spot_img
BerandaHumanioraDari Dada ke Mushaf: Jejak Cahaya yang Dijaga Zaman

Dari Dada ke Mushaf: Jejak Cahaya yang Dijaga Zaman

Wafatnya Nabi menghadirkan keguncangan yang bukan hanya emosional, tetapi juga epistemologis. Bagaimana menjaga wahyu agar tetap utuh ketika sang penerima telah tiada?

Oleh : Yai Kampung

LESINDO.COM – Di sebuah ruang sunyi bernama Gua Hira, sejarah tidak turun dalam bentuk kitab berjilid rapi. Ia turun sebagai getar yang mengguncang dada seorang manusia bernama Muhammad. Wahyu pertama bukanlah lembaran, melainkan suara. Bukan tinta, melainkan cahaya yang menembus relung batin.

Sejak saat itu, Al-Qur’an tidak lahir sebagai teks mati. Ia hidup dalam denyut nadi komunitas kecil yang beriman. Ia dihafal sebelum dituliskan, dirasakan sebelum dirumuskan. Pada masa kenabian, mushaf paling otentik bukanlah yang tersimpan di rak, melainkan yang bersemayam di dada.

Mushaf yang Bernapas

Di Madinah, ayat-ayat turun mengikuti denyut peristiwa. Kadang ia hadir sebagai penghibur, kadang sebagai penegur. Para sahabat mendengarkannya langsung dari lisan Nabi, lalu mengulanginya dalam shalat malam, dalam perjalanan, dalam percakapan sehari-hari.

Beberapa di antara mereka menuliskannya di pelepah kurma, tulang belulang, atau lembaran kulit. Namun tulisan itu hanyalah jejak. Sumber utamanya tetap hafalan. Tradisi lisan menjadi benteng pertama—sebuah peradaban yang menempatkan ingatan sebagai ruang suci.

Nabi bukan hanya penyampai, melainkan penafsir. Urutan ayat, konteks turunnya, hingga cara membacanya—semua berada dalam bimbingan beliau. Al-Qur’an saat itu adalah percakapan yang terus bergerak, bukan dokumen yang selesai.

Ketika Cahaya Harus Diamankan

Wafatnya Nabi menghadirkan keguncangan yang bukan hanya emosional, tetapi juga epistemologis. Bagaimana menjaga wahyu agar tetap utuh ketika sang penerima telah tiada?

Di tengah kekhawatiran itu, terutama setelah banyak penghafal gugur dalam pertempuran, muncul kesadaran kolektif untuk mengumpulkan ayat-ayat yang tercecer. Atas usul Umar bin Khattab, Khalifah Abu Bakar memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kompilasi.

Tugas itu diamanahkan kepada Zayd ibn Thabit—seorang penulis wahyu yang dikenal cermat. Ia tidak sekadar mengumpulkan, tetapi memverifikasi. Setiap ayat harus disaksikan oleh hafalan dan catatan tertulis. Lisan dan tulisan saling menguatkan, bukan menegasikan.

Proses itu bukan kerja administrasi semata. Ia adalah kerja batin, kerja iman. Setiap huruf diperlakukan sebagai amanah.

Standarisasi dan Kesatuan Umat

Waktu berlalu. Islam meluas melampaui jazirah. Perbedaan dialek mulai menimbulkan variasi bacaan. Dalam konteks inilah Khalifah Uthman ibn Affan mengambil langkah besar: menstandarkan mushaf agar umat tidak terpecah oleh perbedaan teknis pembacaan.

Salinan resmi dikirim ke berbagai wilayah, sementara varian yang berpotensi menimbulkan perbedaan signifikan ditarik. Langkah itu kerap disalahpahami sebagai penghapusan, padahal ia justru upaya menjaga kesatuan dan kemurnian.

Sejak saat itu, mushaf menjadi rujukan baku. Ia memiliki rasm (tulisan standar) yang sama, meski tetap memberi ruang bagi ragam qira’at yang sahih. Lidah, kertas, dan dada—tiga lapis penjagaan—berjalan beriringan.

Dari Artefak ke Kesadaran

Namun sejarah kodifikasi Al-Qur’an bukan sekadar kisah teknis pengumpulan teks. Ia adalah metafora tentang bagaimana kebenaran dijaga.

Pada mulanya, ia adalah pengalaman—getar wahyu di dada Nabi. Lalu ia menjadi kesadaran kolektif—hafalan dan penghayatan para sahabat. Kemudian ia dibakukan dalam bentuk mushaf—agar generasi demi generasi memiliki pegangan yang sama.

Kita hari ini memegang mushaf yang rapi, dicetak dengan teknologi modern, disertai tanda baca dan terjemahan. Tetapi pertanyaannya tetap sama seperti berabad lalu: di manakah ia bersemayam?

Jika ia hanya tinggal di rak, ia menjadi artefak. Jika ia hanya dibaca tanpa dipahami, ia menjadi ritual. Namun ketika ia diturunkan kembali ke dalam dada—diresapi, direnungkan, dan dihidupkan dalam laku—ia kembali menjadi cahaya.

Sejarah telah membuktikan bahwa teks bisa dijaga dengan tinta dan hafalan. Tetapi makna hanya bisa dijaga dengan kesadaran. Mushaf yang kita genggam adalah wadah lahiriah. Samudera maknanya menunggu untuk diselami.

Dan mungkin, setiap kali kita membacanya, kita sedang mengulang perjalanan yang sama: memindahkan cahaya dari lembaran ke dalam hati.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments