spot_img
BerandaJelajahKalianget: Garam, Besi, dan Jejak Waktu di Ujung Madura

Kalianget: Garam, Besi, dan Jejak Waktu di Ujung Madura

Modernisasi mungkin menggerus sebagian wajah lamanya. Tapi Kalianget tidak pernah benar-benar berubah. Ia tetap menjadi saksi bahwa di sudut Madura ini, pernah berdiri sebuah pusat peradaban—dibangun dari garam, besi, dan keringat.

LESINDO.COM – Pelabuhan Kalianget bukan sekadar tempat kapal bersandar. Ia adalah pintu waktu. Di dermaganya, masa lalu masih berdenyut pelan—tersimpan dalam tembok tua, rel besi berkarat, dan aroma asin yang seolah tak pernah benar-benar pergi.

Terletak di ujung timur Pulau Madura, Kalianget sejak lama menjadi simpul peradaban. Laut di depannya tenang, terlindung daratan. Selat Madura menghampar seperti halaman depan yang terbuka bagi dunia luar. Dari sinilah kapal datang dan pergi, membawa bukan hanya barang, tetapi juga perubahan.

Garam dan Ambisi Kolonial

Sejarah modern Kalianget dimulai ketika pemerintah kolonial Belanda menemukan potensi besar garam di Sumenep. Bagi mereka, garam bukan sekadar bumbu dapur—ia adalah emas putih.

Pada tahun 1899, Belanda membangun Pabrik Garam Briket Modern pertama di Indonesia di Kalianget. Sejak saat itu, desa pesisir ini menjelma menjadi kota industri yang sibuk. Gudang-gudang berdiri megah, cerobong asap mengepul, dan lori kecil berderak membawa garam dari ladang menuju kapal yang menunggu di pelabuhan.

Rel-rel besi itu kini telah diam. Tapi jika pagi terlalu sunyi, seolah masih terdengar suara roda yang beradu dengan baja—irama kerja keras yang dulu menghidupi ribuan orang.

Kota Tua yang Masih Bernapas

Pelabuhan kecil yang menghubungkan antar pulau yang berada di gugusan pulau Madura, pulau Kangean dan Sapeken, bahkan menuju Situbondo (Jangkar) hingga Bali.(mc)

Belanda tidak hanya membangun pabrik. Mereka menciptakan sebuah kota.

Di sekitar pelabuhan, berdiri rumah dinas pegawai dengan arsitektur Eropa, gedung pembangkit listrik, serta gudang-gudang besar yang kini mulai lapuk dimakan usia. Inilah “Kota Tua” Kalianget—sebuah lanskap sejarah yang menyimpan cerita tentang masa ketika Madura menjadi pusat industri garam terbesar di Nusantara.

Tembok-temboknya mungkin retak, tapi ingatannya masih utuh.

Simpul Kehidupan Antar Pulau

Seiring waktu, Kalianget tidak hanya mengangkut garam. Ia menjadi urat nadi transportasi bagi masyarakat kepulauan:

Dari sini, perahu berlayar ke Talango (Poteran), menyeberang jauh ke Kangean dan Sapeken, bahkan menuju Situbondo (Jangkar) hingga Bali.

Setiap kapal membawa harapan: pedagang kecil, perantau, pelajar, dan mimpi-mimpi yang ingin menyeberang ke masa depan.

Dua Wajah Kalianget Hari Ini

Kini, Kalianget hidup dengan dua wajah:

  • Pelabuhan Rakyat, tempat perahu kayu kecil hilir mudik.
  • Pelabuhan PT Garam, yang masih menyimpan denyut sejarah industri kolonial.

Modernisasi mungkin menggerus sebagian wajah lamanya. Tapi Kalianget tidak pernah benar-benar berubah. Ia tetap menjadi saksi bahwa di sudut Madura ini, pernah berdiri sebuah pusat peradaban—dibangun dari garam, besi, dan keringat.

Dan setiap ombak yang memecah di dermaganya, seolah berbisik:

Kami pernah besar. Kami pernah penting. Kami masih di sini.(mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments