LESINDO.COM – Di zaman ketika kekuatan diukur dari jumlah pengikut, kekayaan, dan kemampuan menjatuhkan lawan, manusia perlahan lupa bahwa pertempuran paling menentukan justru berlangsung dalam senyap. Bukan di arena publik, melainkan di ruang batin yang sering kita hindari karena terlalu jujur untuk ditatap.
Hasan Al-Basri, seorang sufi besar dari abad awal Islam, telah lama mengingatkan: “Orang yang paling kuat bukanlah yang mampu menaklukkan musuhnya, tetapi yang mampu menaklukkan dirinya sendiri setiap hari.” Kalimat ini terasa sederhana, namun sesungguhnya adalah cermin tajam bagi manusia modern yang sibuk menguasai dunia, tetapi rapuh saat berhadapan dengan dirinya sendiri.
Menaklukkan diri bukan perkara instan. Ia bukan hasil motivasi singkat atau euforia spiritual sesaat. Ia ditempa melalui kebiasaan yang sunyi, berat, dan sering kali tidak terlihat orang lain. Dalam tradisi ruhani, ada tiga latihan utama yang bekerja seperti baja—keras, konsisten, dan membentuk watak dari dalam.
Puasa: Disiplin Sunyi atas Nafsu
Puasa sering dipersempit maknanya menjadi ritual tahunan—sekadar menahan lapar dan haus. Padahal, puasa adalah pendidikan karakter paling radikal. Saat seseorang dengan sadar menjauh dari sesuatu yang halal baginya, ia sedang melatih otoritas atas dirinya sendiri.
Di sinilah puasa menjadi latihan kekuasaan batin. Nafsu, yang biasanya memerintah dengan bahasa kebutuhan dan keinginan, tiba-tiba harus tunduk. Tubuh belajar bahwa tidak semua dorongan harus dituruti. Lidah dilatih untuk diam dari keluh kesah dan pembicaraan sia-sia. Pikiran dipaksa menyadari batas.
Puasa melahirkan manusia yang tidak mudah dikendalikan oleh godaan sesaat. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan kepuasan instan, kemampuan menunda keinginan adalah bentuk kekuatan yang langka. Orang yang mampu berkata “tidak” pada dirinya sendiri, kelak tidak mudah tunduk pada tekanan dunia.
Sepertiga Malam: Keberanian Menghadapi Diri
Jika puasa adalah latihan di siang hari, maka bangun di sepertiga malam adalah ujian paling jujur dari komitmen batin. Di pukul dua atau tiga pagi, tidak ada penonton. Tidak ada pujian. Bahkan tidak ada tuntutan sosial. Yang tersisa hanya diri, sunyi, dan Tuhan.
Tarikan selimut hangat di waktu itu bukan sekadar godaan fisik, melainkan simbol kenyamanan yang sering membuat manusia stagnan. Mereka yang mampu bangun, berdiri, dan bersujud di saat dunia terlelap sedang melatih mentalitas pejuang: mendahulukan makna di atas rasa nyaman.
Tahajud, dzikir, atau sekadar diam dalam kesadaran menjadi ruang paling jujur untuk bercermin. Di sanalah manusia berhadapan dengan ketakutan, penyesalan, dan harapan terdalamnya. Orang yang terbiasa menghadapi dirinya sendiri di malam hari akan jauh lebih tenang saat menghadapi tekanan hidup di siang hari.
Shalat Tepat Waktu: Integritas Tanpa Tawar
Shalat tepat waktu sering dianggap rutinitas, padahal ia adalah deklarasi nilai. Ia menuntut keberanian untuk berhenti—di tengah kesibukan, transaksi, rapat, atau ambisi pribadi—dan berkata: ada yang lebih utama dari semua ini.
Menjadikan shalat sebagai poros hidup berarti menolak logika dunia yang selalu meminta ditunda. Ini adalah latihan integritas tertinggi: keselarasan antara keyakinan dan tindakan. Orang yang konsisten menjaga shalat tepat waktu sedang membangun struktur batin yang kokoh—ia tahu prioritasnya dan tidak mudah digoyahkan keadaan.
Dari kebiasaan inilah lahir ketenangan yang tidak bergantung pada situasi. Masalah tetap datang, tekanan tetap ada, tetapi jiwa tidak mudah runtuh karena ia telah terikat pada Sumber yang melampaui segalanya.
Kekuatan yang Tidak Riuh
Pada akhirnya, ketangguhan sejati tidak pernah riuh. Ia tidak memerlukan pengakuan. Ia tumbuh pelan, dalam kesunyian, melalui disiplin yang sering tidak terlihat. Menaklukkan lapar, menaklukkan kantuk, dan menaklukkan malas adalah kemenangan kecil yang terus berulang—namun justru di situlah lahir manusia yang besar.
Mereka yang menang atas dirinya sendiri tidak selalu terlihat perkasa. Tetapi saat hidup menekan dari segala arah, merekalah yang tetap berdiri, tenang, dan tahu ke mana harus bersandar. Sebab mereka telah menaklukkan pertempuran yang paling berat: pertempuran melawan diri sendiri.(mac)

