LESINDO.COM – Di bawah langit siang yang biasanya lengang, deretan sepeda motor kini mengular pelan di halaman SPBU Pertamina. Mesin-mesin kecil itu menyala setengah sabar, seperti menunggu sesuatu yang tak sepenuhnya mereka mengerti. Bukan hanya jalur Pertalite yang padat, tetapi juga Pertamax—yang selama ini identik dengan pilihan “lebih longgar”—ikut terseret ke dalam antrean.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia seperti riak kecil dari gelombang besar yang sedang bergerak di bawah permukaan dunia. Di beberapa daerah, wacana bekerja dari rumah—yang dahulu identik dengan pandemi—kembali dihidupkan, kali ini bukan karena virus, melainkan demi menghemat bahan bakar. Sebuah keputusan yang terasa teknis, tetapi menyiratkan kegelisahan yang lebih dalam: ada sesuatu yang sedang tidak stabil.
Di negeri-negeri lain, antrean itu bahkan menjelma lebih panjang, lebih sunyi, sekaligus lebih cemas. Kita melihatnya di layar, tetapi merasakannya di dalam dada. Dunia yang selama ini kita kenal sebagai jaringan raksasa—perdagangan, energi, distribusi—ternyata rapuh oleh satu simpul yang terguncang. Ketika satu negara produsen minyak goyah, negara lain yang bergantung akan ikut bergetar. Dalam bahasa ekonomi, ini disebut keterkaitan global. Dalam bahasa manusia, ini adalah ketergantungan.
Minyak bumi, yang selama puluhan tahun menjadi nadi peradaban modern, kini memperlihatkan sisi lain: ia bukan hanya sumber energi, tetapi juga sumber kerentanan. Kita membangun kota, menggerakkan kendaraan, dan mengatur ritme hidup di atas sesuatu yang tidak kita kendalikan sepenuhnya.
Lalu muncul pertanyaan yang terasa ganjil sekaligus mengganggu: benarkah suatu hari manusia akan kembali ke “zaman batu”?
Dalam disiplin Antropologi, zaman batu bukan sekadar periode tanpa teknologi, melainkan fase ketika manusia hidup dengan keterbatasan alat dan ketergantungan penuh pada alam. Namun sejarah tidak pernah benar-benar berjalan mundur. Ia mungkin berbelok, terguncang, bahkan runtuh di beberapa titik—tetapi selalu menyisakan jejak untuk membangun ulang.
Yang lebih mungkin terjadi bukanlah kembalinya manusia ke zaman batu, melainkan pergeseran cara hidup. Ketika energi menjadi mahal dan langka, manusia akan beradaptasi: mengurangi mobilitas, mencari sumber energi alternatif, memperpendek rantai distribusi, dan mungkin—tanpa disadari—kembali mendekat pada pola hidup yang lebih sederhana.
Antrean di pom bensin itu, dengan segala kesederhanaannya, sebenarnya adalah potret kecil dari perubahan besar. Ia bukan hanya tentang bahan bakar yang menipis, tetapi tentang kesadaran yang perlahan muncul: bahwa kemewahan modern yang kita anggap biasa—berkendara kapan saja, pergi ke mana saja—sesungguhnya adalah privilese yang rapuh.
Dan di sanalah letak ironi sekaligus harapannya. Manusia mungkin tidak akan kembali ke zaman batu. Tetapi jika krisis ini terus berlanjut, kita bisa saja kembali pada sesuatu yang lebih mendasar: menyadari batas, menghargai cukup, dan belajar hidup tanpa bergantung sepenuhnya pada mesin.
Barangkali, yang akan berubah bukan zamannya—melainkan cara kita memaknai hidup di dalamnya. (Mac)

