LESINDO.COM – Di sebuah ruang sunyi yang tak terlihat mata, manusia kerap duduk sendirian—tanpa toga, tanpa palu sidang—namun menjalani persidangan paling menentukan dalam hidupnya. Di sanalah ego menjadi pengacara yang fasih, dan nurani menjelma hakim yang tak pernah bisa disuap.
Kita, sering kali, adalah pembela paling gigih bagi kesalahan sendiri. Ketika tergelincir, akal segera merangkai dalih: keadaan memaksa, orang lain memulai, situasi tidak adil. Logika disusun rapi seperti berkas perkara. Bukti-bukti dipilih yang meringankan, saksi-saksi dihadirkan yang menguatkan narasi diri. Seakan-akan kebenaran bisa dibentuk sesuai kebutuhan.
Namun ada satu ruang yang tak tunduk pada retorika: hati nurani.
Di ruang itu, argumentasi menjadi sunyi. Kata-kata kehilangan daya sihirnya. Yang tersisa hanyalah getaran halus yang berkata lirih, “Engkau tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Jebakan Ego Akal
Akal adalah anugerah yang agung. Dengannya manusia membangun peradaban, menulis kitab-kitab ilmu, dan merancang masa depan. Namun akal juga memiliki sisi lain: ia lihai membenarkan apa yang ingin kita pertahankan.
Ego menyusup pelan, membungkus kesalahan dengan rasionalisasi. Kita tidak berbohong, kita hanya “menyederhanakan.” Kita tidak mengingkari, kita hanya “melindungi perasaan.” Kata-kata dipoles agar tampak terhormat. Padahal di balik itu, ada ketakutan untuk mengakui bahwa kita pernah salah.
Di sinilah kejujuran diuji. Apakah ia sekadar konsep yang kita puji dalam diskusi, atau prinsip yang kita peluk saat tak ada yang menonton?
Ketika Agama dan Cinta Menjadi Panggung
Tanpa kejujuran pada diri sendiri, bahkan hal yang paling sakral pun bisa berubah rupa.
Agama, misalnya. Ia bisa menjelma ritual yang rapi namun hampa, jika nurani tak diajak hadir. Gerakan tubuh tertib, lafaz terucap fasih, tetapi hati sibuk menilai orang lain. Spiritualitas berubah menjadi panggung pembuktian—siapa paling benar, siapa paling suci.
Demikian pula cinta. Ia bisa menjadi sekadar transaksi emosi jika kejujuran ditinggalkan. Senyum menjadi topeng, perhatian menjadi alat tawar. Hubungan dijalani bukan untuk saling menumbuhkan, melainkan untuk saling memanfaatkan.
Di titik ini, agama dan cinta kehilangan ruhnya. Yang tersisa hanyalah gemerlap luar—“cetar membahana”—namun rapuh di dalam. Seperti cemilan manis: memuaskan sesaat, meninggalkan kosong setelahnya.
Mengadili Diri di Tengah Malam
Kejujuran sejati tidak membutuhkan audiens. Ia tidak memerlukan tepuk tangan. Ia lahir di tengah malam, ketika dunia terlelap dan kita berhadapan dengan diri sendiri.
Di saat itulah persidangan paling jujur berlangsung. Tidak ada dua saksi. Tidak ada alat bukti yang direkayasa. Hanya keberanian untuk berkata:
“Aku salah.”
“Aku takut.”
“Aku sedang berpura-pura.”
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi ia menuntut keberanian yang luar biasa. Mengakui kesalahan berarti meruntuhkan citra yang selama ini kita bangun. Mengakui ketakutan berarti membuka sisi rapuh yang selama ini kita sembunyikan.
Namun justru di situlah kebebasan bermula.
Kebebasan yang Sunyi
Kejujuran pada diri sendiri adalah bentuk pembebasan yang paling hening. Saat kita berhenti membohongi diri, kita tak lagi perlu menjaga narasi. Kita tak lagi sibuk mengatur kesan. Energi yang dulu habis untuk mempertahankan citra, kini bisa digunakan untuk memperbaiki diri.
Hati memang hakim yang jujur. Ia tak bisa dibungkam selamanya. Cepat atau lambat, ia akan mengetuk dari dalam.
Pertanyaannya bukan apakah ia bersuara.
Pertanyaannya: beranikah kita membuka pintu dan mendengarkannya? (Fai)

