LESINDO.COM – Pagi itu, Dimas duduk di sudut kafe kecil di tengah kota. Secangkir kopi di hadapannya sudah dingin, tapi wajahnya masih tampak lelah—bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak mendengar.
Ia baru saja berpisah dari seorang teman yang, selama satu jam penuh, menumpahkan keluh kesah hidupnya tanpa jeda. Tak satu pun pertanyaan tentang kabar Dimas sendiri.
“Aku capek, Mas,” katanya lirih, seolah kelelahan itu tak punya bentuk, tapi menekan dada.
Di luar, lalu lintas tetap bising. Orang-orang berlalu-lalang membawa urusan masing-masing. Namun di dalam dirinya, Dimas merasa seperti kehilangan sesuatu yang tak kasatmata: ketenangan batin.
Tanpa disadari, banyak dari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang tidak mengambil harta, tidak mencederai fisik, tetapi perlahan menguras energi baik. Mereka bukan jahat, bahkan sering kali tampak ramah dan penuh cerita. Namun setiap perjumpaan meninggalkan rasa lelah yang tak mudah dijelaskan.
Mereka adalah pencuri yang tak pernah terlihat.
Ketika Keluhan Menjadi Udara Sehari-hari
Ada tipe pertama yang paling mudah dikenali: si pengeluh tanpa henti.
Setiap hari adalah kisah kesialan.
Setiap percakapan adalah daftar panjang kekecewaan.
Pada awalnya, kita mendengarkan dengan empati. Kita ingin menolong. Namun lambat laun, keluhan itu menjadi seperti hujan yang tak pernah berhenti. Bukan menyuburkan, justru membanjiri.
Tanpa sadar, kita ikut memandang hidup dari kaca mata yang sama—penuh kekurangan, penuh luka, penuh ketidakpuasan. Energi baik yang semula ada dalam diri mulai pudar, digantikan rasa berat yang tak tahu datang dari mana.
Drama yang Tak Pernah Usai
Jenis kedua adalah si drama berlarut.
Baginya, setiap masalah kecil harus menjadi besar.
Setiap konflik harus dipanjangkan.
Hubungan dengan orang seperti ini serasa berada di panggung sandiwara tanpa tirai penutup. Kita dipaksa menjadi penonton, sekaligus pemeran, dalam kisah yang tak pernah benar-benar selesai.
Kita lelah menenangkan, lelah menjelaskan, lelah mengulang permintaan maaf.
Namun tak pernah cukup.
Dan saat akhirnya kita pergi, batin kita sudah terseret terlalu jauh.
Lembut yang Melumpuhkan
Lebih berbahaya adalah si manipulator halus.
Ia tidak memaksa.
Ia hanya membuat kita merasa harus.
Harus membantu.
Harus memahami.
Harus mengalah.
Dengan kata-kata lembut, ia menanam rasa bersalah. Dengan wajah terluka, ia menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tak pernah kita pilih.
Sedikit demi sedikit, kita kehilangan batas diri.
Energi mental terkuras, tapi kita takut pergi karena merasa berutang. Padahal, cinta yang sehat tidak pernah dibangun dari rasa terikat dan bersalah.
Hubungan yang Timpang
Ada pula si pengambil tanpa memberi.
Ia selalu hadir saat butuh, namun jarang saat kita memerlukan.
Hubungan terasa satu arah. Kita memberi, ia menerima.
Awalnya ikhlas, namun lama-kelamaan muncul rasa kosong. Kita merasa tak dilihat, tak didengar, tak dihargai.
Energi baik terkikis oleh perasaan dimanfaatkan.
Arena Persaingan yang Melelahkan
Yang terakhir adalah si kompetitif berlebihan.
Segalanya menjadi ajang lomba.
Bahkan kebahagiaan pun harus dibandingkan.
Di dekatnya, kita merasa kurang.
Meragukan diri.
Kehilangan damai dalam diri sendiri.
Padahal hidup bukan arena adu cepat.
Namun di sekitarnya, segalanya terasa harus menang.
Belajar Menjaga Ruang Batin
Mereka mungkin tidak sadar telah mencuri energi kita.
Namun kita berhak menjaga diri.
Menetapkan batas bukan berarti membenci.
Menjauh bukan berarti kejam.
Itu adalah cara paling sederhana untuk bertahan.
Karena ketenangan bukanlah kemewahan,
ia adalah kebutuhan jiwa.
Dan menjaga energi baik bukanlah egoisme,
melainkan bentuk paling jujur dari mencintai diri sendiri. (Cha)

