spot_img
BerandaHumanioraMereka yang Tak Punya, Tapi Paling Jujur

Mereka yang Tak Punya, Tapi Paling Jujur

Ketika orang-orang jujur itu dihina, dunia seakan terdiam sejenak. Ada getar yang tak kasatmata—sebuah vibrasi halus yang memantul dari luka mereka. Alam, dengan caranya sendiri, seolah menolak ketidakadilan. Seakan berkata: yang kamu rendahkan hari ini, akan Kami angkat esok hari.

LESINDO.COM – Sering kali mata kita tertipu oleh kemilau.
Oleh kain yang licin dan bersih.
Oleh sorban yang melingkar rapi di kepala.
Oleh peci hitam yang tampak khidmat.
Oleh seragam yang berdiri tegap seperti simbol kehormatan.

Kita belajar sejak kecil untuk percaya pada tampilan. Bahwa siapa yang berpakaian “pantas”, berbicara “santun”, dan berdiri di podium “terhormat”, pastilah juga berhati bersih. Namun hidup, dengan cara yang sering terasa kejam, justru gemar membuka tirai itu secara paksa.

Suatu hari kita tersentak.
Bahwa yang tampak bercahaya belum tentu bening.
Bahwa yang berkilau belum tentu suci.

Di balik pakaian yang tampak agung, sering tersembunyi hati yang penuh noda. Kata-kata yang terdengar saleh bisa menyimpan dendam, iri, dan keangkuhan. Kekuasaan yang dibungkus kesalehan kadang justru menjadi senjata paling tajam untuk melukai sesama.

Sebaliknya, di sudut-sudut yang luput dari perhatian, kita sering menemukan manusia-manusia yang tak memiliki apa-apa—kecuali satu hal yang tak bisa dibeli: kejujuran.

Mereka yang kita pandang sebelah mata.
Yang pakaiannya lusuh.
Yang hidupnya sederhana.
Yang namanya tak pernah tercetak di mana pun.

Namun di dadanya, masih tersisa ruang bening yang jarang dimiliki mereka yang merasa “lebih”. Mereka tak pandai menyembunyikan niat. Tak lihai memainkan topeng. Tak cakap berdalih. Yang mereka punya hanyalah kerja, doa, dan hati yang tak terbiasa menipu.

Ketika orang-orang jujur itu dihina, dunia seakan terdiam sejenak.
Ada getar yang tak kasatmata—sebuah vibrasi halus yang memantul dari luka mereka. Alam, dengan caranya sendiri, seolah menolak ketidakadilan. Seakan berkata: yang kamu rendahkan hari ini, akan Kami angkat esok hari.

Sebab kehormatan sejati bukanlah apa yang menempel di tubuh, melainkan apa yang tumbuh di dalam batin.
Bukan tentang jabatan.
Bukan tentang kendaraan.
Bukan tentang gelar.

Tetapi tentang adab, tentang nurani, tentang kemampuan melihat manusia sebagai manusia—bukan sebagai etalase status.

Mereka yang menilai sesama dari pakaian dan harta sejatinya sedang kehilangan sesuatu yang paling dasar: kesadaran akan hakikat dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa pada akhirnya, kita semua akan berdiri tanpa atribut, tanpa topeng, tanpa seragam.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan sederhana:
Apakah hatimu masih jujur?

Di situlah manusia menemukan derajatnya yang sejati.(Rul)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments