LESINDO.COM – Waktu, bagi sebagian besar makhluk hidup, adalah algojo yang bekerja diam-diam. Ia memendekkan napas, mengerutkan sel, dan perlahan mengikis daya tahan tubuh. Namun di sudut-sudut bumi yang sunyi, ada makhluk-makhluk yang seolah tidak pernah menandatangani perjanjian dengan ketergesaan. Mereka hidup pelan, bergerak hemat, dan menua dengan cara yang nyaris sopan. Salah satunya adalah kura-kura—makhluk bersisik dengan langkah seukuran kesabaran.
Di Kepulauan Galapagos, ada kura-kura raksasa yang lahir ketika dunia belum mengenal listrik, lalu tetap hidup saat manusia sudah berbicara tentang kecerdasan buatan. Usia seratus tahun bagi mereka bukan pencapaian, melainkan permulaan. Mereka tidak mengejar apa pun. Tidak berlomba. Tidak pula tergesa. Dalam diam, tubuh mereka mengajarkan satu pelajaran penting: panjang umur bukan hasil perlawanan terhadap waktu, melainkan hasil berdamai dengannya.
Hidup Pelan sebagai Strategi Biologis
Kura-kura hidup dengan metabolisme rendah, seperti mesin tua yang dirawat dengan cermat dan jarang dipaksa bekerja keras. Setiap detak biologis berlangsung hemat. Energi dibakar seperlunya. Tubuh mereka tidak memproduksi banyak limbah metabolik berupa radikal bebas—zat kecil yang sering menjadi biang kerok kerusakan DNA dan penuaan dini.
Para ilmuwan menyebutnya rate of living theory: semakin cepat kehidupan dijalani, semakin cepat pula ia habis. Kura-kura, dengan kesadarannya yang biologis, memilih hidup seperti air yang mengalir pelan di dasar sungai—tidak memercik, tidak mengikis tebing secara kasar, tetapi tetap sampai ke muara.
Saat makanan menghilang, kura-kura tidak panik. Mereka menurunkan ritme hidup hingga titik nyaris hening. Organ-organ tubuh “diparkir”, metabolisme ditekan, dan energi dipelihara. Dalam kondisi ini, tubuh mereka seperti sedang berpuasa panjang—sebuah keadaan yang pada manusia justru dikenal mampu memicu perbaikan sel dan pembersihan internal. Bagi kura-kura, puasa bukan tren kesehatan, melainkan naluri purba.
Gen yang Tidak Mudah Lelah
Di tingkat terdalam, rahasia umur panjang kura-kura tersimpan di ujung DNA mereka—telomer. Jika pada manusia telomer memendek seiring usia, pada kura-kura proses itu berjalan sangat lambat. Sel-sel mereka seolah diberi izin untuk memperbaiki diri lebih lama, membelah tanpa tergesa, dan menunda keriput biologis yang bagi makhluk lain tak terelakkan.
Lebih dari itu, kura-kura memiliki mekanisme pertahanan seluler yang efisien. Sel yang rusak segera “dipensiunkan” sebelum berubah menjadi ancaman. Kanker—momok bagi banyak spesies—jarang menjadi akhir kisah bagi mereka. Tubuh kura-kura tahu kapan harus bertahan, dan kapan harus melepaskan.
Cangkang dan Takdir yang Panjang
Cangkang keras di punggung kura-kura bukan sekadar pelindung fisik, melainkan tiket evolusioner menuju usia lanjut. Karena jarang dimangsa, kura-kura tidak dipaksa berevolusi cepat. Mereka tidak perlu tumbuh tergesa, tidak perlu bereproduksi secepat mungkin. Alam memberi mereka satu kemewahan langka: waktu.
Berbeda dengan hewan kecil yang hidupnya seperti lilin—terang sesaat lalu habis—kura-kura adalah lampu minyak. Nyala kecil, stabil, dan tahan lama. Dalam logika evolusi, siapa yang aman dari ancaman luar akan berinvestasi pada ketahanan dalam.
Para Penolak Kematian Lainnya
Kura-kura bukan satu-satunya makhluk yang menantang jam biologis. Di laut Arktik, hiu Greenland berenang perlahan selama lebih dari empat abad. Di kedalaman samudra, kerang ocean quahog hidup hingga lima ratus tahun, menutup cangkangnya dengan kesabaran geologis. Bahkan ada ubur-ubur kecil, Turritopsis dohrnii, yang dijuluki “ubur-ubur abadi” karena mampu mengulang siklus hidupnya—kembali menjadi muda setelah dewasa.
Mereka semua memiliki satu kesamaan: hidup tanpa ambisi berlebihan. Tidak ada kecepatan yang dipuja. Tidak ada target yang dikejar habis-habisan. Tubuh mereka tidak dibangun untuk kejar tayang, melainkan untuk keberlanjutan.
Pelajaran Sunyi dari Makhluk yang Panjang Umur
Di dunia manusia yang memuja kecepatan, kura-kura dan para sepuh biologis lainnya berdiri sebagai pengingat yang nyaris subversif. Bahwa hidup yang panjang tidak selalu lahir dari produktivitas ekstrem, tetapi dari ritme yang selaras. Bahwa ketahanan sering kali datang dari kemampuan berhenti, bukan terus berlari.
Mereka tidak mengajari kita cara hidup abadi. Mereka hanya membisikkan satu hal sederhana: barangkali usia panjang adalah hadiah bagi mereka yang tidak memaksa hidup bekerja melampaui batasnya.
Dan di tengah dunia yang terus menekan gas, kura-kura tetap berjalan. Pelan. Tenang. Seolah berkata, waktu bukan untuk dikejar—ia untuk dijalani. (Arn)

