spot_img
BerandaJelajahBahasa Sunyi Semesta: Antara Getaran Rasa dan Hukum Alam

Bahasa Sunyi Semesta: Antara Getaran Rasa dan Hukum Alam

Psikologi modern menyebutnya self-fulfilling prophecy. Apa yang diyakini dan dirasakan secara konsisten akan membentuk perilaku, dan perilaku membentuk pengalaman. Bahasa ilmiah untuk apa yang sejak lama disebut para leluhur sebagai hukum getaran.

LESINDO.COM – Semesta tidak berbicara.
Ia tidak berdebat, tidak meyakinkan, tidak pula memerlukan keyakinan manusia untuk bekerja. Ia hadir dalam sunyi yang teratur, bergerak dalam irama yang tidak kasatmata. Apa yang kita sebut sebagai “keajaiban” sering kali hanyalah hukum alam yang bekerja dalam kesenyapan.

Dalam banyak tradisi spiritual Timur, semesta diyakini berkomunikasi bukan melalui kata, melainkan melalui rasa. Rasa adalah bahasa purba, jauh sebelum manusia mengenal aksara dan bunyi. Di sanalah getaran bermula.

Getaran sebagai Bahasa Jiwa

Manusia hidup di tengah gelombang. Setiap pikiran, emosi, dan niat memancarkan frekuensi tertentu. Ketika seseorang dipenuhi rasa takut, bersalah, atau malu, tubuhnya mengencang, napasnya pendek, dan batinnya bergetar dalam irama yang sempit. Getaran inilah yang keluar, menembus ruang, dan membentuk medan pengalaman.

Tradisi mistik Jawa menyebutnya sebagai rasa sejati. Bukan rasa yang diucapkan, melainkan rasa yang dihidupi. Dalam laku eling lan waspada, manusia diajak menyadari apa yang sesungguhnya bergetar di dalam dirinya, sebab dari situlah nasib perlahan ditenun.

Semesta tidak memilih apakah rasa itu baik atau buruk. Ia tidak menghakimi. Ia hanya menyelaraskan. Getaran memanggil getaran. Energi bertemu energi.

Maka ketika hidup terasa berulang dalam pola luka yang sama, barangkali bukan semesta yang kejam, melainkan rasa yang belum berubah.

Cinta sebagai Frekuensi Tertinggi

Dalam laku spiritual lintas tradisi, cinta kerap disebut sebagai frekuensi paling tinggi. Bukan cinta yang posesif, bukan pula cinta yang bersyarat, melainkan rasa menerima—nrima ing pandum dalam makna terdalamnya. Bukan pasrah tanpa usaha, melainkan berdamai dengan kenyataan sembari tetap bertumbuh.

Saat seseorang hidup dalam rasa cukup, tubuhnya melonggar, napasnya lapang, dan pikirannya tidak lagi sibuk melawan keadaan. Dari ruang batin seperti inilah kebahagiaan lahir—bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai efek samping.

Semesta merespons kondisi ini bukan dengan janji, melainkan dengan keselarasan. Peluang datang tanpa dipaksa. Pertemuan terasa tepat waktu. Kejadian tidak selalu mudah, namun terasa bermakna.

Ketika Spiritualitas Bertemu Ilmu Pengetahuan

Menariknya, apa yang lama dipercaya dalam dunia mistik kini mulai disentuh oleh bahasa ilmiah. Fisika kuantum, meski kerap disalahpahami, membuka diskusi tentang bagaimana partikel dasar alam semesta merespons pengamatan dan energi.

Dalam ilmu saraf, emosi terbukti memengaruhi sistem saraf otonom. Rasa takut mengaktifkan respons bertahan hidup, sementara rasa aman dan cinta mengaktifkan sistem pemulihan. Tubuh yang terus-menerus berada dalam mode takut akan memancarkan sinyal stres, memengaruhi keputusan, relasi, bahkan kesehatan.

Psikologi modern menyebutnya self-fulfilling prophecy. Apa yang diyakini dan dirasakan secara konsisten akan membentuk perilaku, dan perilaku membentuk pengalaman. Bahasa ilmiah untuk apa yang sejak lama disebut para leluhur sebagai hukum getaran.

Dengan kata lain, semesta tidak “mengabulkan” keinginan. Ia hanya merespons pola energi yang terus diulang.

Doa, Rasa, dan Kejujuran Batin

Di titik ini, doa tidak lagi dipahami sebagai rangkaian kata, melainkan sebagai kondisi batin. Doa yang diucapkan dengan lidah, tetapi disangkal oleh rasa, akan kehilangan daya getarnya. Sebaliknya, doa yang lahir dari kejujuran batin—meski tanpa kata—akan memancarkan frekuensi yang kuat.

Barangkali inilah makna terdalam dari keheningan para pertapa, sujud panjang para pencari, dan diamnya orang-orang bijak. Mereka tidak sedang meminta, melainkan menyelaraskan.

Menata Rasa, Mengubah Arah Hidup

Hidup bukan soal memanipulasi semesta agar menuruti kehendak manusia. Hidup adalah proses menata rasa agar selaras dengan hukum alam. Ketika rasa berubah, pilihan ikut berubah. Ketika pilihan berubah, arah hidup pun bergeser.

Semesta selalu mencintai, bukan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara memantulkan. Ia mengembalikan energi dengan kejujuran yang mutlak.

Seperti cermin bening di pagi hari, ia tidak menambah atau mengurangi. Ia hanya memperlihatkan apa yang berdiri di hadapannya.

Maka sebelum bertanya apa yang akan diberikan semesta esok hari, mungkin lebih jujur bila kita bertanya: getaran apa yang sedang aku hidupkan hari ini? (Dil)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments