Oleh Dhen Ba Gus e Ngarso
LESINDO.COM – Majapahit tidak runtuh oleh satu serangan, satu pengkhianatan, atau satu nama yang datang membawa panji baru. Ia runtuh perlahan, seperti bangunan raksasa yang retak dari dalam—tiangnya lapuk, atapnya bocor, dan penghuninya sibuk saling berebut ruang, lupa bahwa fondasi sudah lama kehilangan daya topang.
Sejarah sering menyederhanakan kisahnya: Majapahit kalah oleh Demak. Titik.
Padahal, seperti banyak imperium besar di dunia, kehancuran Majapahit lebih menyerupai proses kelelahan peradaban daripada kekalahan militer semata.
Istana yang Pecah oleh Darah Sendiri
Kematian Hayam Wuruk bukan hanya akhir seorang raja besar, tetapi juga akhir dari satu pusat gravitasi politik. Setelahnya, Majapahit memasuki fase paling berbahaya bagi sebuah negara: krisis legitimasi.
Perang Paregreg (1404–1406) bukan perang biasa. Ia adalah perang saudara yang mempertontonkan pada dunia luar bahwa Majapahit tidak lagi satu suara. Istana Barat dan Istana Timur saling mengklaim kebenaran, saling mengangkat senjata, saling menumpahkan darah—sementara daerah-daerah taklukan menyaksikan dengan diam.
Di titik ini, Majapahit kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari wilayah: wibawa.
Bagi negeri-negeri vassal di Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya, konflik ini adalah sinyal jelas: pusat sudah rapuh. Upeti yang dulu dianggap kewajiban kosmis kini terasa seperti beban sia-sia. Kesetiaan pun menguap perlahan, tanpa perang, tanpa deklarasi.
Dunia yang Berubah, Majapahit yang Tertinggal
Sementara istana sibuk dengan urusan darah dan silsilah, dunia di luar Jawa bergerak cepat. Dinasti Ming di Tiongkok tidak datang dengan pedang, melainkan dengan armada, sutra, dan diplomasi.
Kehadiran Laksamana Cheng Ho bukan sekadar kunjungan persahabatan. Ia adalah tanda bahwa poros kekuatan maritim Asia Tenggara sedang bergeser. Dukungan Ming terhadap Malaka menjadikan pelabuhan itu pusat gravitasi baru perdagangan internasional.
Majapahit—yang selama ini hidup dari denyut jalur laut—kehilangan nadi ekonominya. Kapal-kapal dagang tak lagi singgah. Pajak menyusut. Pelabuhan-pelabuhan Pantura mulai mencari perlindungan dan keuntungan di luar Majapahit.
Imperium besar itu perlahan berubah menjadi kerajaan pedalaman yang terputus dari laut.
Pelabuhan yang Membelot Tanpa Perang
Majapahit sejatinya adalah negara dua wajah: sawah di pedalaman, layar di pesisir. Ketika pusat kekuasaan gagal menjaga keamanan laut, para penguasa pelabuhan membuat pilihan rasional—bukan ideologis.
Mereka beralih pada jaringan dagang Muslim yang menawarkan stabilitas, proteksi, dan akses pasar luas. Kesetiaan pada Trowulan terasa semakin abstrak: upeti terus diminta, perlindungan tak pernah datang.
Di sini, Majapahit tidak dikalahkan. Ia ditinggalkan.
Retaknya Kosmologi Kekuasaan
Lebih dalam lagi, Majapahit runtuh pada tingkat yang jarang dibahas: spiritual dan sosial.
Konsep Devaraja—raja sebagai titisan dewa—kehilangan maknanya ketika istana justru menjadi panggung intrik dan pembunuhan. Bagaimana mungkin rakyat percaya pada kesucian kekuasaan yang lahir dari perang saudara?
Islam datang bukan hanya sebagai agama, tetapi sebagai narasi sosial baru. Kesetaraan, komunitas, dan jaringan dagang global menawarkan harapan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dalam sistem kasta Hindu-Buddha.
Peralihan keyakinan ini bukan semata-mata pengkhianatan budaya, melainkan respon rasional terhadap kegagalan elit lama menjaga tatanan.
Sirna Ilang yang Bertahap
Sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bumi sering diperlakukan sebagai penanda satu malam kehancuran. Padahal, maknanya lebih dalam: lenyapnya kemakmuran dunia, bukan sekadar jatuhnya satu kota.
Trowulan jatuh pada 1478—bukan ke tangan Demak, melainkan oleh konflik internal sesama bangsawan Hindu. Majapahit secara politik sudah runtuh jauh sebelum panji Islam berkibar di Jawa Timur.
Demak datang belakangan, menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya sudah lama rapuh.
Akhir yang Tidak Dramatis, Tapi Tragis
Majapahit tidak mati dalam dentuman meriam atau kobaran api besar. Ia mati dalam kelelahan panjang: kelelahan menjaga kesatuan, kelelahan mempertahankan legitimasi, kelelahan mengikuti zaman.
Seperti banyak peradaban besar lainnya, kehancurannya adalah cermin—bahwa musuh paling berbahaya sering kali bukan yang datang dari luar, melainkan yang tumbuh diam-diam di dalam: keserakahan, konflik elite, dan kegagalan membaca perubahan zaman.
Majapahit sirna bukan karena kalah perang.
Ia sirna karena kehilangan alasan untuk tetap dipercaya.

