LESINDO.COM – Oleh pagi yang datang tanpa suara, hidup sebenarnya telah membagikan begitu banyak hadiah.
Mata terbuka tanpa rasa berat. Tubuh masih mampu berdiri meski kemarin bekerja hingga lelah. Udara pagi masih bisa dihirup tanpa bantuan alat. Dapur mungkin hanya mengepul dengan menu sederhana, tetapi masih ada makanan yang mengisi perut. Rumah mungkin tidak megah, namun tetap menjadi tempat pulang ketika dunia terasa melelahkan. Di sudut kehidupan, masih ada seseorang yang menanyakan kabar, meski hanya satu orang. Bahkan kemampuan untuk mengucapkan syukur pun sesungguhnya adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang.
Semua itu adalah rezeki.
Sayangnya, manusia sering kali hanya memberi nama “rezeki” pada sesuatu yang bisa dihitung dengan angka. Gaji yang besar. Kendaraan baru. Rumah mewah. Jabatan tinggi. Ketika ukuran itu dijadikan satu-satunya patokan, rezeki menjadi terasa sempit. Seolah-olah langit hanya menyediakan sedikit, padahal bumi tak pernah berhenti melimpahkan karunia.
Padahal, rezeki memiliki wajah yang jauh lebih luas daripada sekadar uang.
Seorang petani memandang hujan sebagai rezeki. Nelayan menyambut angin yang bersahabat sebagai rezeki. Seorang ibu menganggap tawa anaknya sebagai rezeki. Seorang pasien yang akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit memahami bahwa sehat adalah rezeki yang tak dapat dibeli. Seorang perantau merasa telepon dari orang tua di kampung adalah rezeki yang menguatkan langkahnya.
Rezeki selalu hadir dengan bahasa yang berbeda-beda.
Kita hidup di bumi yang begitu murah hati. Matahari terbit setiap hari tanpa meminta bayaran. Pepohonan memberi oksigen kepada siapa saja tanpa memilih siapa yang berhak menghirupnya. Air mengalir melepas dahaga. Tanah menumbuhkan makanan. Langit menaungi semua manusia tanpa membedakan kaya atau miskin.
Semesta telah menghamparkan rezeki seluas bumi dan selapang langit. Yang sering kali terbatas bukanlah pemberian Tuhan, melainkan cara pandang manusia.
Ada ironi yang kerap terjadi. Ketika seseorang kehilangan uang, ia merasa hidupnya habis. Namun ia lupa bahwa pagi itu jantungnya masih berdetak normal, kedua matanya masih melihat cahaya, kedua kakinya masih mampu melangkah. Nikmat yang nilainya tak terhingga itu justru dianggap biasa karena hadir setiap hari.
Manusia cenderung terbiasa dengan karunia yang dimiliki, lalu sibuk mengejar karunia yang belum dimiliki. Dari situlah lahir perasaan kurang, meski sesungguhnya hidup telah dipenuhi kecukupan.
Rasa syukur bukan sekadar ungkapan di bibir. Ia adalah cara melihat kehidupan. Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya, tetapi mampu menyadari bahwa apa yang dimilikinya sudah merupakan pemberian yang luar biasa.
Sebaliknya, orang yang terus membandingkan hidupnya dengan milik orang lain akan selalu merasa kekurangan. Berapa pun yang dimiliki, akan terasa kecil jika ukuran kebahagiaan ditentukan oleh kehidupan orang lain.
Karena itu, mungkin yang perlu diperluas bukan jumlah rezeki, melainkan cara kita memaknainya.
Saat kita menyadari bahwa kesehatan adalah rezeki, keluarga adalah rezeki, waktu adalah rezeki, kesempatan adalah rezeki, sahabat adalah rezeki, ketenangan hati adalah rezeki, bahkan kemampuan untuk tetap bangkit setelah gagal pun merupakan rezeki, maka hidup akan terasa jauh lebih lapang.
Rezeki tidak pernah sesempit isi dompet. Rezeki seluas langit yang menaungi bumi, seluas bumi yang setiap hari menghidupi manusia. Tuhan tidak pernah pelit dalam memberi. Kitalah yang kadang terlalu sempit dalam menilai.
Barangkali, kebahagiaan bukan datang ketika rezeki bertambah, melainkan ketika mata hati mulai mampu melihat bahwa sejak kita membuka mata pagi ini, sesungguhnya kita telah dikelilingi oleh rezeki yang tak pernah berhenti mengalir.(Mad)

