Borobudur: Sisi yang Disenyapkan Batu
LESINDO.COM – Di tengah kabut pagi Magelang, Borobudur sering dipuja sebagai mahakarya spiritual—simbol pencerahan, kedamaian, dan kebijaksanaan Timur. Brosur wisata menyebutnya “monumen Buddha terbesar di dunia”, tempat orang berfoto dengan senyum tenang dan latar stupa. Namun di balik batu-batu yang tertata rapi itu, ada kisah yang sengaja disenyapkan. Ada bagian yang ditutup. Ada cerita yang tak dipamerkan. Ada sisi gelap yang tidak dimaksudkan untuk konsumsi mata awam.
Borobudur, seperti hidup manusia, tidak hanya dibangun dari cahaya. Ia juga disusun dari bayang-bayang.
Dasar yang Ditimbun: Karma yang Tak Ingin Dipamerkan
Jika pengunjung berdiri di pelataran candi, mereka sebenarnya berdiri di atas sebuah “pengakuan dosa” raksasa. Pada bagian paling bawah Borobudur—yang kini terkubur rapi oleh batu tambahan—terdapat 160 panel relief bernama Karmawibhangga. Relief ini bukan kisah para dewa, bukan pula perjalanan menuju nirwana. Ia justru menampilkan sisi paling telanjang dari manusia: kekerasan, nafsu, pembunuhan, pengkhianatan, keserakahan.
Di panel-panel itu, manusia digambarkan disiksa akibat perbuatannya sendiri. Ada tubuh yang diseret, wajah yang meringis, adegan yang jauh dari kesan “suci”. Inilah hukum sebab-akibat yang tidak diberi estetika manis. Karma ditampilkan tanpa kompromi.
Mengapa relief ini ditutup?
Secara teknis, para arkeolog menyebut penutupan itu untuk memperkuat struktur candi agar tidak ambles. Namun secara simbolik, penjelasannya jauh lebih sunyi: Kamadhatu, dunia hasrat, memang tidak pantas dilihat terus-menerus oleh mereka yang ingin naik menuju kesadaran lebih tinggi.
Borobudur seolah berkata pelan: manusia harus mengakui kegelapannya, tapi tidak perlu memujanya.
Kini, hanya satu sudut kecil yang dibiarkan terbuka. Selebihnya ditimbun, seperti dosa lama yang sudah dipahami tapi tak perlu diumbar.
Gunadharma: Arsitek yang Menghilang ke Alam

Tak ada prasasti. Tak ada nama tertulis. Tak ada tanda tangan sang pembangun Borobudur. Sejarah resmi hanya mencatat dinasti Syailendra. Namun ingatan rakyat Jawa menyimpan satu nama: Gunadharma.
Ia bukan sekadar arsitek, melainkan empu—manusia yang bekerja bukan hanya dengan tangan, tetapi juga batin. Dalam legenda, setelah Borobudur rampung, Gunadharma tidak merayakan kejayaannya. Ia tidak mengklaim karya. Ia justru memilih berbaring, menyatu dengan alam, lalu membatu menjadi Pegunungan Menoreh.
Jika dilihat dari kejauhan, garis perbukitan itu memang menyerupai tubuh manusia yang tidur telentang.
Ada sesuatu yang gelap sekaligus bijak di sini: Borobudur dibangun oleh peradaban yang tidak menuhankan penciptanya. Tidak ada kultus individu. Tidak ada ego pencapaian. Sang pembangun justru lenyap—seperti pesan diam bahwa karya sejati tidak butuh nama.
Mitos yang Diciptakan dari Ketakutan Manusia
Borobudur juga menyimpan mitos-mitos yang beredar dari mulut ke mulut—sebagian lahir dari ketidaktahuan, sebagian dari rasa takut.
Singa Urung, patung penjaga di pintu masuk, dipercaya bisa menggagalkan hubungan sepasang kekasih. Konon, berkata kasar atau melanggar pamali di dekatnya akan membuat cinta berakhir. Mitos ini bukan tentang singa, melainkan tentang pesan moral Jawa: hubungan yang dibangun tanpa tata krama akan runtuh oleh dirinya sendiri.
Ada pula Kunto Bimo, mitos yang lebih modern dan lebih ironis. Dulu, orang berebut menyentuh jari arca Buddha dalam stupa, berharap hajatnya terkabul. Batu-batu itu aus oleh tangan manusia yang terlalu berharap tapi enggan berproses.
Pada akhirnya, ritual itu dihentikan. Candi rusak bukan oleh waktu, melainkan oleh nafsu instan manusia modern.
Kepala yang Hilang dan Luka Penjarahan
Jika Anda memperhatikan dengan saksama, banyak arca Buddha di Borobudur tidak berkepala. Itu bukan simbol filosofis. Itu adalah luka sejarah.
Saat Borobudur “ditemukan kembali” pada abad ke-19, ia tidak langsung dihormati. Ia dijarah. Kepala-kepala Buddha dipenggal, dibawa pergi, dijual, dihadiahkan kepada pejabat kolonial, atau menjadi koleksi pribadi di negeri jauh.
Borobudur pernah menjadi tambang artefak, bukan situs suci.
Dan luka itu belum sepenuhnya sembuh.
Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa diledakkan oleh terorisme. Batu-batu yang sudah bertahan lebih dari seribu tahun hancur oleh ideologi yang takut pada simbol kebudayaan.
Borobudur kembali diserang—bukan oleh alam, melainkan oleh manusia.
Danau yang Hilang, Makna yang Tenggelam
Ada teori bahwa Borobudur dulu berdiri di tengah danau purba, seperti teratai raksasa yang mengapung. Jika benar, maka Borobudur bukan hanya bangunan, melainkan mandala kosmik yang hidup dalam lanskap air.
Danau itu kini hilang. Entah oleh letusan Merapi, entah oleh pendangkalan zaman. Seperti banyak hal lain di Borobudur, ia lenyap tanpa meninggalkan kepastian.
Yang tersisa hanyalah pertanyaan: berapa banyak makna yang ikut mengering bersama danau itu?
Borobudur dan Keheningan yang Dipilih
Borobudur tidak pernah berteriak tentang kesuciannya. Ia justru menyembunyikan sisi gelapnya di dasar. Ia tidak menolak kegelapan, tapi menempatkannya di posisi yang tepat.
Mungkin di situlah ajaran terdalamnya:
bahwa pencerahan bukan lahir dari meniadakan gelap,
melainkan dari mengakuinya, memahami, lalu melampauinya.
Dan tidak semua kebenaran memang perlu dipamerkan.
Sebagian cukup ditanam—rapat di bawah batu,
agar manusia tidak lupa dari mana ia berasal.(Urg)

