Oleh You Srie
Mereka yang hari ini duduk rapi di kursi empuk kekuasaan—di legislatif maupun yudikatif—sebagian besar bukan orang asing bagi kata rakyat. Dulu, mereka akrab dengan teriakan di jalanan, spanduk lusuh, dan idealisme yang dipinjamkan sejarah kepada usia muda. Mereka pernah percaya bahwa negara bisa diselamatkan dengan keberanian dan akal sehat.
Namun kekuasaan adalah ruang berpendingin. Ia menenangkan, membius, dan perlahan memudarkan panas idealisme. Api yang dulu menyala untuk keadilan, kini cukup hangat untuk kepentingan. Bukan karena mereka lupa, tetapi karena mengingat terlalu mahal ongkosnya.
Masuk ke dunia birokrasi dan politik, idealisme seperti jaket almamater: disimpan rapi di lemari kenangan. Tak bisa dipakai lagi, apalagi dibanggakan. Mereka tak mungkin mundur—apalagi kembali menjadi mahasiswa yang bebas berteriak tanpa beban. Kini setiap keputusan punya harga, dan setiap kebijakan punya sponsor tak tertulis.
Ironisnya, negeri ini tak pernah kekurangan aturan. Meja-meja birokrasi berjejer rapi seperti labirin. Setiap urusan harus melewati banyak pintu, banyak tanda tangan, banyak cap. Tetapi anehnya, semua itu bisa dilompati dengan satu aroma yang sama: uang. Meja yang seharusnya menghambat justru menjadi jalan pintas. Potong kompas, potong prosedur, potong nurani—dan urusan pun meluncur mulus.
Operasi Tangkap Tangan datang silih berganti seperti musim hujan. Tak pernah benar-benar mengejutkan, hanya berganti nama dan jabatan. Seolah korupsi bukan kejahatan, melainkan risiko jabatan yang sudah dihitung sejak awal. Tidak ada efek jera, karena penjara hanya jeda, bukan akhir.
Yang lebih getir, bukan hanya mereka yang kekurangan yang tergoda. Mereka yang sudah berlimpah pun masih mengulurkan tangan ke kegelapan. Seorang mantan menteri pendidikan, misalnya, didakwa memperkaya diri sendiri atau orang lain hingga ratusan miliar rupiah. Angka itu dibacakan jaksa dengan suara datar—seolah hanya deretan digit, bukan pengkhianatan terhadap masa depan generasi.
Begitulah negeri ini berjalan: aturan bertumpuk, tetapi mudah diatur; hukum terlihat tegas, tetapi lentur bagi yang paham celah. Semua rapi di atas kertas, tetapi bocor di hati para pengambil kebijakan.
Dan rakyat? Tetap belajar sabar. Menonton para mantan aktivis yang dulu bersumpah setia pada keadilan, kini piawai menghafal kepentingan. Di negeri ini, idealisme memang tidak mati—ia hanya dikubur hidup-hidup, agar tak mengganggu kenyamanan.

