LESIDO.COM – Di antara lipatan lereng Merapi dan Merbabu, Boyolali tumbuh tanpa banyak gembar-gembor. Ia tidak menyebut dirinya kota besar, tidak pula sibuk memamerkan kemewahan. Boyolali memilih jalan sunyi: memelihara kesetiaan pada tanah, pada ternak, pada kerja harian yang berulang—seperti memerah susu setiap pagi.
Namun di balik ketenangannya, Boyolali menyimpan kisah panjang tentang perjalanan spiritual, ingatan yang tercecer, dan identitas yang perlahan mengeras menjadi sejarah.
Gumam di Atas Batu
Nama Boyolali lahir bukan dari rapat birokrasi atau peta kolonial, melainkan dari sebuah gumam lirih di tengah perjalanan spiritual. Konon, pada abad ke-16, Ki Ageng Pandan Arang—Bupati Semarang yang memilih jalan dakwah—melangkah cepat menuju Gunung Jabalakat di Tembayat, Klaten. Sunan Kalijaga mengutusnya menyebarkan Islam, dan tugas itu ia jalani dengan kesungguhan yang nyaris melupakan segalanya.
Langkahnya terlalu cepat. Istri dan anaknya tertinggal jauh di belakang.
Saat berhenti di sebuah batu besar—yang oleh sebagian orang diyakini berada di sekitar Kali Pepe atau kawasan Sunggingan—Ki Ageng tersadar. Ia bergumam, entah pada dirinya sendiri, entah pada semesta:
“Baya wis lali wong iki.”
Mungkin aku sudah lupa.
Lupa, bukan karena abai, melainkan karena terlalu larut pada tujuan. Dari gumam itulah, kata orang-orang tua, Boyolali bermula. Sebuah nama yang lahir dari kesadaran manusia akan batasnya sendiri.
Legenda ini bertahan bukan karena bukti tertulis, melainkan karena diwariskan dari mulut ke mulut—seperti doa, seperti nasihat.
Jejak Bahasa dan Pohon yang Pernah Tumbuh
Selain legenda, Boyolali juga hidup dalam teks. Dalam Kamus Jawa–Belanda karya Gericke dan Roorda (1901), wilayah ini disebut Boyowangsul atau Bayawangsul. Nama itu diyakini merujuk pada sejenis pohon dari keluarga Meliaceae, yang konon pernah tumbuh subur di wilayah ini—pohon apel Jawa yang kini tinggal nama.
Dalam naskah kuno Serat Angger-Anggeran Nagari, sebutan Bayawangsul muncul sebagai penanda wilayah. Di sini, Boyolali tidak sekadar tempat, melainkan lanskap bahasa dan ingatan. Ia tumbuh dari alam—dari pepohonan, tanah, dan air—sebelum akhirnya menjadi administrasi.
Dari Tanah Sunyi ke Kabupaten
Secara resmi, Boyolali baru menjadi kabupaten pada 5 Juni 1847. Penetapan itu tertuang dalam Staatsblad Hindia Belanda Nomor 30 Tahun 1847, sebagai bagian dari penataan sistem peradilan dan pemerintahan di bawah Kasunanan Surakarta.
Kolonialisme memang membawa garis batas dan struktur, tetapi Boyolali tetap hidup dengan caranya sendiri. Di balik arsip dan keputusan hukum, denyut kehidupan rakyat tetap ditentukan oleh musim, rumput, dan ternak.
Susu, Kesabaran, dan Etos Lereng Gunung
Lereng Merapi–Merbabu memberi Boyolali anugerah yang tidak selalu disadari: rumput hijau sepanjang tahun, udara sejuk, dan tanah vulkanik yang subur. Di sanalah sapi-sapi perah tumbuh, bukan sebagai simbol industri semata, melainkan sebagai bagian dari rumah tangga.
Memerah susu bukan pekerjaan yang heroik. Ia menuntut bangun pagi, kesabaran, dan ketekunan. Setiap hari sama, tetapi tak pernah bisa ditinggalkan. Dari ritme inilah Boyolali menemukan identitasnya.
Tak heran jika Boyolali kemudian dijuluki “New Zealand van Java”—sebuah perbandingan yang mungkin berlebihan, tetapi cukup menjelaskan: negeri kecil dengan produksi susu yang mengalir ke banyak kota.
Patung Sapi Ndhekem di pusat kota bukan sekadar ikon wisata. Ia adalah pengakuan jujur atas siapa Boyolali sebenarnya: kota yang dibangun dari punggung ternak dan tangan-tangan petani.
Tersenyum, tapi Tidak Riuh
Semboyan Boyolali TERSENYUM—Tertib, Elok, Rapi, Sehat, Nyaman—bukan jargon kosong jika dibaca perlahan. Ia mencerminkan watak masyarakatnya: tidak tergesa, tidak gaduh, bekerja tanpa banyak bicara.
Boyolali tidak berlomba menjadi metropolitan. Ia memilih setia pada akar. Pada legenda yang lahir dari gumam. Pada pohon yang mungkin telah punah. Pada sapi yang setiap pagi diperah dengan doa.
Di kota ini, sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta emas. Ia mengalir putih—seperti susu—dari masa lalu ke masa kini, dari legenda ke meja makan.
Dan mungkin, justru karena kesederhanaan itulah Boyolali tetap eling, tidak lali, akan dirinya sendiri.(mad)

