spot_img
BerandaHumanioraCatatan Tentang Kaya, Miskin, dan Cara Menjadi Manusia

Catatan Tentang Kaya, Miskin, dan Cara Menjadi Manusia

Dalam pergaulan, yang satu membangun relasi dengan saling menghargai dan menguatkan. Yang lain terjebak dalam lingkaran yang sama-sama lelah, sama-sama saling menyalahkan. Padahal, orang Jawa selalu mengajarkan: “Tulung tinulung, srawung lan becik.”

Sugih Ora Mung Bandha

LESINDO.C0M – Di sudut kota yang nyaris tak pernah disebut peta, sebuah angkringan kecil berdiri di bawah lampu kuning yang redup. Asap arang mengepul tipis, bercampur aroma kopi dan gorengan. Di sana, dua lelaki duduk berdampingan. Yang satu datang dengan motor mengilap, yang lain berjalan kaki dengan sandal tipis yang sudah mulai mengelupas.

Mereka memesan teh yang sama. Hangatnya serupa. Rasanya tak berbeda.
Namun, hidup mereka berjalan di jalur yang terasa jauh.

Orang sering menyangka perbedaan itu lahir dari banyaknya harta. Padahal, orang Jawa sejak lama percaya: “Sugih iku ora mung bandha, nanging jembar atine.” Kaya bukan sekadar soal uang, tetapi soal cara memandang hidup.

Yang membedakan mereka bukan apa yang ada di saku, melainkan apa yang tumbuh di dalam kepala dan hati.

Lelaki pertama memandang waktu seperti pusaka. Setiap jam baginya adalah kesempatan untuk belajar, bekerja, dan memperbaiki diri. Ia percaya, rezeki bukan sekadar yang jatuh dari langit, melainkan yang dijemput dengan kesungguhan.
Sementara lelaki di sebelahnya kerap merasa waktu hanyalah sesuatu yang berlalu. Hari berganti, tapi tak ada arah yang benar-benar dituju. Dalam falsafah Jawa, waktu adalah tandha panguripan—penanda hidup. Jika disia-siakan, manusia pun kehilangan pijakan.

Perbedaan itu juga tampak saat mereka berbicara tentang uang. Yang satu membedakan kebutuhan dan keinginan, seolah menimbang setiap rupiah dengan nurani. Ia tahu, harta harus diopeni, dirawat, bukan diperturutkan.
Yang lain sering mengira membeli adalah pelarian dari sesak hidup. Padahal orang tua Jawa pernah mengingatkan, bandha itu seperti air: jika tak dialirkan dengan bijak, ia akan menggenang dan membusuk.

Ketika masalah datang, cara mereka pun berbeda.
Bagi yang pertama, kesulitan adalah laku—jalan untuk menguji dan menumbuhkan diri. Ia tak lari, tak pula memaki keadaan.
Yang kedua sering memandang masalah sebagai hukuman. Putus asa lebih cepat hadir daripada keberanian untuk mencari jalan keluar. Padahal hidup, kata orang Jawa, “mung mampir ngombe.” Tak ada luka yang abadi jika manusia mau melangkah.

Yang satu gemar belajar, mendengar, dan membuka diri. Ia sadar, dirinya belum selesai.
Yang lain merasa cukup dengan apa yang ia tahu, seolah berhenti bertumbuh sebelum waktunya. Di situlah hidup menjadi diam, meski raga terus berjalan.

Dalam pergaulan, yang satu membangun relasi dengan saling menghargai dan menguatkan.
Yang lain terjebak dalam lingkaran yang sama-sama lelah, sama-sama saling menyalahkan.
Padahal, orang Jawa selalu mengajarkan: “Tulung tinulung, srawung lan becik.”

Perbedaan paling dalam justru tampak pada cara mereka menanggung hidup.
Yang pertama berani berkata, “Aku yang memilih, aku yang bertanggung jawab.”
Yang kedua lebih mudah menunjuk keadaan sebagai penyebab. Tanpa sadar, ia kehilangan kesempatan untuk belajar dari dirinya sendiri.

Teh mereka tinggal separuh. Malam kian larut.
Yang satu akan pulang dengan motor, yang lain berjalan kaki.
Namun, barangkali yang paling kaya adalah mereka yang pulang dengan hati yang tenang.

Sebab, seperti petuah Jawa:
“Sugih tanpo bandha, menang tanpo ngasorake.”
Kaya tanpa harta, menang tanpa merendahkan.

Di sanalah, kemiskinan dan kekayaan menemukan maknanya yang paling manusiawi. (May)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments