LESINDO.COM – Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Suaranya menggema pelan di antara dinding yang mulai kusam dimakan usia. Di ruang guru yang sederhana, seorang Wanita  yang memasuki usia pensiun tetapi masih kelihatan muda tidak menampakan sepuhnya merapikan buku-buku pelajaran dengan gerak yang tak lagi secepat dulu. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, tetapi sorot matanya tetap teduh—mata seorang guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri.
Namanya mungkin tak pernah tercatat dalam daftar panjang penerima SK PNS. Tak ada nomor induk pegawai yang bisa dibanggakan. Tak ada seremoni pelantikan yang dihadiri pejabat. Namun setiap pagi, ia tetap datang lebih awal dari siapa pun, membuka jendela kelas, menyapu lantai bila perlu, lalu berdiri di depan papan tulis dengan keyakinan yang sama: mendidik adalah panggilan jiwa.
Ia memulai kariernya di era ketika menjadi guru bukanlah soal gaji, melainkan soal pengabdian. Honor yang diterima sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada masa ketika ia harus mengajar sambil bertani kecil-kecilan, atau memberi les tambahan agar dapur tetap mengepul. Tetapi satu hal yang tak pernah surut adalah semangatnya.
“Ilmu itu cahaya,” begitu katanya suatu hari kepada murid-muridnya.
Waktu berjalan tanpa banyak basa-basi. Murid-muridnya kini telah menjadi dokter, perangkat desa, pedagang sukses, bahkan ada yang menjadi aparatur negara. Mereka memanggilnya “Bu Guru” dengan penuh hormat setiap kali berjumpa di jalan. Ironisnya, di antara sekian banyak yang berhasil, namanya sendiri tak pernah benar-benar “diakui” oleh sistem.
Puluhan tahun mengajar, berkas pengajuan demi pengajuan pernah ia siapkan. Harapan akan SK PNS sempat bersemi, lalu gugur perlahan. Usia terus bertambah, regulasi berubah, kesempatan menyempit. Hingga akhirnya, ia sampai pada satu kesadaran sunyi: mungkin jalannya memang bukan di sana.
Namun adakah pengabdian menjadi sia-sia hanya karena tak disahkan selembar kertas?
Di beranda rumahnya yang sederhana, ia kini lebih sering duduk menikmati sore. Tangannya masih terbiasa memegang buku, sesekali menandai kalimat penting dengan pensil. Pensiun datang tanpa seremoni. Tak ada uang pensiun tetap yang menunggu tiap bulan. Hanya kenangan, doa-doa murid, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah keliru mencatat amal hamba-Nya.
Baginya, kebahagiaan bukanlah SK PNS yang tak sempat digenggam. Kebahagiaan adalah ketika melihat anak didiknya mampu membaca dunia dengan lebih terang. Kebahagiaan adalah saat ada mantan murid yang datang mencium tangannya dan berkata, “Terima kasih, Bu Guru.”
Di usia yang menua, hatinya justru semakin seleh. Ia menyadari, nikmat Allah tak hanya berupa status atau jabatan. Kesehatan yang masih tersisa, keluarga yang mendampingi, waktu luang untuk beribadah dengan lebih khusyuk—itulah karunia yang mungkin dahulu tak sempat ia hitung.
Pengabdian memang tak selalu tercetak di atas SK. Tetapi ia tercatat rapi di hati banyak orang. Dan barangkali, lebih penting lagi, tercatat di langit—di tempat yang tak pernah salah menilai ketulusan.
Pengabdian tanpa SK ASN tak pernah menjadi soal. Yang terpenting adalah sudah berikhtiar, sudah menanam niat baik, dan menjalani tugas dengan sungguh-sungguh. Sebab pada akhirnya, takdir Allah selalu menjadi keputusan terbaik—meski sering kali baru kita pahami maknanya setelah waktu berlalu.
Ternyata waktu begitu cepat beringsut. Tanpa terasa, usia kian menua. Di titik inilah hati belajar luwih seleh—lebih tenang, lebih legawa, lebih menikmati anugerah yang selama ini mungkin terlewat disadari.
Kebahagiaan ternyata bukan semata tentang SK PNS atau status apa pun yang melekat pada nama. Itu hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan. Nikmat Allah jauh lebih luas dari sekadar pengakuan administratif. Ada kesehatan yang masih menyertai langkah, ada keluarga yang setia membersamai, ada kesempatan bangun pagi dengan napas yang utuh—semua itu adalah karunia yang sering luput kita hitung.
Bahagia itu sederhana: cukup merasa cukup.
Belajar bersyukur atas apa yang ada, bukan terus menghitung apa yang belum tergenggam.
Sebab nikmat Allah tak hanya yang tampak di mata, tetapi juga yang tersembunyi dalam rasa—ketenangan, keikhlasan, dan hati yang semakin dewasa menerima garis takdir-Nya.(mac)

