spot_img
BerandaJelajahjelajahKetika Hilal Tak Sepenuhnya Sama: Ramadan di Persimpangan Tafsir

Ketika Hilal Tak Sepenuhnya Sama: Ramadan di Persimpangan Tafsir

Namun justru di titik inilah kedewasaan sosial kita diuji. Apakah kita melihat perbedaan sebagai ancaman, atau sebagai cermin kekayaan tafsir? Di banyak sudut negeri, masjid tetap penuh, dapur-dapur tetap mengepul, dan tangan-tangan tetap saling berbagi. Kalender boleh berbeda, tetapi niat untuk menyucikan diri tetap satu.

LESINDO.COM – Menjelang Ramadan, langit Indonesia selalu tampak sedikit berbeda. Bukan karena warna senja yang berubah, melainkan karena tafsir manusia terhadap cahaya tipis di ufuk barat. Setiap tahun, bangsa ini kembali memasuki ritual sunyi yang sama: menunggu hilal, menunggu keputusan, menunggu apakah besok kita sudah berpuasa—atau masih harus menunggu satu hari lagi.

Perbedaan awal Ramadan sering dianggap sebagai “drama tahunan”, seolah ada dua kalender yang saling berlomba. Namun sesungguhnya, yang berbeda bukanlah kitab rujukan, melainkan cara membaca isyarat langit. Semua pihak berdiri di atas tanah yang sama: Al-Qur’an dan hadis Nabi. Yang membedakan hanyalah metode menafsirkan posisi bulan—sebuah ruang ijtihad yang telah lama hidup dalam khazanah Islam.

Di satu sisi, ada wujudul hilal, metode hisab yang berbasis perhitungan astronomis presisi. Selama bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meski belum terlihat mata, maka hari berikutnya telah dianggap sebagai awal bulan. Di sisi lain, ada imkanur rukyat, pendekatan yang mensyaratkan keterlihatan fisik. Bulan tak cukup hanya berada di atas ufuk; ia harus mencapai ketinggian tertentu agar benar-benar mungkin dilihat oleh mata manusia.

Perbedaan ini menjadi terasa ketika alam sendiri bersikap “setengah-setengah”. Pada akhir Syakban 1447 Hijriah (Ramadan 2026), posisi hilal diprediksi berada di wilayah tanggung—tipis, rendah, dan nyaris tak tampak. Dalam kondisi seperti ini, hisab menyatakan bulan sudah lahir, sementara rukyat memandangnya belum cukup “hadir”. Maka satu pihak mulai berpuasa, sementara pihak lain menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.

Namun justru di titik inilah kedewasaan sosial kita diuji. Apakah kita melihat perbedaan sebagai ancaman, atau sebagai cermin kekayaan tafsir? Di banyak sudut negeri, masjid tetap penuh, dapur-dapur tetap mengepul, dan tangan-tangan tetap saling berbagi. Kalender boleh berbeda, tetapi niat untuk menyucikan diri tetap satu.

Negara, melalui Sidang Isbat dan kriteria MABIMS, berusaha menjadi jembatan di antara dua pendekatan ini. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi merangkulnya—mengajak semua pihak duduk dalam satu meja langit, membaca cahaya yang sama dengan cara yang mungkin tak selalu seragam.

Pada akhirnya, hilal hanyalah seutas cahaya. Yang membuatnya bermakna adalah cara kita memaknainya—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan kelapangan hati. Karena Ramadan, lebih dari sekadar tanggal, adalah perjalanan batin yang tak pernah benar-benar terpisah.(Nel)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments