Oleh Faicha Adilla M (Mahasiswa UNAIR)
Di suatu pagi di Magetan, embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun padi. Seorang lelaki berkaus lusuh berdiri di pematang sawah, menenteng cangkul, matanya awas membaca arah air. Tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, kecuali satu hal: ia adalah sarjana akuntansi. Empat tahun duduk di bangku kuliah, berjibaku dengan laporan keuangan, neraca, dan angka-angka yang harus seimbang. Kini hidupnya diukur bukan lagi oleh debit dan kredit, melainkan musim tanam, cuaca, dan harga gabah.
Entah hubungan apa antara akuntansi dan pertanian. Pertanyaan itu kerap muncul, bahkan dari dirinya sendiri. Mengapa dulu tidak memilih fakultas pertanian? Ia hanya tersenyum. Hidup, katanya pelan, tidak pernah memberi silabus yang jelas.
Di kota Malang, seorang lulusan statistika justru menjelma menjadi pengusaha percetakan berskala besar. Mesin offset berdengung, tinta beraroma khas, desain visual memenuhi dinding ruang produksi. Ia fasih berbicara tentang pasar, warna, dan selera konsumen. Lagi-lagi pertanyaan serupa mengemuka: mengapa dulu tidak mengambil desain grafis? Jawabannya sama—hidup tak pernah meminta izin sebelum berbelok.
Kisah-kisah semacam ini bukan pengecualian. Ia adalah potret keseharian Indonesia. Bangku kuliah dijalani dengan harapan lurus: belajar, lulus, bekerja sesuai jurusan. Namun kenyataan sering bergerak ke arah yang tak terduga. Pendidikan formal menghabiskan biaya yang tidak sedikit, menyita waktu bertahun-tahun, tetapi apa yang dipelajari di ruang kelas kerap tak berkelindan langsung dengan hidup yang dijalani hari ini.
Di titik inilah muncul kegelisahan yang nyaris kolektif: untuk apa terus belajar di bangku kuliah?
Pertanyaan itu bukan lahir dari sikap anti-pendidikan, melainkan dari benturan keras antara idealisme dan realitas. Di jalanan kota, banyak lulusan strata satu kini menjadi pengemudi ojek daring. Bukan merendahkan profesinya—ojol adalah pekerjaan terhormat yang menopang hidup banyak keluarga. Namun realitas itu menampar logika pendidikan: untuk menjadi pengemudi, yang dibutuhkan adalah kompetensi berkendara, SIM C, dan ketangguhan fisik. Pendidikan SMA pun sejatinya telah cukup.
Ketidaksambungan ini membuka luka lama sistem pendidikan kita: jurang antara dunia akademik dan kebutuhan lapangan. Kurikulum bergerak lamban, sementara realitas ekonomi melesat cepat. Bakat dan minat sering terpinggirkan oleh gengsi jurusan, tuntutan orang tua, atau mitos “masa depan cerah” versi masyarakat.
Ironisnya, justru di luar bangku kuliah banyak orang menemukan pelajaran paling menentukan: bagaimana bertahan hidup. Bagaimana membaca peluang, bagaimana jatuh lalu bangkit, bagaimana menghasilkan uang dari keterbatasan. Dari sanalah kreativitas lahir—bukan dari teori yang rapi, melainkan dari kebutuhan yang mendesak.
Namun mengatakan bahwa kuliah tak berguna juga terlalu sederhana. Pendidikan, pada akhirnya, bukan sekadar soal kecocokan profesi. Ia adalah proses berpikir, proses belajar memahami dunia, melatih nalar, dan membentuk cara pandang. Apa pun yang pernah dipelajari—meski tak berhubungan langsung dengan pekerjaan hari ini—tak pernah benar-benar sia-sia. Ia menjadi lapisan pengalaman, bekal batin, dan cara seseorang memaknai hidupnya.
Bagi sebagian orang, gelar sarjana hanyalah tanda bahwa mereka pernah sekolah, syarat administratif untuk melamar pekerjaan. Bagi yang lain, ia menjadi jembatan menuju wirausaha, meski jalannya berliku dan sering tak linier. Tak ada rumus tunggal untuk nasib manusia.
Di negeri ini, terlalu banyak anak muda yang dipaksa memilih sebelum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Terlalu banyak bakat yang tersesat karena sistem lebih menghargai ijazah daripada kecakapan. Pendidikan dan kenyataan hidup berjalan di rel yang berbeda, sesekali berpotongan, sering kali berjauhan.
Mungkin sudah saatnya kita berdamai dengan kenyataan itu. Bahwa hidup bukan soal lurus antara jurusan dan pekerjaan. Bahwa kegagalan “sesuai jurusan” bukan aib. Bahwa belajar adalah perjalanan panjang yang tak selalu berujung di tempat yang direncanakan.
Seperti petani di Magetan itu, atau pengusaha percetakan di Malang yang dulu bergulat dengan angka. Mereka membuktikan satu hal sederhana: hidup tidak menuntut kita selalu tepat memilih, tetapi berani menjalani. Dan dalam proses itulah, pendidikan—apa pun bentuknya—mendapatkan maknanya yang paling manusiawi.

