spot_img
BerandaHumanioraBukit Mongkrang: Saat Harapan Terakhir Dilepas dengan Tangis

Bukit Mongkrang: Saat Harapan Terakhir Dilepas dengan Tangis

Gunung Lawu menjadi saksi: pencarian ini memang ditutup dengan duka, tetapi cinta untuk Yazid tak pernah berakhir. Di setiap kabut yang turun, di setiap angin yang berdesir, namanya akan terus hidup dalam ingatan mereka yang mencintainya.

LESINDO.COM – Tangis pecah di Bukit Mongkrang.
Bukan tangis biasa, melainkan pecahan dari harapan yang runtuh satu per satu. Di lereng dingin Gunung Lawu, keluarga, relawan, dan tim SAR berdiri dalam lingkar sunyi. Kabut turun perlahan, seolah ikut berkabung, ketika kabar itu disampaikan: operasi pencarian Yazid Ahmad Firdaus (26) resmi dihentikan, Sabtu, 31 Januari 2026.

Tak ada teriakan, tak ada protes.
Yang terdengar hanya isak tertahan dan helaan napas panjang. Pelukan menguatkan berpindah dari satu bahu ke bahu lain. Di hadapan alam yang begitu luas, manusia kembali menyadari betapa rapuhnya harapan.

Bukit Mongkrang, yang biasanya dipenuhi tawa para pendaki dan langkah riang para pencari matahari terbit, hari itu berubah menjadi altar duka. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang jejak yang dicari, tentang nama yang terus dipanggil, tentang doa yang tak pernah putus meski jawaban tak kunjung datang.

Yazid, pemuda asal Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, berangkat ke Lawu dengan semangat seperti pendaki lainnya. Tak ada firasat buruk, tak ada perpisahan yang disangka akan menjadi terakhir. Namun sejak dinyatakan hilang di jalur Mongkrang, waktu seakan berhenti bagi keluarganya.

Hari pertama, kedua, hingga hari-hari berikutnya, pencarian dilakukan tanpa lelah. Relawan menyisir lembah, memanjat tebing, menembus hutan pinus, dan menyusuri jurang. Di setiap langkah, nama Yazid dipanggil, menggema di antara pepohonan.

Kabut, hujan, dan angin dingin tak menghalangi.
Luka di kaki, dingin yang menggigit tulang, dan kelelahan seakan tak berarti apa-apa dibandingkan satu harapan: menemukan Yazid, hidup ataupun telah pergi.

Ketika batas waktu pencarian tiba, keluarga masih memohon agar upaya diperpanjang. Tim SAR pun mengabulkan, menambah hari, menambah tenaga, menambah doa. Namun alam tetap menyimpan rahasianya.

Hingga hari terakhir, tak satu pun jejak Yazid ditemukan.

Di titik itu, semua harus belajar menerima: tidak semua kehilangan bisa ditutup dengan pertemuan kembali. Ada duka yang harus diserahkan pada sunyi.

Kini, di lereng Lawu, orang-orang percaya bahwa mungkin gununglah yang memilih memeluknya. Bahwa Mongkrang bukan sekadar tempat hilang, tetapi tempat bersemayam.

Gunung Lawu menjadi saksi: pencarian ini memang ditutup dengan duka, tetapi cinta untuk Yazid tak pernah berakhir. Di setiap kabut yang turun, di setiap angin yang berdesir, namanya akan terus hidup dalam ingatan mereka yang mencintainya.

Selamat beristirahat, Yazid.
Jika ragamu tak kembali, semoga jiwamu telah menemukan damai di pelukan alam.(mac)

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments