masa depan berdamai dalam harmoni. (Joe)

