spot_img
BerandaBudayaBarongsai: Ketika Singa Menari Menjaga Harapan

Barongsai: Ketika Singa Menari Menjaga Harapan

Tak banyak yang menyadari, singa bukanlah hewan asli Tiongkok. Ia datang dari jauh, menumpang jalur sutra yang membentang dari Persia dan India, sebagai hadiah eksotis bagi para kaisar Dinasti Han. Namun, jauh sebelum singa dikenal sebagai makhluk nyata, ia telah hidup lebih dulu dalam mitologi.

LESINDO.COM – Di bawah langit Imlek yang berpendar merah, dentum tambur menggema seperti detak jantung peradaban. Dua mata besar dari balik kepala singa berkedip, tubuh berwarna menyala meliuk, meloncat, dan menunduk hormat. Itulah Barongsai—bukan sekadar tarian, melainkan doa yang bergerak, simbol keberanian yang diwariskan dari ketakutan manusia ribuan tahun silam.

Tak banyak yang menyadari, singa bukanlah hewan asli Tiongkok. Ia datang dari jauh, menumpang jalur sutra yang membentang dari Persia dan India, sebagai hadiah eksotis bagi para kaisar Dinasti Han. Namun, jauh sebelum singa dikenal sebagai makhluk nyata, ia telah hidup lebih dulu dalam mitologi. Dalam cerita rakyat, masyarakat Tiongkok kuno pernah hidup dalam bayang-bayang teror makhluk bernama Nian—monster buas yang muncul setiap awal tahun, memangsa ternak dan manusia. Dalam kepanikan, penduduk mencari cara untuk bertahan. Mereka percaya hanya “raja hutan” yang mampu menakut-nakuti Nian. Maka lahirlah replika singa dari bambu, kain, dan cat merah menyala. Dentuman tambur, kilatan petasan, dan warna merah menjadi senjata. Dan legenda pun berkata: Nian lari, desa selamat.

Sejak saat itu, singa tak lagi sekadar simbol ketakutan, tetapi lambang penjaga harapan. Geraknya mulai ditiru, wajahnya dibentuk, emosinya dipentaskan. Dari halaman istana Dinasti Tang hingga gang-gang kecil kota modern, tarian singa berkembang menjadi seni yang hidup. Rakyat yang tak pernah melihat singa asli meniru berdasarkan cerita dan imajinasi, hingga lahirlah dua aliran besar: Singa Utara yang jenaka dan akrobatik, serta Singa Selatan yang penuh wibawa, bertanduk, dan sarat ekspresi. Di Indonesia, Singa Selatanlah yang paling akrab—menari di antara kelenteng, pusat perbelanjaan, dan panggung rakyat.

Menariknya, di negeri ini tarian itu tak hanya disebut “singa menari”. Ia diberi nama Barongsai—pertemuan dua budaya: Barong dari tradisi Bali–Jawa dan Sai dari bahasa Hokkian yang berarti singa. Sebuah akulturasi yang tak dipaksakan, lahir dari perjumpaan panjang antara budaya Tionghoa dan Nusantara. Barongsai pun menjadi lebih dari ritual—ia menjelma olahraga prestasi, dipertandingkan lintas negara, melampaui batas etnis dan keyakinan.

Dan setiap kali ia menari, sejatinya bukan hanya tubuh yang bergerak. Ada sejarah yang bergetar di balik kain, ada ketakutan lama yang ditundukkan, ada harapan yang dilambungkan tinggi. Di balik topeng singa itu, manusia kembali mengingat: bahwa keberanian selalu lahir dari masa-masa paling gelap—dan seni adalah cara kita menjaga cahaya tetap menyala. (Dhen)

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments