spot_img
BerandaHumanioraDari Makhluk Biologis Menuju Makhluk Humanis

Dari Makhluk Biologis Menuju Makhluk Humanis

Naik ke kelas berikutnya adalah sebuah lompatan kuantum. Menjadi manusia bukanlah sebuah takdir medis, melainkan sebuah pilihan moral. Di level kedua ini, kita mulai merobohkan dinding ego yang tebal.

LESINDO.COM – Seringkali kita terjebak dalam definisi sempit tentang “bertahan hidup.” Kita mengira bahwa selama paru-paru masih menghirup oksigen dan jantung masih memompa darah, maka kita telah sepenuhnya hidup. Padahal, alam semesta menyediakan spektrum yang jauh lebih lebar bagi mereka yang berani melampaui batas kulitnya sendiri.

 Ambang Luka Diri

Pada level pertama, kita adalah subjek biologis. Luka adalah mekanisme alarm; rasa sakit adalah bukti otentik bahwa sistem syaraf kita bekerja dengan sempurna. Saat jemari teriris atau hati terpatahkan oleh ekspektasi, rasa perih itu hadir untuk melindungi kita.

Ini adalah fase “Aku”. Di sini, dunia berputar di sekeliling poros kepentingan pribadi. Rasa sakit di level ini bersifat soliter dan primitif. Merasakan pedihnya luka sendiri hanyalah syarat dasar untuk bernapas, sebuah insting purba untuk tetap utuh secara fisik. Namun, jika kita berhenti di sini, kita tak lebih dari sekadar organisme yang berfungsi—kita hidup, tapi belum tentu benar-benar “ada.”

Jembatan Empati

Naik ke kelas berikutnya adalah sebuah lompatan kuantum. Menjadi manusia bukanlah sebuah takdir medis, melainkan sebuah pilihan moral. Di level kedua ini, kita mulai merobohkan dinding ego yang tebal.

Nilai kemanusiaan kita tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak saat terluka, melainkan dari seberapa hening kita mampu mendengarkan rintihan orang lain. Ketika kita melihat penderitaan sesama dan merasakan sesak yang sama di dada kita—padahal luka itu bukan milik kita—di situlah empati lahir.

“Menjadi manusia berarti membiarkan jantung kita berdetak dalam ritme penderitaan orang lain.”

Di titik ini, kita tidak lagi sekadar “hidup untuk diri sendiri.” Kita mulai memahami bahwa fungsi tertinggi dari keberadaan kita adalah menjadi peredam bagi rasa sakit di sekitar kita. Kita menjadi manusia saat kita mampu berkata: “Luka itu ada di tubuhmu, tapi perihnya sampai ke jiwaku.”

Intisari Eksistensial

Pada akhirnya, perjalanan hidup adalah proses migrasi dari “merasakan” menuju “memedulikan.” Hidup yang bermakna adalah hidup yang telah lulus dari ujian egoisme. Jika hidup hanya tentang menghindari luka diri sendiri, kita hanyalah penyintas. Namun, jika hidup adalah tentang membalut luka orang lain, kita adalah manusia. Karena pada detik terakhir nanti, yang dihitung bukan berapa kali kita berhasil menghindari sakit, melainkan berapa banyak beban orang lain yang pernah kita bantu ringankan.(Rai)

Artikulli paraprak
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments