Oleh: Adreena Adilla M
LESINDO.COM – Di sebuah pagi yang tampak biasa di sudut kota seperti Yogyakarta, seorang lelaki paruh baya berdiri lama di depan warung kopi. Tangannya menggenggam gelas kecil, kopi tinggal ampas, tetapi pikirannya belum juga tandas. Ia baru saja menolak tawaran membuka usaha kecil-kecilan bersama kawannya. Alasannya sederhana: takut rugi.
“Kalau gagal bagaimana?” katanya pelan, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Pertanyaan itu terdengar wajar. Terlalu wajar, bahkan. Kita dibesarkan dengan nasihat agar berhati-hati, agar tidak sembarang melangkah, agar menghitung sebelum melompat. Namun di sela semua kehati-hatian itu, ada satu ironi yang jarang dibicarakan: hidup sendiri adalah risiko yang tak pernah kita tanda tangani kontraknya.
Mengambil risiko sering terdengar heroik dalam kutipan motivasi, tetapi terasa ganjil ketika harus dibayar dengan cicilan, reputasi, atau harga diri. Ia seperti jurang yang memanggil—di satu sisi menjanjikan pemandangan indah di puncak, di sisi lain menunggu dengan batu-batu keras di dasarnya.
Keluar dari Zona Nyaman
Zona nyaman adalah ruang paling sunyi yang kita pelihara. Di sanalah kita tidur tanpa mimpi buruk, bekerja tanpa gejolak, hidup tanpa banyak pertanyaan. Tetapi diam yang terlalu lama bisa berubah menjadi kebosanan yang pelan-pelan menggerogoti.
Banyak orang memilih bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena terbiasa. Mereka menunda keputusan dengan kalimat-kalimat rasional: “Nanti saja kalau sudah siap.” Padahal kesiapan sering kali tidak datang seperti undangan resmi. Ia harus dijemput—kadang dengan tangan gemetar.
Keluar dari zona nyaman bukan berarti mencari bahaya secara membabi buta. Itu bukan keberanian, melainkan kecerobohan. Seorang nelayan tak akan melaut tanpa membaca cuaca. Seorang petani tak akan menanam tanpa melihat musim. Risiko bukan tentang melompat ke sumur tanpa mengecek kedalamannya; ia tentang menakar kemungkinan, lalu tetap memilih melangkah meski tak ada jaminan.
Antara Berani dan Konyol
Ada garis tipis antara keberanian dan kenekatan. Yang satu lahir dari pertimbangan matang, yang lain dari ego yang ingin terlihat hebat. Dalam budaya kita yang gemar mencari kambing hitam, kegagalan sering kali dianggap aib, bukan proses.
Padahal risiko selalu membawa dua wajah: peluang dan konsekuensi. Mereka datang berpasangan. Ketika seseorang memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap demi membangun usaha sendiri, ia tidak hanya sedang mengejar mimpi. Ia juga sedang menandatangani kemungkinan gagal.
Masalahnya bukan pada gagal atau berhasil. Masalahnya pada kesiapan menerima akibat dari pilihan. Terlalu mudah menyalahkan keadaan, pasar, bahkan “konspirasi alam semesta,” ketika rencana tak berjalan seperti yang dibayangkan. Risiko tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan penyesalan yang berulang.
Gagal sebagai Guru yang Cerewet
Kegagalan sering digambarkan sebagai ibu dari kesuksesan. Ungkapan itu terdengar manis, meski dalam praktiknya, sang “ibu” kadang terasa lebih seperti guru cerewet yang tak henti mengoreksi.
Namun di situlah letak nilainya. Orang yang tak pernah gagal sering kali bukan karena terlalu hebat, melainkan karena terlalu takut mencoba. Ia selamat, tetapi tak pernah benar-benar bertumbuh. Ia aman, tetapi sunyi dari cerita.
Risiko mengajarkan sesuatu yang tak bisa diberikan oleh kenyamanan: kedewasaan. Ketika rencana runtuh, kita dipaksa melihat diri sendiri tanpa hiasan. Kita belajar memilah mana yang sekadar ambisi dan mana yang sungguh panggilan.
Menggali Lubang atau Menemukan Mata Air
Setiap pilihan adalah cangkul pertama yang menghantam tanah. Kita tak pernah benar-benar tahu apakah yang kita gali akan menjadi lubang penyesalan atau mata air kemungkinan. Tetapi satu hal pasti: tanpa menggali, tanah itu akan tetap rata—dan hidup akan tetap datar.
Mengambil risiko bukan tentang menjadi nekat. Ia tentang menerima bahwa tidak semua yang berharga datang dengan jaminan. Bahwa keberanian bukan ketiadaan takut, melainkan keputusan untuk tetap melangkah meski takut itu ada.
Barangkali pada akhirnya, hidup bukan soal menghindari jurang atau mencapai puncak. Ia tentang kesediaan berjalan, dengan segala kemungkinan yang menyertainya. Sebab yang paling sunyi bukanlah kegagalan, melainkan penyesalan karena tak pernah mencoba.
Dan seperti lelaki di warung kopi itu, kita semua suatu hari akan berdiri di persimpangan. Pertanyaannya sederhana, meski jawabannya tak pernah ringan:
Apakah kita memilih aman—atau memilih hidup sepenuhnya?

