LESINDO.COM – Di negeri ini, korupsi adalah kata yang paling sering kita kutuk—namun paling rajin kita rawat. Ia kita maki di ruang publik, tapi diam-diam kita pelihara dalam laku sosial sehari-hari. Seperti komedi putar yang tak pernah berhenti, kita terus berputar antara benci dan kagum: membenci pelakunya, namun memuja hasil rampokannya.
Inilah paradoks paling telanjang dalam kebudayaan kita hari ini.
Kasta “Orang Terpandang” yang Murah Meriah
Kehormatan di negeri ini tak lagi lahir dari keteladanan, melainkan dari kepemilikan. Ia bisa dibeli secara eceran—cukup dengan mobil terbaru, rumah paling besar, atau sumbangan paling gemuk. Di hajatan, kursi paling depan otomatis disediakan bagi yang hartanya paling mencolok. Di rumah ibadah, nama penyumbang terbesar disebut dengan suara paling lantang, mengalahkan doa-doa yang lain.
Kita jarang—atau sengaja tidak mau—bertanya dari mana uang itu berasal. Pertanyaan kita lebih pragmatis: bagaimana caranya agar rezeki itu menular?
Pendidikan kita mahir mengajarkan cara menghitung laba, tetapi gagap menghitung ongkos moral. Selama harta terlihat, martabat pun dianggap sah.
Standar Ganda Moralitas
Masyarakat kita mengidap penyakit “rabun dekat” yang menahun. Kita bisa sangat bengis pada pencuri ayam di pasar, menghakiminya habis-habisan seolah ia biang kerok kerusakan negeri. Namun saat berhadapan dengan pencuri kerah putih—yang menggerogoti subsidi, merampok anggaran, dan menguras masa depan—kita mendadak santun.
Bahasa kita berubah. Mereka tak lagi disebut penjahat, melainkan orang sukses, tokoh dermawan, atau kebanggaan daerah.
Koruptor, pada akhirnya, tidak lahir dari ruang hampa. Mereka tumbuh dari rahim masyarakat yang lebih menghormati saldo rekening daripada integritas.
Ritual Agama sebagai Tameng Sosial
Di sinilah tragedi itu menjadi paling ironis. Kesalehan berubah menjadi kosmetik sosial. Cukup dengan membangun rumah ibadah, memberangkatkan beberapa orang umrah, atau menyantuni anak yatim di depan kamera, dosa struktural seolah luruh seketika.
Saya menyebutnya pencucian dosa berbasis donasi.
Sebuah simbiosis yang menjijikkan: koruptor membeli pengakuan moral, lembaga sosial membeli keberlangsungan. Di tengah transaksi itu, agama direduksi menjadi alat legitimasi, bukan kompas etika. Moralitas pun berpindah dari ranah nurani ke meja tawar-menawar.
Pendidikan yang Mencetak Tukang, Bukan Manusia
Sekolah dan kampus kita sibuk mencetak tenaga terampil, tetapi lupa membentuk manusia utuh. Orientasinya jelas: gaji besar, jabatan mentereng, jaringan kuat. Hampir tak pernah diajarkan bahwa cukup adalah keterampilan hidup, bukan kegagalan nasib.
Ketika kecerdasan dilepaskan dari nurani, dan peluang bertemu dengan keserakahan, yang lahir bukan inovasi, melainkan skema penggelapan yang rapi—lengkap dengan dalil, relasi, dan alibi.
Kesimpulan yang Pedas
Para koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka sangat cerdas membaca kita. Mereka tahu, di masyarakat ini, menjadi kaya jauh lebih dihargai daripada menjadi jujur. Mereka paham hukum bisa dinegosiasikan, dan pengampunan sosial bisa dibeli dengan amplop cokelat atau proyek amal.
Selama kita masih terpukau pada mobil mewah tetangga tanpa peduli dari mana bensinnya dibayar, selama itu pula kita sedang memesankan kursi bagi koruptor-koruptor baru di masa depan. (May)

