spot_img
BerandaHumaniora“Langit Tanpa Pagar: Berani Melepas, Berani Sendiri  

“Langit Tanpa Pagar: Berani Melepas, Berani Sendiri  

Cinta sejati tidak menuntut kepemilikan, katanya. Ia hanya meminta keikhlasan. Tetapi keikhlasan bukan barang diskon yang mudah dibeli di etalase kesadaran. Ia ditempa dari ego yang retak, dari harapan yang tak terpenuhi, dari mimpi yang harus direvisi. Dalam keikhlasan, kita memang menemukan kedamaian—atau setidaknya, versi paling sunyi dari penerimaan.

LESINDO.COM – Di kota yang gemar memamerkan status hubungan di kolom bio, cinta sering kali diperlakukan seperti sertifikat tanah: harus jelas kepemilikannya, lengkap dengan materai dan saksi. Kita diajari bahwa mencintai berarti menggenggam erat—seerat mungkin—seolah kebahagiaan bisa bocor jika jari-jari sedikit saja merenggang. Maka lahirlah generasi penjaga pagar, bukan penikmat langit.

Padahal cinta sejati, konon, tidak lahir dari genggaman. Ia justru tumbuh dari keberanian melepaskan—sebuah tindakan yang terdengar puitis, tapi terasa seperti menaruh hati di meja lelang takdir. Melepaskan bukan berarti menyerah; setidaknya begitu kata para motivator yang fotonya tersenyum di balik kutipan bijak. Ia disebut sebagai bentuk kepercayaan tertinggi: bahwa apa yang memang ditakdirkan akan menemukan jalannya pulang. Seperti sungai yang berkelok sebelum kembali ke laut, cinta pun, katanya, hanya sedang mengambil rute alternatif sebelum berlabuh.

Namun mari kita jujur sejenak. Melepaskan sering kali bukan soal filsafat, melainkan soal kelelahan. Kita melepaskan karena tak lagi sanggup menjadi satpam perasaan sendiri. Kita belajar bahwa menjaga seseorang agar tetap tinggal kadang lebih melelahkan daripada membiarkannya pergi. Dan di situlah satir kehidupan bekerja: semakin keras kita menggenggam, semakin besar kemungkinan yang digenggam itu ingin lepas.

Jika ia kembali, orang-orang akan menyebutnya takdir. Padahal bisa jadi ia hanya kehabisan pilihan lain. Tetapi kita senang pada narasi yang romantis. Kita percaya bahwa yang kembali bukan karena terpaksa, melainkan karena memilih. Dan pilihan yang lahir dari kebebasan, begitu bunyi teori, lebih kuat daripada ikatan yang lahir dari ketakutan kehilangan. Maka kita pun menyambutnya sebagai rekan perjalanan yang sadar—meski diam-diam masih menyimpan trauma pada kata “pergi”.

Lalu bagaimana jika ia tak pernah pulang? Di sinilah kebijaksanaan dipaksa bekerja lembur. Kita belajar bahwa tidak semua yang singgah diciptakan untuk menetap. Beberapa hadir hanya untuk mengajarkan arti, bukan untuk dimiliki. Kalimat ini terdengar dewasa dan matang, sampai suatu malam kita kembali membuka arsip percakapan lama dan bertanya dalam hati: mengapa pelajaran harus selalu datang dalam bentuk kehilangan?

Cinta sejati tidak menuntut kepemilikan, katanya. Ia hanya meminta keikhlasan. Tetapi keikhlasan bukan barang diskon yang mudah dibeli di etalase kesadaran. Ia ditempa dari ego yang retak, dari harapan yang tak terpenuhi, dari mimpi yang harus direvisi. Dalam keikhlasan, kita memang menemukan kedamaian—atau setidaknya, versi paling sunyi dari penerimaan.

Akhirnya, cinta mengajarkan satu hal yang tak pernah masuk dalam kurikulum romansa populer: bahwa melepaskan bukan tentang siapa yang kembali, melainkan tentang siapa yang tetap utuh setelah ditinggal. Dalam pelepasan, kita menemukan kebenaran yang tak selalu manis—bahwa takdir bukan sekadar soal bertemu lagi, tetapi tentang berani melanjutkan langkah meski sendirian. Dan mungkin, di sanalah kita benar-benar menemukan diri sendiri: bukan sebagai pemilik, bukan sebagai yang dimiliki, melainkan sebagai manusia yang belajar mencintai tanpa harus menggenggam. (Rul)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments