spot_img
BerandaJelajahjelajahHari Pers Nasional: Ketika Deadline Masih Berbau Tinta

Hari Pers Nasional: Ketika Deadline Masih Berbau Tinta

Bahwa pers pernah berjalan kaki di bawah terik, menunggu narasumber di warung kopi, menulis dengan tangan gemetar karena waktu. Bahwa hari ini pers berjalan secepat jaringan internet, menayangkan peristiwa secara langsung dari genggaman.

LESINDO.COM – Di suatu pagi yang berdebu di tahun 2009, seorang wartawan lokal menutup tas selempangnya. Di dalamnya hanya ada tiga benda yang terasa sakral: pulpen, buku catatan, dan kartu pers. Tak ada ponsel pintar, tak ada perekam suara, apalagi kamera digital. Jika ingin mengabadikan gambar, ia harus membawa kamera kantor dengan roll film yang hanya cukup untuk beberapa jepretan.

Namun justru di situlah nyawa pers berada.

Ia berangkat dari satu lokasi ke lokasi lain, mengejar narasumber yang sering kali tak tepat waktu, diburu deadline yang terasa seperti jam pasir yang terus menipis. Waktu bukan sekadar angka di jam dinding redaksi, melainkan denyut nadi yang menentukan hidup-matinya sebuah berita.

Masa Ketika Media Lokal Tumbuh Seperti Jamur

Tahun 2009-an adalah masa keemasan media cetak lokal. Di bawah naungan Jawa Pos Group, jaringan Radar tumbuh subur di banyak daerah. Setiap kota memiliki suaranya sendiri, setiap desa berpeluang masuk halaman depan.

Media lokal kala itu menjadi mata dan telinga masyarakat. Mereka memotret peristiwa paling dekat: banjir di kampung, konflik pasar, prestasi siswa desa, hingga kisah kecil yang tak pernah masuk radar media nasional.

Pers hidup dari langganan, dari kepercayaan pembaca, dari bau tinta yang setiap pagi menyambut di teras rumah.

Ketika Zaman Mengubah Segalanya

Namun waktu tak pernah menunggu.

Perkembangan teknologi menggeser segalanya. Media cetak satu per satu tumbang. Bukan karena pers mati, melainkan karena berubah wujud.

Kini berita bisa tayang dalam hitungan detik. Tak perlu menunggu besok pagi. Tak perlu menunggu mesin cetak berdentum. Media online mengambil alih, disusul media sosial yang membuat hampir setiap orang menjadi “wartawan”.

Kata deadline masih ada, tetapi bentuknya berbeda. Bukan lagi menunggu cetak, melainkan kejar tayang, kejar klik, kejar viral.

Sayangnya, kecepatan sering mengalahkan ketelitian. Banyak informasi tersebar tanpa verifikasi, tanpa etika, tanpa tanggung jawab.

Pers Tidak Mati, Ia Berevolusi

Hari Pers Nasional bukan sekadar peringatan, melainkan cermin.

Bahwa pers pernah berjalan kaki di bawah terik, menunggu narasumber di warung kopi, menulis dengan tangan gemetar karena waktu.
Bahwa hari ini pers berjalan secepat jaringan internet, menayangkan peristiwa secara langsung dari genggaman.

Tantangannya kini bukan lagi keterbatasan alat, tetapi kelimpahan informasi. Masyarakat ikut menjadi bagian dari arus pemberitaan. Namun tanpa kesadaran, media bisa berubah dari alat pencerahan menjadi sumber kegaduhan.

Belajar dari Masa Lalu

Semoga Hari Pers Nasional mengingatkan kita bahwa:

Pers bukan soal cepat atau lambat,
tetapi tentang benar atau salah, adil atau tidak, menyejukkan atau melukai.

Media boleh berubah bentuk.
Tapi nurani jurnalistik harus tetap sama.

Karena di balik layar, di balik klik, di balik viral—
pers sejati selalu berpihak pada kebenaran. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments