spot_img
BerandaHumanioraAceh dan Dua Panggilan Alam: Renungan dari Ruang yang Tak Terlihat

Aceh dan Dua Panggilan Alam: Renungan dari Ruang yang Tak Terlihat

Aceh menjadi panggung terbuka tempat drama kosmik ini dimainkan dengan kejujuran paling kasar. Di sini manusia belajar bahwa kekuatan bukanlah pada bangunan yang menjulang, melainkan pada kemampuan menerima bahwa mereka tidak pernah benar-benar berkuasa

Oleh : Ratih Arunika

Ada daerah yang diuji oleh angin, ada yang diuji oleh api, dan ada pula yang diuji oleh sunyi. Tapi Aceh… Aceh diuji oleh sesuatu yang lebih tua daripada ingatan manusia: kehendak alam—yang tak pernah tunduk pada logika, tak terikat pada belas kasih, dan tak peduli pada batas kalender.

26 Desember 2004 dan 26 November 2025 bukan sekadar tanggal.
Keduanya adalah dua titik gelap dalam garis panjang waktu, seperti dua ketukan keras pada pintu rumah yang selama ini kita kira kuat. Seakan alam bertanya dengan suara yang tak terdengar:

“Apa yang telah kalian pelajari tentang hidup? Tentang kehilangan? Tentang keseimbangan?”

Tsunami 2004 datang seperti gulungan awal dunia: menghapus, meratakan, memutihkan segalanya. Dalam sekejap, manusia dipaksa menyadari bahwa mereka hanyalah tamu singkat di tepi samudra besar yang sudah ada jauh sebelum nama-nama mereka tercatat. Di hari itu, nasib lebih cepat daripada doa.

Dua puluh tahun lebih berlalu, dan manusia kembali bersandar pada keyakinan bahwa bencana hanyalah bab yang lewat. Bahwa duka bisa dipangkas dengan pembangunan, bahwa trauma bisa dikubur dengan tumpukan batu bata baru. Tetapi alam, seperti guru yang tidak pernah puas, datang lagi—dengan bentuk berbeda.

November 2025, air turun dari langit seperti pertanyaan yang tak ingin dijawab.
Hujan, banjir, longsor—semuanya seperti ekspresi murung dari bumi yang letih menerima tusukan demi tusukan dari manusia yang tak pernah tahu kapan harus berhenti.

Di Aceh, orang-orang berjalan di tengah lumpur seperti sedang mengerjakan teka-teki yang tidak memiliki jawaban:
Mengapa alam mengulang kegetirannya?
Mengapa tanah yang subur berubah menjadi peringatan?
Mengapa manusia tidak pernah cukup rendah hati untuk mendengar bisikan alam sebelum ia berubah menjadi teriakan?

Filsuf-filsuf lama mengatakan:
ketidakseimbangan melahirkan koreksi.
Alam bukan pendendam, tetapi ia setia pada keseimbangannya sendiri. Jika yang satu dirusak, yang lain menebus. Ketika hutan ditebang, air runtuh dari bukit; ketika laut dilukai, ia kembali dengan caranya sendiri; ketika manusia lupa batas, alam mengingatkannya lewat ketakutan.

Aceh menjadi panggung terbuka tempat drama kosmik ini dimainkan dengan kejujuran paling kasar.
Di sini manusia belajar bahwa kekuatan bukanlah pada bangunan yang menjulang, melainkan pada kemampuan menerima bahwa mereka tidak pernah benar-benar berkuasa.

Yang paling gelap dari semua ini bukanlah gelombang atau banjir.
Yang paling gelap adalah kesadaran bahwa manusia sering menjadi pencipta dari bencananya sendiri, lalu berdiri di atas reruntuhan sambil bertanya kepada langit: “Mengapa?”

Padahal jawabannya mungkin justru berada di dalam diri: pada kerakusan, pada ketakaburan, pada lupa.

Aceh, dengan dua tanggal itu, berdiri sebagai cermin besar yang memaksa kita menatap diri.
Mungkin yang didera bukan hanya tanah, tetapi juga batin manusia—yang selama ini menilai alam sebagai sesuatu untuk ditaklukkan, bukan untuk dijaga.

Dari dua titik gelap itu, kita belajar bahwa hidup bukan perjalanan menuju keselamatan, melainkan perjalanan menuju pemahaman. Pemahaman bahwa kehilangan adalah guru, dan alam adalah kitab yang harus dibaca dengan rendah hati.

Di Aceh, cahaya bukan tujuan.
Cahaya adalah jeda.
Yang abadi adalah siklus: lahir—hancur—bangkit—dan mengerti.

Dan dari kegelapan itu, kita mulai mendengar suara yang tidak diucapkan:
bahwa manusia hanya akan selamat ketika mereka belajar menjadi bagian dari alam, bukan pemiliknya.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments