LESINDO.COM – Di suatu masa yang jauh sebelum hiruk-pikuk media sosial dan panggung opini modern, seorang filsuf besar dari dunia Islam telah mengingatkan tentang bahaya yang jauh lebih mengerikan daripada binatang buas. Filsuf itu adalah Ibnu Sina—seorang dokter, ilmuwan, sekaligus pemikir yang memahami bahwa ancaman terbesar bagi manusia sering kali justru datang dari manusia itu sendiri.
Baginya, bahaya sejati bukanlah taring singa atau cakar harimau. Alam memiliki hukum yang jelas: hewan buas menyerang karena lapar, karena insting bertahan hidup. Tetapi manusia yang kehilangan nalar jauh lebih sulit diprediksi. Ia bisa melukai bukan karena kebutuhan, melainkan karena keyakinan yang salah namun terasa benar di dalam kepalanya.
Di zaman kita sekarang, peringatan itu terasa semakin relevan. Dunia modern dipenuhi suara—pendapat, komentar, argumen, dan perdebatan yang tak pernah benar-benar berhenti. Teknologi yang seharusnya memperluas pengetahuan justru sering menjadi panggung bagi keyakinan yang tidak pernah diuji.
Kita hidup di era ketika suara sering kali lebih dihargai daripada isi.
Di ruang-ruang digital, siapa yang paling lantang sering dianggap paling benar. Mereka yang paling berani menyerang lawan dipuji sebagai pejuang kebenaran. Pengikut yang banyak dijadikan ukuran kebijaksanaan. Seolah-olah kebenaran bisa ditentukan melalui sorak-sorai massa. Padahal sejak dahulu para filsuf mengingatkan bahwa akal manusia tidak dirancang untuk sekadar memenangkan perdebatan. Ia diciptakan untuk mencari kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan bagi ego kita sendiri.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Manusia modern kian pandai merangkai argumen, tetapi semakin jarang benar-benar berpikir. Kalimat-kalimat panjang dilontarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk mengalahkan. Logika dipakai sebagai senjata, bukan sebagai alat pencarian.
Perdebatan berubah menjadi arena pertandingan. Di sana, kemenangan lebih penting daripada kebenaran. Fenomena ini melahirkan sebuah ironi yang halus tetapi berbahaya: kepercayaan diri tanpa pengetahuan. Orang yang tahu sedikit sering berbicara paling keras, sementara mereka yang benar-benar memahami justru lebih berhati-hati.
Di sinilah gambaran metaforis tentang “tanduk” menjadi terasa begitu tepat.
Tanduk adalah simbol kekuatan. Ia memberi kemampuan untuk menyeruduk, untuk menaklukkan. Tetapi tanduk tidak memberi arah. Ia tidak mengajarkan kebijaksanaan. Ia hanya memperbesar daya benturan. Ketika tanduk itu tumbuh pada kepala makhluk yang tidak memiliki nalar, kekuatan berubah menjadi ancaman.
Dan ketika tanduk itu tumbuh pada manusia yang kehilangan kemampuan berpikir jernih, peradaban pun mulai menghadapi bahaya yang lebih sunyi: kebodohan yang percaya diri. Dalam sejarah, banyak kehancuran besar tidak dimulai dari kurangnya pengetahuan, melainkan dari keyakinan yang terlalu pasti terhadap pengetahuan yang salah.
Ketika orang berhenti meragukan dirinya sendiri, ketika kritik dianggap sebagai serangan, dan ketika pertanyaan dianggap sebagai ancaman—di situlah nalar mulai tersingkir dari percakapan publik. Dunia yang bising oleh opini sering kali membuat suara akal terdengar seperti bisikan.
Ia kalah oleh teriakan.
Ia tenggelam oleh emosi.
Dan perlahan-lahan, kebenaran berubah menjadi sesuatu yang relatif: bukan lagi apa yang paling masuk akal, tetapi apa yang paling banyak dipercaya. Padahal sejak berabad-abad lalu, para pemikir besar telah menunjukkan jalan yang berbeda. Mereka mengajarkan bahwa berpikir adalah latihan kerendahan hati. Setiap gagasan harus diuji. Setiap keyakinan harus bersedia diperiksa.
Akal yang sehat tidak takut pada pertanyaan.
Ia justru tumbuh dari sana.
Tetapi dalam dunia yang dipenuhi kompetisi opini, kerendahan hati sering dianggap kelemahan. Keraguan dianggap sebagai tanda ketidaktahuan. Padahal justru sebaliknya: keraguan adalah pintu pertama menuju pengetahuan.
Tanpa keraguan, manusia hanya mengulang keyakinannya sendiri. Tanpa refleksi, argumen berubah menjadi gema. Mungkin inilah yang dimaksud oleh peringatan para filsuf klasik: peradaban tidak selalu runtuh karena musuh dari luar. Sering kali ia melemah dari dalam, ketika masyarakatnya berhenti menghargai nalar.
Ketika suara menjadi lebih penting daripada makna.
Ketika pembenaran lebih dicari daripada kebenaran.
Ketika manusia lebih sibuk memenangkan debat daripada memahami realitas. Pada titik itu, tanduk-tanduk metaforis mulai bermunculan—di kepala manusia yang kuat dalam keyakinan, tetapi miskin dalam pemahaman. Dan ketika tanduk itu saling menyeruduk, yang terluka bukan hanya individu.
Yang terluka adalah peradaban itu sendiri. Barangkali satu-satunya penawar bagi dunia yang terlalu bising adalah kembali pada sesuatu yang sederhana namun semakin langka: berpikir dengan jujur.
Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Tidak semua kritik harus dibalas.
Tidak semua keyakinan harus dipertahankan mati-matian.
Kadang-kadang, langkah paling berani dalam berpikir adalah berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
“Bagaimana jika aku yang keliru?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin tampak kecil.
Namun dalam sejarah panjang manusia, justru dari pertanyaan-pertanyaan semacam itulah akal sehat selalu menemukan jalannya kembali.(Nel)

