Oleh: Tilotama
LESINDO.COM – Tidak ada anak yang bangun pagi dengan niat menjadi korban.
Yang ada hanyalah anak-anak yang belajar percaya—lalu kepercayaannya dipelintir secara perlahan, rapi, dan nyaris tak terlihat.
Child grooming bukan kejahatan yang datang dengan teriakan atau paksaan. Ia hadir seperti angin sore: sejuk, ramah, dan membuat lengah. Pelakunya jarang tampak mengancam. Ia bisa guru yang perhatian, pelatih yang sabar, kerabat yang “baik sekali”, atau sosok asing di dunia digital yang pandai mendengar keluh kesah anak.
Di sinilah ironi terbesar terjadi: kejahatan paling berbahaya justru tumbuh dari rasa aman yang salah tempat.
Kejahatan yang Tidak Pernah Datang Seketika
Grooming adalah proses, bukan peristiwa tunggal. Ia dibangun dari potongan-potongan kecil: hadiah tanpa alasan, pujian berlebihan, empati yang tampak tulus, lalu rahasia demi rahasia. Pelaku tidak langsung menyentuh tubuh anak—ia lebih dulu menguasai pikirannya.
Kalimat seperti “Kamu lebih dewasa dari teman-temanmu” atau “Aku satu-satunya yang benar-benar mengerti kamu” adalah pintu masuk yang sering kali dianggap sepele. Padahal di situlah manipulasi mulai bekerja: memisahkan anak dari orang dewasa yang seharusnya melindungi mereka.
Orang tua sering kali baru sadar ketika semuanya terlambat. Ketika anak tiba-tiba berubah: pendiam, mudah marah, atau justru terlalu bergantung pada satu sosok tertentu. Namun perubahan itu sering ditafsirkan sebagai “fase remaja” atau “pengaruh gawai”.
Padahal, bisa jadi itu adalah bahasa tubuh dari ketakutan yang tak berani diucapkan.
Diam Anak, Bisingnya Ancaman
Dalam banyak kasus, anak sebenarnya ingin bercerita. Tetapi mereka menimbang risiko: dimarahi, disalahkan, atau dianggap berlebihan. Pelaku grooming sangat memahami ini. Mereka menanamkan ketakutan lebih dulu.
“Kalau orang tuamu tahu, mereka pasti marah.”
“Ini salah kamu juga.”
“Kita bisa hancur kalau ini ketahuan.”
Maka anak memilih diam. Diam yang bukan berarti aman, melainkan terjebak.
Di sinilah peran orang dewasa diuji. Bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai ruang aman emosional. Anak tidak membutuhkan orang tua yang serba tahu, melainkan orang tua yang bisa dipercaya.
Keluarga dan Ilusi Kontrol
Banyak keluarga merasa telah cukup melindungi anak dengan aturan ketat: gawai dibatasi, pergaulan diawasi, sekolah dipilih dengan selektif. Namun grooming sering terjadi bukan karena kurangnya aturan, melainkan kurangnya komunikasi yang setara.
Dalam budaya yang menempatkan orang tua selalu benar dan anak harus patuh, percakapan sering berubah menjadi monolog. Anak mendengar, tetapi tidak berbicara. Ketika sesuatu yang janggal terjadi, mereka tidak tahu harus mulai dari mana.
Ironisnya, keluarga yang tampak “rapi” dari luar justru bisa menjadi ruang paling sunyi bagi anak.
Masyarakat yang Terlalu Percaya
Grooming juga bertahan karena masyarakat gemar menutup mata. Hubungan orang dewasa–anak yang terlalu intim sering dibungkus dengan alasan “kedekatan”, “niat baik”, atau “sudah seperti keluarga”.
Kita enggan curiga, karena curiga terasa tidak sopan. Kita takut salah menuduh, lalu memilih diam. Padahal kewaspadaan bukan tuduhan—ia adalah bentuk kepedulian.
Sejarah panjang kejahatan terhadap anak menunjukkan satu pola berulang: selalu ada tanda-tanda, tetapi sering diabaikan.
Membuka Percakapan, Bukan Memburu Pengakuan
Pencegahan grooming tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari bahasa. Dari cara orang dewasa berbicara kepada anak—dan lebih penting lagi, cara mereka mendengarkan.
Anak perlu tahu satu hal sejak dini:
bahwa tidak ada rahasia dengan orang dewasa lain yang harus disimpan dari orang tuanya.
bahwa rasa tidak nyaman adalah alarm, bukan kelemahan.
bahwa berkata “tidak” bukan durhaka.
Percakapan ini tidak harus dramatis. Justru ia perlu hadir dalam keseharian, tanpa nada interogasi, tanpa ancaman.
“Kalau suatu hari kamu bingung atau takut, kamu boleh cerita. Apa pun itu.”
Kalimat sederhana ini bisa menjadi benteng terkuat.
Penutup: Tanggung Jawab yang Tak Bisa Dialihkan
Child grooming bukan hanya kegagalan individu, tetapi kegagalan kolektif. Ia tumbuh di celah antara keluarga yang terlalu sibuk, sekolah yang terlalu fokus pada prestasi, dan masyarakat yang terlalu percaya bahwa kejahatan selalu datang dari orang asing.
Padahal, ancaman sering duduk paling dekat.
Melindungi anak bukan soal menciptakan dunia yang steril, melainkan membekali mereka dengan keberanian untuk berbicara dan keyakinan bahwa mereka akan didengar.
Karena ketika anak diam, sering kali bukan karena tidak ada yang salah—
melainkan karena tidak ada yang benar-benar siap mendengarkan.

