spot_img
BerandaJelajahPuasa: Jalan Sunyi Menuju Kejernihan

Puasa: Jalan Sunyi Menuju Kejernihan

Pada akhirnya, puasa adalah undangan untuk kembali. Kembali pada hati yang bersih, pada niat yang diluruskan, dan pada hubungan yang lebih jujur dengan Tuhan. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati lahir ketika manusia tak lagi diperbudak oleh keinginan, tetapi dipimpin oleh kesadaran dan cinta yang bening.

LESINDO.COM – Pagi itu, udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di sebuah sudut kampung, seorang lelaki paruh baya duduk bersandar di beranda rumahnya. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat yang tak ia sentuh. Waktu menunjukkan pukul enam, dan perutnya mulai beradaptasi dengan sunyi. “Setiap Ramadan,” ujarnya pelan, “saya seperti diajak pulang.”

Puasa, bagi banyak orang, memang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan yang tak selalu kasatmata—perjalanan sunyi menuju kejernihan diri. Dalam tradisi Islam, kewajiban ini berakar pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menyeru orang-orang beriman untuk berpuasa agar mencapai takwa. Di situlah maknanya melampaui fisik: ia adalah latihan batin, sebuah disiplin halus untuk menundukkan gelora yang sering tak terlihat, namun diam-diam menggerakkan manusia.

Di siang hari yang panjang, ketika matahari tegak di atas kepala dan tenggorokan terasa kering, tubuh memang melemah. Namun justru di titik itulah kesadaran menemukan ruangnya. Tidak ada asupan yang menguatkan raga, tetapi ada jeda yang memberi kesempatan jiwa berbicara. Dalam diamnya perut yang kosong, manusia mulai mendengar suara-suara yang selama ini tenggelam oleh hiruk-pikuk keinginan: ambisi yang berlebihan, amarah yang mudah tersulut, atau kata-kata yang terlalu ringan meluncur dari lisan.

“Puasa itu seperti cermin,” kata seorang guru ngaji di langgar kecil kampung tersebut. “Ia memantulkan siapa kita sebenarnya.” Cermin itu tak pernah berdusta. Ia memperlihatkan apakah kita mampu bersabar ketika diuji, menahan amarah saat tersinggung, menjaga lisan dari gosip, dan merawat pikiran agar tetap jernih. Kekuatan sejati, pelan-pelan disadari, bukan terletak pada kemampuan memiliki, melainkan pada kemampuan mengendalikan.

Di pasar tradisional yang mulai ramai menjelang senja, seorang ibu penjual gorengan menata dagangannya dengan senyum letih. Ia sendiri berpuasa, tetapi tangannya lincah melayani pembeli. “Kalau puasa, saya jadi lebih peka,” tuturnya. “Rasa lapar ini mengingatkan bahwa di luar sana, ada yang merasakannya bukan karena pilihan.” Dari pengalaman sederhana itulah empati tumbuh—kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan tentang keterhubungan dengan sesama.

Puasa juga mengajarkan tentang jeda. Di zaman yang serba cepat, ketika notifikasi tak pernah berhenti dan kebutuhan terasa tak pernah cukup, puasa menghadirkan ruang hening. Ia memaksa manusia untuk berhenti sejenak dari konsumsi—bukan hanya makanan, tetapi juga informasi, emosi, dan hasrat yang tak terkendali. Dalam jeda itu, manusia belajar memilah: mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang sekadar keinginan.

Bagi sebagian orang, perjalanan ini berujung pada rasa ringan yang sulit dijelaskan. Seolah ada beban yang terlepas ketika matahari tenggelam dan azan magrib berkumandang. Buka puasa bukan hanya tentang tegukan pertama yang membasahi tenggorokan, tetapi tentang syukur yang mengalir pelan. Ada kesadaran baru bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, tak pernah layak dianggap biasa.

Pada akhirnya, puasa adalah undangan untuk kembali. Kembali pada hati yang bersih, pada niat yang diluruskan, dan pada hubungan yang lebih jujur dengan Tuhan. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati lahir ketika manusia tak lagi diperbudak oleh keinginan, tetapi dipimpin oleh kesadaran dan cinta yang bening.

Di beranda rumah itu, lelaki paruh baya tadi tersenyum menjelang senja. Hari yang panjang akan segera usai. Namun perjalanan batin yang ia tempuh tak berhenti pada azan magrib. Sebab puasa, sebagaimana hidup, bukan sekadar tentang menahan—melainkan tentang menemukan kembali diri yang paling jernih di hadapan Ilahi. (Nil)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments